BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi Nias Selatan Terendah di Kepulauan Nias

Kepala BPS Nias Selatan Elly Suharyadi, SST. M.Si (Foto: Wilson Loi)
Kepala BPS Nias Selatan Elly Suharyadi, SST. M.Si
(Foto: Wilson Loi)

Nias Selatan-SuaraNusantara

Badan Pusat Statistik (BPS) Nias Selatan mencatat Kabupaten Nias Selatan sebagai daerah yang terendah percepatan pertumbuhannya dibanding kabupaten dan kota lain di Kepulauan Nias.

Percepatan pertumbuhan perekonomian Nias Selatan hanya  4,46%, masih di bawah Kabupaten Nias Barat dengan pertumbuhan perekonomian mencapai 4,87%. Sementara Kabupaten Nias Utara berada pada peringkat pertama dengan persentase pertumbuhan perekonomian 5,49%, disusul Kabupaten Nias 5,43% dan Kota Gunungsitoli 5,39%.

Namun di sisi lain, menurut Kepala BPS Nias Selatan Elly Suharyadi, SST., M.Si, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nias Selatan malah tertinggi di Kepulauan Nias. Hal dikarenakan luar wilayah dan jumlah penduduk Nias Selatan lebih besar.

PDRB sendiri merupakan kegiatan-kegiatan ekonomi yang mempunyai nilai tambah di masing-masing lapangan usaha. Perhitungan PDRB dilakukan dengan beberapa pendekatan, di antaranya pendekatan lapangan usaha, pendekatan produksi, pendekatan penggunaan dan pengeluaran, dan pendekatan pendapatan.

“PDRB Nias Selatan tertinggi se-Kepulauan Nias. Nilai konstan dipakai tahun dasar pada tahun 2010 sebagai pendekatan. PDRBnya (dalam juta rupiah) mencapai 3.506.031,4 pada tahun 2015, dan terkecil Nias barat hanya mencapai 1. 017.796,9 untuk tahun 2015.

Elly menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Nias Selatan sebenarnya tetap meningkat. Dari tahun 2011 sebesar 4,29%, meningkat pada tahun 2012 menjadi 5,18%. Tahun 2013 4,65%, tahun 2014 4,32% dan tahun 2015 4,46%,” ujar Elly Suharyadi saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16/3/2017).

Menurut Elly, pergerakan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Nias Selatan hanya berkutat pada sektor pertanian, padahal beberapa sektor lainya seperti   sektor industri harus dapat menopang sektor pertanian tersebut sehingga percepatan perekonomian dapat meningkat secara signifikan. Bila tidak maka pertumbuhan perekonomian itu akan pincang dan melambat karena tidak didukung oleh sektor lainnya.

“Kalau di daerah lainya usaha perdagannya lebih banyak, begitu juga dengan indutrinya. Sementara Nias Selatan masih minim, lebih beratnya ke pertanian saja. Makanya supaya pergerakan pertumbuhan itu lebih cepat, bagusnya ada perimbangan,” jelasnya.

Untuk mempercepat pertumbuhan perekonomian tersebut, sambung Elly, sarana dan prasarana seperti jalan terutama harus tersedia dengan baik, sehingga harga (hasil produksi masyarakat) masyarakat dapat bersaing karena didukung transportasi yang baik.

“Sarana jalan ini efeknya sangat besar. Misalnya saja bila sarana ini tidak efektif, menjual produk masyarakat itu bagaimana, karena mereka tentunya menjual produknya ke kota kan? Maka itu harus di penuhi,” imbuh Elly Suharyadi.

Namun secara ilmiah, kata Elly, faktor penyebab cepat atau lambatnya pertumbuhan perekonomian Nias Selatan dibanding kabupaten/kota lain di Kepulauan Nias, yang lebih tahu adalah para peneliti. Sedangkan BPS lebih kepada ‘pemotretan’ data statistiknya saja.

“Yang lebih memahami itu adalah para peneliti dan tokoh-tokoh ilmiah (ilmuwan),” kata Elly.

Elly Suharyadi berharap ke depannya pemerintah daerah dapat meningkatkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Selain itu, sumber daya manusia (SDM) dan sektor kesehatan juga perlu ditingkatkan.

Penulis: Wilson Loi