Di Kota Pahlawan, Mereka Bermula

Panbers (Foto: Net)
Panbers (Foto: Net)

Jakarta-SuaraNusantara

Panjaitan Bersaudara (Panbers) adalah salah satu legenda musik Indonesia. Meski dari segi produktifitas dan rekor penjualan album masih kalah dibanding band legendaris Koes Plus, namun tidak ada yang menyangkal sumbangsih kelompok musik ini bagi perkembangan musik pop tanah air.

Didirikan pada tahun 1969 di Kota Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur. Panbers terdiri dari empat kakak beradik,  Hans Pandjaitan (lead guitar),  Benny Pandjaitan (vokal dan rhythm guitar), Doan Pandjaitan (bass dan keyboard), serta Asido Pandjaitan (drum).

Keempat bersaudara ini merupakan anak dari pasangan Drs. J.M.M. Pandjaitan, S.H dan Bosani S.O. Sitompul. Darah seni mengalir dari kedua orangtua. Meski bukan pemusik, namun sang ayah pandai bermain biola, sementara si ibu senang bermain piano.

Hans lahir di Garut, Jawa Barat pada 24 Januari 1946, Porbenget Mimbar Mual Hamonangan Pandjaitan (Benny) dilahirkan 14 September 1948 di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Porbulus Domo Pangidoan Pandjaitan (Doan) lahir pada 15 Juli 1950 di Sibolga, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dan Asido Rohana Pandjaitan (Asido) dilahirkan di Jakarta, 1 Februari 1951.

Sebenarnya mereka memiliki seorang saudara perempuan bernama Natasya Pandjaitan, namun sang adik bungsu ini wafat di tahun 1973 dalam usia 16 tahun karena sakit demam berdarah.

Masa kecil mereka dilalui berpindah-pindah mengikuti penugasan sang ayah yang bekerja sebagai bankir dan akhirnya menjadi salah satu Direktur Bank Rakyat (BRI). Hingga kemudian mereka sekeluarga pindah ke kota Palembang, Sumatera Selatan. Di kota inilah tempat mereka dibesarkan dan awal kegiatan bermusik Panbers bermula.

Di Palembang inilah lahir band bocah beranggotakan Benny Panjaitan bersama saudaranya yang mereka beri nama Tumba Band. Nama ini diambil dari bahasa Batak yang artinya “irama menari”

Saat itu mereka terinspirasi pada group musik Koes Bersaudara (belakangan menjadi Koes Plus) yang sedang populer di awal dekade 1960-an.

Ayah mereka pun cukup mendukung keinginan anak-anaknya. Ia menganggap daripada anaknya main-main ke luar rumah, lebih baik bermusik sehingga bisa diawasi. Band bocah ini mereka lakoni selama beberapa tahun di sela-sela kesibukan bersekolah.

Setelah lebih kurang 15 tahun di Palembang, tahun 1965 ayah mereka dimutasi ke Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan bermusik yang telah dirintis sejak di Palembang diteruskan di kota ini. Pada tahun 1969, Tumba Band resmi berganti nama menjadi Panbers.

Menurut kisahnya sebutan Panbers dibuat secara spontan saja. Mereka melihat Koes Bersaudara yang berarti Koeswoyo Bersaudara. Mereka menyebut Panbers untuk band ini sebagai singkatan dari Panjaitan bersaudara.

Di Surabaya mereka kerap bermain di berbagai panggung hiburan dan acara-acara pesta dengan bayaran seadanya dan tanpa berpikir popularitas. Mereka pun belum berkarya sama sekali selain hanya sebagai pemain musik yang menyanyikan lagu orang, termasuk lagu Batak seperti “A Sing Sing So” dan “Butet” yang sudah populer waktu itu.

Di awal tahun ’70 Benny sudah berpikir bahwa ia tak bisa jadi apa-apa kalau tidak mencipta lagu. Di situlah ia mulai menciptakan sendiri yang dimulai dengan lagu “Akhir Cinta”.

Berkembangnya karier Panbers diawali dengan kemunculan pertama mereka lewat acara Jambore Bands 1970 di Istora Senayan yang membuat nama Panbers lebih dikenal luas. Di acara ini pula, Koes Plus yang merupakan reinkarnasi dari Koes Bersaudara melejit namanya, setelah membawakan lagu ‘Manis dan Sayang’ serta ‘Derita’.

Meski saat itu, penonton sepertinya lebih tersihir pada penampilan Koes Plus, namun langkah Panbers selanjutnya menjadi lebih mudah. Panbers kerap muncul di TVRI, satu-satu stasiun televisi yang ada di Indonesia pada era itu. Imbasnya, popularitas mereka pun makin menanjak.

Keberhasilan performance mereka di televisi rupanya menarik perhatian Dick Tamimi, manajer perusahaan piringan hitam Dimita. Dick Tamimi yang merupakan bekas pilot lalu merekrut mereka untuk bernaung di bawah perusahaan Dimita masuk ke dunia rekaman.

Mereka diberi kepercayaan untuk mangabadikan lagu-lagu mereka ke dalam bentuk piringan hitam ebonite. Saat itu pula muncullah hit mereka yang abadi, Akhir Cinta yang selalu terpatri di hati penggemar blantika musik Indonesia.

Tahun 1974, PT Remaco menggaet Panbers untuk merekam lagu-lagunya. Di sini, mereka membuat lagu-lagu natal dan beberapa album pop lainnya. Tahun 1977, Panbers hijrah rekaman ke PT. Irama Tara.

Pada tahun 1981 Panbers digaet oleh PT U.R Record dan seterusnya ke beberapa perusahaan label studio rekaman lainnya yang telah menunggu kesempatan untuk bekerja sama dengan mereka.

Seperti juga grup-grup musik era 70-an lainnya, nama Panbers perlahan menyurut setelah memasuki dekade 1980-an. Namun Panbers terus berkarya dan bermusik dengan muncul di berbagai panggung nostalgia.

Penulis: Yon K/dari berbagai sumber