Presiden Akan Tindak Lanjuti Laporan Semester I BPK

Presiden Jokowi menerima laporan Laporan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2017 dari Pimpinan BPK, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (10/10) pagi. (Foto: Ist)
Presiden Jokowi menerima laporan Laporan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2017 dari Pimpinan BPK, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (10/10) pagi. (Foto: Ist)

Jakarta-SuaraNusantara

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Moermahadi Soerja Djanegara, mengatakan Presiden Jokowi akan menindaklanjuti  Laporan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I Tahun 2017.

Dalam laporan tertulis BPK yang diserahkan oleh Pimpinan dan Anggota BPK langsung kepada Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (10/10/2017) siang, disebutkan dari 687 laporan hasil pemeriksaan lembaga pemerintah terdapat 14.997 permasalahan yang perlu ditindaklanjuti.

Salah satu contoh permasalahan yang ditemukan, adanya koreksi perhitungan bagi hasil migas pada SKK karena ada pembebanan biaya yang tidak semestinya diperhitungkan dalam cost recovery senilai 956,04 juta dollar AS atau Rp12,73 triliun.

Selain itu, dalam laporan itu juga disebutkan ada 17 Kontrak Kerja Sama belum menyelesaikan kewajiban pajaknya sampai tahun 2015 senilai 209,25 juta dollar AS atau setara Rp 2,78 triliun.

Sementara terkait penyampaian laporan keuangan instansi pemerintah, menurut data BPK, 91 persen dari target 85 persen pemerintah provinsi memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP); pemerintah kabupaten sejumlah 66 persen dari target 60 persen; dan pemerintah kota sejumlah 77 persen dari target 65 persen.

Terkait 447 temuan yang diindikasikan pidana dengan nilai Rp44,74 triliun sepanjang 2003 hingga Juni 2017, Moermahadi Soerja Djanegara mengatakan, bahwa kalau ada hubungannya dengan temuan kita yang ada unsur pidana korupsi itu oleh BPK diserahkan kepada kepolisian, ke KPK, dan Kejaksaan.

“Nah semua temuan ada indikasi itu kita serahkan, masalah tindak lanjutnya nanti itu tinggal kita menanyakan saja, tapi kita bisa tidak punya alat untuk mengeksekusi. Jadi, kalau ada perbedaan, kok ini tidak ditindaklanjuti, kita enggak bisa. Kita hanya melaporkan saja kenapa ini tidak ditindaklanjuti gitu,” jelas Moermahadi.

Penulis: Yon K