Suku Nias Kenal Seni Pahat Sejak Ribuan Tahun Silam

Salah satu pemahat peserta Festival Seni Pahat, Setuju Zagötö, mengukir wajah patung Adu Zatua, Jumat (24/11/2017). Foto: Dohu Lase

Gunungsitoli – SuaraNusantara

Suku Nias merupakan salah satu suku di Indonesia yang menekuni seni pahat sejak ratusan tahun, bahkan ribuan tahun silam. Karya-karya seni pahat khas Nias tak kalah mutunya dibanding seni pahat daerah lain. Dari segi filosofi pun, setiap patung yang dibuat memiliki makna tertentu. Sayangnya, seni pahat Nias relatif belum dikenal.

Pada Festival Seni Pahat yang digelar pada hari kedua Pesta Ya’ahowu 2017, Jumat (24/11/2017), di Lapangan Merdeka Gunungsitoli, para pemahat asal Desa Bawömataluo Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan, yakni Hiburan Zagötö, Setuju Zagötö, dan Mustafa Nehe, mempertontonkan aksi ketrampilan mereka mengolah potongan kayu menjadi sebuah karya seni yang memiliki estetika dan keunikan tersendiri.

Setuju memahat patung Adu Zatua, sedangkan Hiburan dan Mustafa masing-masing memahat patung Adu Siraha dan Adu Nuwu. Kayu yang mereka gunakan berasal dari pohon yang diduga hanya tumbuh di Pulau Nias, yakni Manawa Danö, Afoa, dan Berua.

“Adu Zatua adalah gambaran sosok orang tua, yang digunakan untuk mengenang arwah leluhur. Adu Nuwu merupakan sosok panutan dan penyebar berkah, sedangkan Adu Siraha adalah raja adat. Keduanya ini mesti dijunjung tinggi,” jelas Ariston Zagötö, ketua kelompok pemahat asal Desa Bawömataluo, “Gaili Ana’a”.

Masyarakat Nias, khususnya di Nias Selatan, diperkirakan telah mengenal seni ukir batu sejak zaman Neolitikum. Namun untuk seni pahat/ukir kayu baru sekitar 800 tahun lalu. Kala itu, masyarakat membuat patung kayu untuk disembah.

Di setiap rumah adat Nias Selatan pada zaman sebelum agama masuk pasti memiliki “Osali”, semacam tempat pemujaan patung-patung.

“Khusus untuk patung yang disembah, harus kayu Pohon “Fösi”,” tambah Ariston.

Di masa kini, masyarakat Nias sudah meninggalkan kebiasaan menyembah patung, namun seni memahat kayu tetap dipertahankan sebagai warisan leluhur.

“Ketiga pemahat ini sudah sejak remaja terampil memahat. Biasanya patung ukuran seperti diperlombakan tadi, hanya butuh satu hari menyiapkannya,” tutup Ariston.

Kontributor: Dohu Lase