Tidak Lakunya Ketupat Lebaran di Sudan

Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah di Khartoum, Republik Sudan (Foto: Dok. Kemenlu)
Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah di Khartoum, Republik Sudan (Foto: Dok. Kemenlu)

Jakarta-SuaraNusantara

Perayaan Idul Fitri 1438 Hijriah di Khartoum, Republik Sudan, berlangsung Minggu (25/6/2017) kemarin, dan turut dirayakan secara khidmat dan meriah oleh sekitar 500 warga Indonesia yang berada di negara tersebut.

Rata-rata warga Indonesia di Sudan terdiri dari keluarga kedutaan, pasukan Formed Police Unit (FPU) IX, pasukan Indonesian Battalion (INDOBAT) III, mahasiswa, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) serta beberapa Friends of Indonesia.

Perayaan Idul Fitri ini sebagaimana biasanya pelaksanaannya dipusatkan di Wisma Duta Besar Republik Indonesia, yang beralamat di Jalan Khartoum II No. 68, Khartoum State, Republik Sudan.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Khartoum dibantu oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Khartoum pun menyediakan banyak makanan khas Indonesia bagi para undangan yang hadir.

Menu spesial kali ini terdiri dari opor ayam, sambel kentang hati, kering tempe, teri kentang, semur daging, telur balado, sayur daun singkong, sayur nangka serta tidak ketinggalan adalah kerupuk, sambal dan nasi.

Namun ada satu hal janggal yang berbeda dari kebiasaan masyarakat Indonesia di tanah air dalam merayaan Idul Fitri. Orang-orang Indonesia di Sudan menghilangkan menu wajib ketupat sebagai makanan khas hari raya.

Ternyata hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia di Sudan ternyata lebih memilih nasi agar merasa lebih kenyang saat selesai makan.

“Dalam beberapa tahun pelaksanaan perayaan Idul Fitri di Wisma Duta Besar RI Khartoum, selalu menyisakan banyak porsi ketupat lebaran. Oleh karena itulah sudah dua tahun terakhir, menu ketupat lebaran telah hilang dalam deretan menu perayaan hari raya Idul Fitri masyarakat Indonesia di Sudan, karena pertimbangan tidak laku,” ujar Yuli Burhanuddin selaku ketua DWP Khartoum.

Penulis: Cipto