Televisi dan Calon Pemimpin Sumut

Kedua pasangan calon Gubsu/Wagubsu, nomor urut 1 Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah dan nomor urut 2 Djarot Saiful Hidayat - Sihar Sitorus (Foto: Ingot Simangunsong)
Kedua pasangan calon Gubsu/Wagubsu, nomor urut 1 Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah dan nomor urut 2 Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus (Foto: Ingot Simangunsong)

Catatan | ingot simangunsong

 

Di negeri ini, ada tiga pemilik media elektronik televisi yang juga berkiprah di panggung politik, yakni Surya Paloh (MetroTV, Ketua Umum Partai Nasional Demokrat), Harry Tanoesoedibjo (MNC Grup, gabungan sejumlah televisi, Ketua Umum Partai Perindo) dan Abu Rizal Bakrie (TVOne, fungsionaris/mantan Ketua Umum Partai Golkar).

Ketiga tokoh politik ini, sudah memiliki power yang luar biasa dalam mewarnai panggung politik negeri ini, walau tidak berada dalam lingkaran bisnis media elektronik pertelevisian. Tentu saja, menjadi semakin besar pengaruhnya setelah berada di pusaran bisnis siaran televisi.

Televisi yang tidak hanya memperdengarkan suara, juga menampilkan visualisasi, menjadikan penyampaian sesuatu pesan, menjadi lebih efektif dan efesien. Walau hitungan costnya lebih besar untuk setiap pencapaian penyampaian visi-misi.

Kemudian yang lebih menyejukkan bagi pengguna televisi, adalah kedahsyatan daya jangkau siaran yang dimiliki perusahaan televisi ketiga tokoh ini, setidaknya menjadi sangat berdayaguna bagi para calon kepala daerah, apakah itu calon Gubernur, Bupati maupun Walikota pada gelaran Pilkada serentak di tahun 2018. Kemudian pada pesta demokrasi pemilihan Presiden/Wakil Presiden dan pemilihan legislatif di tahun 2019.

Di tataran Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2018, keberadaan ketiga tokoh politik dan pemilik televisi ini, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya Tim Pemenangan Calon untuk menaikkan elektabilitas “jagoan” mereka.

Lihat saja–disadari atau tidak–pasangan nomor 1 Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah, cukup tangkas merangkul atau saling merangkul dengan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Golkar. Kedua partai ini, tentu sangat bersentuhan dengan media televisi metrotv dan TVOne. Itu tidak dapat dipungkiri dan semakin menguatkan apa yang diungkapkan banyak kalangan bahwa dekat atau cukup mesra dengan media (cetak atau elektronik), adalah memuluskan jalan untuk mencapai tujuan atau target dari visi dan misi calon Gubsu/Wagubsu.

Bagaimana dengan nomor urut 2, Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus? Sama-sama kita ketahui, dengan dua partai pengusung, tidak memiliki kedekatan emosional dengan tokoh politik yang juga pemilik media elektronik, televisi.

Bukan berarti pasangan ini tidak mendapatkan tempat, karena peraturan dan undang-undang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap calon untuk mendapatkan space atau durasi siaran di media apa pun (apakah itu cetak maupun elektronik).

Namun, hubungan emosional akan lebih kental keterikatannya dibandingkan yang sedikit. Hubungan emosional itu (Nasdem dan Golkar) akan sangat berperan dalam menentukan dan menetapkan durasi tayang.

Kondisi ini, akan sangat berpengaruh bagi percepatan sampainya pesan kepada para calon pemilih yang akan datang ke tempat pemungutan suara. Visualisasi (tampilan gambar) aktivitas calon Gubsu/Wagubsu dengan durasi tertentu, akan semakin melekatkan calon pemimpin dengan masyarakat yang akan dipimpinnya.

Betapa harus kerja ekstra keraslah, pasangan calon yang tidak memiliki hubungan emosional dengan pemilik media elektronik,televisi.

Apa pun yang mau dikatakan, fakta tak dapat digeser pada posisi yang tak terlihat mata dan tidak dirasakan secara batiniah. Bak kata orangtua, the show must go on. Pesta Pilgubsu 2018 harus digelar pada kalender yang sudah ditetapkan 27 Juni 2018.

Televisi, ternyata tidak hanya sekadar media sosialisasi yang dioperasionalkan, karena dalam kekinian pesta politik, harus pula dilirik siapa yang memilikinya. Ya itu tadi, membangun hubungan emosional sang calon yang berkaitan antara bisnis pertelevisian dengan sang pemilik yang tokoh politik sekaligus “juragan” partai.

Medan, 26 Februari 2018