Menperin Ingatkan Komitmen Investasi Pelaku Industri Pengolahan Susu

Menperin Airlangga Hartarto (nomor dua dari kiri) pada peresmian Manufacturing Unit PT. GreenfieldsIndonesia di Desa Palaan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (4/5) siang. (Foto: Istimewa)
Menperin Airlangga Hartarto (nomor dua dari kiri) pada peresmian Manufacturing Unit PT. GreenfieldsIndonesia di Desa Palaan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (4/5) siang. (Foto: Istimewa)

Kabupaten Malang-SuaraNusantara

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Menperin) meminta pelaku industri pengolahan susu di dalam negeri untuk menjalankan komitmen investasinya sehingga akan berkontribusi dalam menumbuhkan sektor manufaktur dan perekonomian nasional.

“Selain memenuhi kebutuhan produk susu olahan bagi masyarakat, ekspansi usaha akan menimbulkan multiplier effectyangakan mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tuturAirlangga pada peresmian Manufacturing Unit PT. GreenfieldsIndonesia di Desa Palaan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (4/5/2017).

Untuk itu, Menperin memberikan apresiasi kepada PT. Greenfields Indonesia yang telah mendirikan pabrik baru di Kabupaten Malang serta memproduksi berbagai produk makanan dan minuman berbasissusu segar. “Ini patut dicontoh, pabriknya terintegrasi dengan peternakan sapi dan proses produksinyatelah berstandar internasional,” ujarnya.

Pabrik baru yang dibangun tersebut seluas tujuh hektare dengan nilai investasi sebesar Rp 335miliar dan saat ini menambah tenaga kerja sekitar 200 orang. Kapasitas produksi dari ekspansi inimampu mengolah susu segar mencapai 72 juta liter per tahun yang dihasilkan oleh 20 ribu ekorsapi perah. Capaian ini akan mendukung posisi Greenfields sebagai merek susu segar nomor satu diIndonesia.

Menurut CEO of AustAsia Dairy Group, Edgar Collins, Greenfields telah menghasilkan produk susu segar dan olahannya untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang masyarakat Indonesia sejak tahun 2000. “Pabrik baru Greenfields di Desa Palaan ini akan meningkatkan produksi susu segar dalam negeri dan mendukung usaha meningkatkan konsumsi susu per kapita di Indonesia,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, perusahaan bertekad akan meningkatkan penetrasi brand Greenfields ke pasar luar negeri. Saat ini produk Greenfields telah diekspor ke Hong Kong, Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina, Myanmar dan Kamboja.

Greenfields Indonesia memiliki fasilitas peternakan sapi perah dan pengolahan susu terintegrasi yang terbesar di Asia Tenggara. Dengan 100 persen susu segar yang berasal dari peternakan sendiri tersebut, perusahaan ini menjadi salah satu produsen olahan susu di Indonesia yang secara total tidak bergantung pada hasil susu impor. Bahkan, pabrik baru ini ramah lingkungan karena menggunakan cangkang kelapa sawit dan cangkang kemiri sebagai bahan bakar untuk menghidupkan boiler.

Sementara itu, Dirjen Industri Agro Panggah Susanto menyampaikan, industri pengolahan susu merupakan salah satu bagian dari subsektor industri makanan dan minuman. Subsektor inisebagai kelompok industri strategis dan mempunyai prospek yang cukup cerah untuk dikembangkan.

Hal tersebut ditunjukkan dengan laju pertumbuhan industri makanan dan minuman tahun 2016 sebesar 8,46 persen, diatas pertumbuhan industri pengolahan non migas sekitar 4,42 persen.“Peran subsektor industri makanan dan minuman pada PDB industri non migas jugaterbesar dibandingkan subsektor lainnya, yaitu mencapai 37,42 persen pada tahun 2016,” imbuhnya.

Dari segi perdagangan internasional, lanjut Panggah, sumbangan nilai ekspor produk makanan dan minuman termasuk minyak kelapa sawit pada tahun 2016 mencapai USD 26,39 miliar. Dengan imporpada tahun yang sama sekitar USD9,65 miliar, sehingga subsektor industri inimengalami neraca perdagangan yang positif. Disamping itu, perkembangan realisasi investasisubsektor ini terus mengalami kenaikan hingga Rp 32triliun untuk PMDN dan USD2,1miliaruntuk PMA di tahun 2016.

Namun demikian, yang perlu diperhatikan adalah tingkat konsumsi susu perkapita masyarakat Indonesia saat ini rata-rata 12,10 kg/kapita/tahun setara susu segar. Tingkat konsumsi tersebut masih di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia yang mencapai 36,2kg/kapita/tahun, Myanmar 26,7 kg/kapita/tahun, Thailand 22,2 kg/kapita/tahun, dan Philipina 17,8 kg/kapita/tahun.

”Kondisi tersebut menjadi peluang dan sekaligus tantangan bagi usaha peternakan sapi perah di dalam negeri untuk meningkatkan produksi dan mutu susu segar, sehingga secara bertahapdapat memenuhi kebutuhan bahan baku susu untuk industri pengolahan susu di dalam negeri,” papar Panggah.

Penulis: Kar