Investasi Bodong: Ciri, Modus dan Cara Menghindarinya

Penulis: Eka Maryono

Satgas Waspada Investasi beberapa waktu lalu merilis daftar 57 entitas investasi ilegal yang harus diwaspadai dan dihentikan kegiatannya. Namun dari sederet entitas yang telah berhasil dihentikan, ternyata masih ada yang beroperasi dengan menawarkan investasi illegal, antara lain PT Maestro Digital Telekomunikasi, PT Global Mitra Group dan UN Swissindo.

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L. Tobing, menyebut ketiga entitas tersebut memakai strategi berbeda agar dapat beroperasi. Misalnya PT Maestro Digital Telekomunikasi yang menjual pulsa secara multilevel marketing (MLM) tanpa izin ternyata membuat situs baru. Lalu UN Swissindo yang mengaku punya uang tunai warisan Bung Karno sebesar US$ 5,1 triliun, serta punya cadangan emas 98 juta ton, menawarkan investasi baru dalam bentuk surat lunas yang dapat dipakai kreditur untuk melunasi hutang di bank.

Investasi bodong memang masih marak berkembang di tanah air. Kecenderungan sebagian masyarakat Indonesia yang selalu ingin cepat mendapat untung menjadi lahan subur bagi investasi bodong untuk tumbuh dan berkembang. Masyarakat memang lebih senang memikirkan besaran keuntungan yang bakal diraih, dibanding memikirkan apa dan siapa di balik investasi yang ditawarkan.

Awal tahun 2017 silam, ramai pemberitaan mengenai terbongkarnya kedok Koperasi Simpan Pinjam Pandawa Mandiri Group (KSP PMG). Sedikitnya Rp 1,5 triliun berhasil mereka himpun dari 549 ribu anggota di seluruh Indonesia. Salman Nuryanto selaku bos koperasi tersebut ternyata mantan tukang bubur ayam di kawasan Depok, Jawa Barat. Pendidikannya? Cuma lulusan SD.

Meski pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan hidup seseorang, namun setidaknya calon nasabah perlu mencari tahu lebih dulu mengenai latar belakang perusahaan dan pimpinan perusahaan sebelum menanamkan saham di sana. Namun yang terjadi, nasabah cenderung terhenti pada penampilan fisik saja. Asal pimpinan perusahaan terlihat intelek, maka diyakini bukan orang bodoh. Terlihat agamis, diyakini tidak akan menipu. Bila kelihatan kaya, nasabah pun jadi yakin kelak akan sekaya sang pimpinan setelah mengambil investasi yang ditawarkan.

Salman Nuryanto contohnya, selalu memakai sorban seperti Pangeran Diponegoro dan sering memberi nasihat berbau keagamaan kepada orang lain. Ribuan pengikutnya terpesona dan berebutan cium tangan bila bertemu Nuryanto. Ketika tahun 2016 banyak nasabah mulai gelisah akibat pembayaran bunga yang seret, Nuryanto menanamkan keyakinan bahwa dirinya tidak akan kabur. Nyatanya dia sempat menghilang dan baru muncul setelah diciduk polisi pada Senin, 20 Februari 2017.

Investasi bodong memang banyak modusnya. Ada emas, pertambangan, perdagangan forex, berjangka sampai koperasi. Belakangan ada pula modus penipuan investasi berkedok digital Bitcoin. Bitcoin memang tengah naik daun, sementara pengetahuan masyarakat mengenai Bitcoin tergolong masih rendah. Celah itulah yang dimanfaatkan para pelaku investasi bodong. Pelaku menawarkan janji keuntungan tinggi, padahal pasar Bitcoin adalah forex berfluktuatif yang artinya nilainya selalu naik turun, sehingga tidak mungkin memberikan imbal hasil besar tanpa disertai resiko.

Ciri Investasi Bodong

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘investasi’ termasuk kata benda dan didefinisikan sebagai ‘penanaman uang atau modal di suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan’. Sementara ‘investasi bodong’ tidak ada penjelasannya dalam KBBI, tapi secara umum dapat penulis jelaskan sebagai ‘suatu penipuan yang berkedok investasi’.

Pada dasarnya perbedaan antara investasi dan investasi bodong, terletak pada peningkatan nilai produk investasi. Misalnya anda ditawari untuk membeli sebatang emas murni dengan harga lebih tinggi 25% dari harga emas ANTAM, lalu dijanjikan keuntungan investasi sebesar 1,5% per bulan. Dengan kecilnya persentase keuntungan yang dijanjikan setiap bulan itu, anda akan berpikir, “Persentase ini sepertinya masih berada di tingkat kewajaran, jadi tidak mungkin investasi bodong.” Tapi pernahkan anda berpikir, apakah mungkin setiap bulan harga emas selalu naik? Bila tidak mungkin, lalu bagaimana mereka akan membayarkan keuntungan anda? Apa dengan memutar uang anda ke dalam bentuk investasi lain? Berarti itu bukan investasi emas namanya, bukankah begitu?

