Mengenang Advent Bangun, dari Karateka, Aktor Hingga Jadi Pendeta

Advent Bangun (Foto: Instagram)
Advent Bangun (Foto: Instagram)

Jakarta-SuaraNusantara

Aktor laga Advent Bangun meninggal dunia dalam usia 66 tahun di RSUP Fatwamati, Jakarta Selatan pada Sabtu (10/2/2018) pukul 02.35 WIB. Aktor laga kawakan itu diketahui memiliki riwayat penyakit diabetes yang mengakibatkan dirinya mengalami gagal ginjal hingga harus cuci darah.

“Diabetes berdampak kepada komplikasi ginjal dan dia harus cuci darah,” ujar keponakan Advent Bangun, Harun Tambun, di rumah duka di Jalan Kecapi II, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (10/2/2018).

Advent sendiri baru tahu dirinya menderita diabetes sejak 10 bulan terakhir. Ternyata diabetes yang dideritanya sudah parah hingga menyebabkan komplikasi penyakit lainnya. Diduga, kegemaran Advent mengkonsumsi minuman bersoda menjadi penyebab diabetes yang dia derita.

Banyak orang terkejut melihat kondisi almarhum saat tutup usia. Tubuhnya yang dulu besar dan kekar sekarang nyaris tinggal tulang. Tidak sedikitpun tersisa bekas-bekas kejayaan masa mudanya sebagai karateka kelas dunia.

Dilahirkan dengan nama Thomas Advent Perangin-angin Bangun  di Kabanjahe, Sumatera Utara, pada 12 Oktober 1952, nama Advent Bangun selamanya akan dikenang sebagai aktor film laga, sejajar denga Barry Prima, George Rudy dan Ratno Timoer.

Namun banyak yang tidak tahu bahwa almarhum sebenarnya seorang atlet nasional. Dia adalah karateka juara nasional pada tahun 1971,  dan selama 12 tahun berikutnya berturut turut terus menjadi juara satu nasional sampai dia hijrah untuk fokus meniti karir sebagai pemain film.

Awal mula ketertarikannya pada dunia karate punya cerita tersendiri. Bermula pada tahun 1968, anak bungsu dari delapan bersaudara itu menginjakkan kakinya di pelabuhan Tanjung Priok bersama seorang kakak perempuannya.

Baru saja hendak melangkah keluar pelabuhan, 30 pelaut yang sedang nongkrong di area pelabuhan langsung menggoda kakaknya. Darah Advent mendidih. Dia marah dan berkelahi melawan 30 pelaut tersebut. Tentu saja dia babak belur!

Beruntung ketiga puluh pelaut itu tidak meneruskan aksi pengeroyokan mereka, namun dari situlah timbul dendam. Dia mulai berlatih karate.

Tahun 1970, Advent, atau yang akrab dipanggil Johni, sudah memulai debutnya dalam kejuaraan nasional. Setahun kemudian ia sudah masuk dalam delapan besar kejurnas kumite (pertarungan bebas) perorangan.

Prestasinya terus meningkat, bukan saja akhirnya mampu menjuarai kejuaran nasional, tapi juga merambah ke tingkat dunia. Ia pernah meraih juara tiga di Asia Pasific II tahun 1976, dan juara tiga Asia Pacific V tahun 1983 di Nagoya, Jepang untuk kelas 80 kilogram ke atas.

Pada tahun 1981, Advent masuk lima besar kejuaraan karate pada World Games di Santa Clara, Amerika Serikat. Bisa dibilang, inilah puncak prestasinya sebagai karateka, masuk lima besar dunia, meski tidak berhasil meraih medali.

Melalui karate, ia pernah menjelajahi Paris, Roma, Inggris, Amerika, Australia, Jerman Barat, Belanda, dan banyak lagi.

Melalui karate pula, Advent berkenalan dengan dunia film. Tubuhnya yang besar dengan wajah tampan namun terlihat sangar, menarik minat produser film untuk merekrutnya sebagai bintang laga.

Film pertamanya adalah “Rajawali Sakti” pada tahun 1976, kemudian menjadi pemeran utama bersama dalam film “Satria Bambu Kuning”  di tahun 1985 dan “Dendam Jagoan” tahun 1986. Namun mungkin pecinta film nasional lebih mengenangnya saat berperan sebagai si Buta dalam film “Si Buta Lawan Jaka Sembung” yang dirilis tahun 1983, serta “Si Buta dari Goa Hantu” yang rilis tahun 1985.

Tercatat sedikitnya dia telah bermain dalam 53 film nasional, sumber lain menyebut sedikitnya 60 film telah dia mainkan. Film terakhir yang dia mainkan adalah “Amrin Membolos” tahun 1996.

Advent sempat juga bermain dalam sinetron, seperti Mahkota Mayangkara (1992), Mahkota Majapahit (1993), Kaca Benggala (1993), dan Singgasana Brama Kumbara (1995).

Namun kesuksesan karir, baik sebagai atlet karate maupun bintang film membuat Advent Bangun perlahan berubah. Dari sosok pemuda kampung yang sederhana menjadi manusia berhati angkuh. Beruntung, sang istri, Lois Riani Amalia Sinulingga, setiap hari selalu berdoa agar Tuhan mencairkan hati suaminya yang telah lama mengeras.

Suatu hari Advent pun tersadar. Dia menjadi lebih relijius dan menenggelamkan diri dalam gereja, bahkan belakangan menjadi pendeta dengan nama barunya Pendeta Muda Thomas Bangun.

Sejak dirawat hingga mengembuskan napas terakhir, jemaat dari gerejanyalah yang secara rutin sering datang menjenguk.

Selamat jalan Advent Bangun ….

Penulis: Askur/dari berbagai sumber