Siapa Mau Barter Barang dengan Setan di Gunung Lawu?

Gunung Lawu
Gunung Lawu

Jakarta-SuaraNusantara

Gunung Lawu yang terletak di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur ini sangat sarat akan mitos, misteri dan legenda, termasuk keberadaan Pasar Setan yang kerap ditemui para pendaki gunung.

Gunung Lawu memang salah satu gunung yang terkenal angker di Indonesia. Gunung ini seolah hidup dan bernyawa, seolah gunung ini bisa menentukan siapa saja yang bakal diterima dengan baik atau ditolak kedatangannya.

Hingga sekarang, banyak orang percaya bahwa burung Jalak Gading sering muncul dan memberi petunjuk jalan menuju puncak Gunung Lawu kepada para pendaki yang memiliki tujuan baik. Sedangkan, apabila pendaki memiliki niatan buruk, burung bernama Kyai Jalak itu tidak akan merestui mereka. Akibatnya pendaki yang memiliki niatan buruk akan terkena nasib naas.

Kehadiran Pasar Setan di Gunung Lawu sudah tidak asing lagi di telinga para pendaki, sebuah pasar yang tak terlihat dengan kasat mata ini berada di jalur Candi Cetho yang terletak di lereng Gunung Lawu.

”Jalur Candi Cetho ini jalur yang paling pendek dan cepat menuju puncak Lawu. Tetapi  jalur pendek ini juga jalur yang paling berbahaya karena tanjakan di jalur ini sangat terjal dan ada jurang curam di pinggiran jalan,” tutur Yulius, salah seorang pendaki gunung asal Jakarta.

Yulius yang semasa kuliah di Universitas Nasional (Unas) bergabung dengan organisasi pecinta alam di kampusnya ini mengungkapkan, kabut tebal juga sering turun membuat jarak pandang menjadi begitu pendek di jalur pendakian melalui Candi Cetho. “Kalau sudah begitu, resiko kesasar (tersesat) besar sekali,” katanya.

Belum lagi kepercayaan yang mengatakan bahwa jalur ini adalah perlintasan alam ghaib dan kehadiran pasar setan. Oleh sebab itulah, mengapa jalur ini berbahaya dan tidak begitu favorit. Para pendaki lebih senang memilih dua jalur lainnya, yaitu jalur Cemoro Kandang dan jalur Cemoro Sewu.

Kembali ke pembicaraan tentang Pasar Setan, sebagian pendaki mengaku pernah mendengar suara bising, seakan berada di pasar, saat melewati sebuah lahan tanah yang berada di lereng Gunung Lawu. Terdengar pula suara yang sedang menawarkan dagangannya dalam bahasa Jawa: ‘Arep tuku opo mas?’ (Mau beli apa mas?).

Konon, apabila mendengar suara-suara aneh tersebut, maka kita harus membuang salah satu barang yang kita punya, sebagaimana orang yang sedang bertransaksi dengan cara barter. “Bisa juga dengan cara membuang beberapa keping uang receh/uang logam,” ujar Yulius.

Kemudian petiklah beberapa lembar daun apa saja yang terlihat tumbuh di sekitar sana. Simpan daun itu selama berada di area Gunung Lawu. Dengan begitu diyakini kita bakal selamat dan tidak akan diganggu mahluk halus lagi selama berada di sana. Percaya?

Penulis: Yono/dari berbagai sumber