Sebenarnya ada beberapa hal dasar yang dapat dijadikan pegangan masyarakat sebelum memulai investasi. Salah satu ciri utama investasi bodong adalah menjanjikan keuntungan atau imbal hasil sangat tinggi dalam waktu cepat, tanpa risiko. Bila dengan janji keuntungan kecil dan wajar saja, masih ada peluang terjadi penipuan, maka hindarilah investasi dalam bentuk apapun yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat.

Ciri lainnya adalah perusahaan terlalu fokus pada perekrutan anggota baru dan tidak menjelaskan rinci bagaimana cara mereka mengelola dana nasabah. Sebagian perusahaan investasi bodong malah terang-terangan tidak mau menunjukkan struktur kepengurusan perusahaannya. Kecuali bila anda pernah 10 kali tidak naik kelas semasa sekolah dulu, maka bersikaplah pintar dengan tidak menginvestasikan dana anda kepada perusahaan semacam itu.

Modus Investasi Bodong

Ada banyak modus penipuan berkedok investasi, mulai dari money game hingga MLM bodong, tapi semuanya menunjukkan ciri utama yang sama: Menjanjikan keuntungan tidak masuk akal kepada nasabah.

Modus investasi bodong berkedok perdagangan berjangka misalnya, menjanjikan keuntungan hingga 30 persen per bulan. Bila anda menanamkan dana Rp 10 juta, berarti keuntungan setiap bulan Rp 3 juta, maka dalam waktu 4 bulan sudah meraih untung Rp 12 juta. Artinya, keuntungan bersih anda adalah Rp 2 juta, setelah dipotong total investasi Rp 10 juta sebelumnya. Bagaimana bila anda menginvestasikan Rp 100 juta atau Rp 1 miliar di sana? Tentu keuntungan yang bakal diraih sangat menggiurkan. Tapi mungkinkah keuntungan tersebut bisa anda raih sedemikian mudahnya? Sekali lagi, kecuali bila anda pernah 10 kali tidak naik kelas semasa sekolah dulu, maka berusahalah berpikir dengan logika.

Modus investasi bodong lainnya adalah Skema Ponzi. Skema Ponzi diambil dari nama Charles Ponzi (3 Maret 1882 – 18 Januari 1949), seorang penipu asal Itali yang aktif mencari mangsa di Amerika Serikat dan Kanada pada dasawarsa 1920-an. Dialah orang yang mempopulerkan skema investasi dalam bentuk ini.

Skema Ponzi menjanjikan bonus besar bagi peserta yang menanamkan uang agar mencari anggota baru dengan pola rekrutan anggota mirip bisnis MLM. Investor baru biasanya dibujuk dengan keuntungan tinggi dalam jangka pendek dengan tingkat pengembalian yang sangat tinggi, atau keuntungan biasa-biasa saja tetapi luar biasa konsisten. Kelangsungan dari pengembalian bunga kepada nasabah sangat tergantung pada aliran uang yang didapat dari investor baru.

Pada awal tahun 1920-an, Ponzi menawarkan keuntungan 50% dalam waktu 45 hari atau 100% dalam waktu 90 hari, dengan cara membeli semacam kupon. Ponzi sukses menjalankan aksinya selama satu tahun  sebelum akhirnya mengalami kegagalan dan mengakibatkan para nasabah rugi hingga $20 juta dollar.

Ciri lain investasi bodong, kerap ditawarkan dalam bentuk emas. Investasi emas sebenarnya adalah investasi yang paling kuno dan dianggap paling aman (safe haven investment). Namun tentu saja bisa dikatakan aman bila emas fisiknya berada dalam genggaman anda, sementara investasi emas bodong tidak memberikan produk emasnya kepada nasabah. Nasabah hanya dijanjikan memperoleh keuntungan, misalnya 5 persen per bulan.

Pada Senin, 11 Desember 2017, Kepolisian Resort Kota Solo meringkus Yusack selaku pimpinan CV Kebun Emas Indonesia, yang berhasil menghimpun dana Rp 600 miliar lebih dari ratusan nasabah. Kepada para korbannya, Yussack menjanjikan keuntungan 12% per bulan dari setiap satu batang emas ‘khayalan’ yang diinvestasikan. Seorang korban yang tergiur bahkan menginvestasikan uang Rp 11 miliar kepada pelaku.

Para peserta investasi emas ini diketahui mentransfer uang sebagai modal ke rekening milik pelaku dengan nilai bervariasi mulai dari Rp 5 juta hingga miliaran rupiah. Awalnya investasi berjalan lancar, namun setelah beberapa kali menjadi macet. Ternyata sistemnya gali lubang tutup lubang alias menggunakan Skema Ponzi, artinya uang nasabah baru dipakai untuk membayar bunga dari nasabah lama.

