Bentuk Uang Rp. 2.000 dan Rp. 20.000 Mirip, Awas Terkecoh

Foto: Net
Foto: Net

Jakarta-SuaraNusantara

Suatu malam, Lukman (46), warga Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, bergegas menaiki angkot 04 di Terminal Pasar Minggu. Setelah seharian bekerja sebagai office boy di sebuah lembaga kursus, duda 3 anak yang belum genap sebulan ditinggal mati istrinya itu ingin secepatnya pulang ke rumah.

Sesampainya di Halte Taman dekat Jalan Agung Raya 1, Lukman pun turun. Diberikannya selembar uang Rp. 50.000 kepada sopir. Sopir pun memberikan kembalian dan langsung tancap gas.

Lukman menghitung uang di tangannya. Tarif perjalanan Pasar Minggu-Lenteng Agung Rp. 4.000, sehingga kembalian tersebut bernilai Rp. 46.000, dan langsung dilipat ke dalam dompet.

Namun alangkah terkejutnya Lukman manakala keesokan paginya, uang di dompetnya hanya berjumlah Rp. 10.000, terdiri dari 2 lembar pecahan Rp. 2.000, 1 lembar Rp. 5.000, dan 1 lembar Rp. 1.000.

Sempat mengira uangnya dicuri oleh salah seorang anaknya, Lukman segera menyadari bila bentuk uang Rp. 2.000 dalam dompetnya sebenarnya mirip dengan uang Rp. 20.000.

“Jadi bisa saja sopirnya niat jahat sengaja menipu saya. Dia kasih saya dua lembar dua ribuan yang bentuknya mirip dengan dua puluh ribu. Atau bisa juga dia sendiri salah kasih, karena penerangan dalam angkotnya kan juga remang-remang. Saya nggak mau nuduh oranglah, takut nambah dosa,” ujar Lukman.

Bukan cuma Lukman yang mengalami kejadian tadi. Kesalahan mengidentifikasi pecahan Rp. 2.000 dan Rp. 20.000 baru juga kerap dialami warga lain. Jika siang hari, dengan mudah warga bisa membedakan nilai keduanya. Tapi bila malam hari di tempat yang agak gelap, barulah kesalahan bisa terjadi.

Uang kertas emesi baru keluaran tahun 2016-2017, memang nyaris sama antara Rp 2.000 dengan Rp 20.000. Sudah banyak orang yang terkecoh.

Bagi pedagang yang sering melakukan transaksi di malam hari atau menjelang pagi, pastinya sering tertipu atau setidaknya susah untuk membedakannya. Tak jarang ada pembeli yang kurang jujur, atau pedagang salah memberi kembalian.

Ada juga pengendara motor yang salah memberikan Rp. 20.000 sebagai biaya parkir liar di pinggir jalan yang seharusnya hanya Rp. 2.000. Rugi akhirnya.

Bukan cuma sekali ini Bank Indonesia mengeluarkan uang yang bentuknya mirip. Dulu pun masyarakat sering terkecoh dengan bentuk uang Rp. 10.000 dan Rp. 100.000 yang hampir sama.

“Seharusnya Bank Indonesia selaku pencetak uang rupiah memberikan perhatian pada bentuk uang yang disebar ke masyarakat. Jangan dibuat mirip karena hal itu bisa menyusahkan masyarakat dalam membedakannya,” tutur Direktur Pusat Kajian Ekonomi Indonesia (PKEI), Barata, di Jakarta, Selasa (17/10/2017).

Barata mencontohkan, bila satu pecahan uang sudah bergambar pahlawan nasional mengenakan jas, maka pecahan uang lainnya jangan bergambar pahlawan nasional berjas lagi.

“Kan bisa dipilih pahlawan nasional yang memakai surban, peci, atau baju daerah. Jadi masyarakat mudah membedakannya,” tutur Barata.

Bisa juga, lanjut Barata, bila satu uang sudah memakai gambar pahlawan, maka uang lainnya jangan menggunakan gambar pahlawan, tetapi bisa menggunakan gambar hewan, maskot wisata suatu daerah, gambar gunung, produk kebanggaan nasional, dan sebagainya.

“Kalau perlu memakai gambar atlet yang pernah berjasa mengharumkan nama negara. Pahlawan kan tidak melulu harus orang yang berjuang di zaman perang,” tegas Barata.

Demikian pula dalam hal pemilihan warna. Warna antar pecahan mata uang harus dominan perbedaannya. Barata mencontohkan pecahan Rp. 10.000 dan Rp. 100.000 edisi perdana yang dicetak beberapa tahun lalu, dimana keduanya memiliki warna merah yang nyaris sama, sehingga masyarakat sering terkecoh.

Saat ini, Indonesia memiliki sebelas pecahan baru yang menampilkan 12 wajah pahlawan yang berbeda dari sebelumnya. Para pahlawan yang menghiasi uang baru ini adalah proklamator Bung Karno dan Bung Hatta yang ditampilkan bersama dalam pecahan Rp 100.000.

Kemudian Djuanda Kartawidjaja pada pecahan Rp 50.000, Sam Ratulangi dalam pecahan Rp 20.000, Frans Kaisepo dalam uang kertas pecahan Rp 10.000.

Lalu KH. Idham Chalid pada uang Rp 5.000, Mohammad Hoesni Thamrin pada uang Rp 2.000, Tjut Meutia pada uang Rp 1.000.

Untuk uang logam, ditampilkan I Gusti Ketut Pudja untuk uang Rp 1.000, TB Simatupang pada uang Rp 500, Dr. Tjiptomangunkusumo pada uang Rp 200 dan Herman Johannes pada uang Rp 100.

Menurut Barata, dari segi mutu, uang keluaran terbaru ini sebenarnya termasuk canggih, karena dilengkapi teknologi color shifting, rainbow feature, latent image, ultra violet feature, tactile effect, dan rectoverso, yang membuat uang menjadi lebih aman dari pemalsuan.

“Uang baru juga ramah bagi penyandang disabilitas karena didesain dengan kode tuna netra berupa efek rabaan. Tapi kekurangannya ya itu tadi, bentuknya ada yang mirip-mirip sehingga masyarakat kerap terkecoh. Saya imbau BI supaya lebih memerhatikan masalah ini di kemudian hari,” pungkas Barata.

Penulis: Cipto