Modus investasi bodong lainnya menyasar masyarakat menengah ke bawah yang kesulitan dana untuk memiliki rumah sendiri, atau sedang terbelit cicilan KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Berhati-hatilah bila menerima tawaran mencicil rumah dengan iming-iming terlalu berlebihan. Misalnya hanya dengan mencicil uang muka Rp 700 ribu selama 6 bulan, sementara bentuk fisik rumahnya saja belum satu pun tersedia di lokasi lahan yang dijanjikan. Apalagi bila calon pembeli dijanjikan bonus yang tidak ada hubungannya dengan masalah perumahan, seperti diberikan asuransi kecelakaan, tiket pesawat, pulsa elektrik, dan beragam bonus lain.

Selain itu ada pula modus arisan online dan investasi tiruan. Arisan online biasanya marak di media sosial. Peserta dibuatkan nomor urut. Dana akan diterima sesuai nomor urut tersebut. Tapi akhirnya tidak ada yang dapat, atau hanya peserta dengan nomor-nomor urut awal yang mendapat keuntungan, sisanya hanya bisa gigit jari. Sementara investasi tiruan dilakukan dengan meniru website resmi perusahaan investasi legal, misalnya website oon.com ditiru sama persis dan dirubah jadi oon.co.id. Calon nasabah yang tidak teliti akan tertipu dengan mentransfer dana ke rekening perusahaan bodong.

Cara Menghindari Investasi Bodong

Untuk menghindari penipuan investasi bodong, tidak ada hal lain kecuali berpulang kepada diri masing-masing. Selama masih ada orang yang ingin mendapatkan keuntungan besar tanpa mau bekerja keras, maka investasi bodong akan selalu ada.

Rata-rata korban penipuan tidak bisa dikatakan sebagai orang bodoh, sebab banyak dari mereka berpendidikan tinggi, bahkan ada yang berpangkat alias memiliki kedudukan terhormat di bidangnya masing-masing. Namun bisa dipastikan bila korban investasi bodong adalah orang-orang tamak yang selalu ingin jalan pintas. Bila miskin ingin cepat kaya raya. Bila sudah kaya raya, maka ingin lebih kaya lagi. Mereka inilah prioritas pertama untuk menjadi korban penipuan investasi.

Agar terhindar dari resiko penipuan, gunakanlah logika sebelum memulai investasi. Jangan terpengaruh janji manis, tapi periksalah seluruh data dan fakta yang ada, dan tingkatkan selalu pengetahuan investasi dengan banyak membaca dan bertanya pada investor berpengalaman.

Jangan mudah percaya dengan iklan dan testimoni karena banyak perusahaan bodong yang membayar selebriti atau tokoh terkenal dengan uang atau jasa untuk memberi testimoni. Para pemberi testimoni itu tidak berada dalam kapasitas bisa dituntut, apalagi dituntut ikut membayar kerugian yang anda derita.

Lebih celaka lagi, banyak perusahaan investasi bodong yang sekadar mencatut nama-nama orang terkenal, seolah-olah tokoh tersebut memberikan testimoni, padahal kenyataannya tidak. Beberapa tahun lalu ada seorang mantan Ketua DPR yang namanya dipakai untuk testimonial investasi emas. Ternyata setelah diklarifikasi, perusahaan tersebut mencatut namanya tanpa izin.

Terakhir, perusahaan yang mengelola dana dari masyarakat harus memiliki izin Manajer Investasi. Tanyakanlah masalah izin Manajer Investasi ini dan hubungi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan keabsahan izin tersebut. Dan jika terdapat pencantuman logo instansi atau lembaga pemerintah dalam media penawarannya, maka periksalah apakah instansi atau lembaga dimaksud memang terlibat dalam perusahaan tersebut.

Pemerintah telah berupaya mengurangi praktek investasi bodong dengan membentuk  Satgas Waspada Investasi. Seyogyanya bila satgas tersebut bisa lebih giat melakukan edukasi kepada masyarakat tentang aneka investasi keuangan. Peran tokoh agama juga diperlukan, misalnya dengan memberi dakwah agar umat tidak terjebak sikap tamak dengan menginvestasikan uangnya secara serampangan.

Tapi tetap saja pada akhirnya, semuanya kembali berpulang kepada diri anda sendiri. Selama anda masih menjadi Paman Gober atau Tuan Krabs yang serakah, maka akan selalu ada resiko penipuan atas diri anda. ***

*) Penulis mantan wartawan desk ekonomi, sosial dan budaya, di Surat Kabar Mingguan (SKM) Inti Jaya dan Harian Suaka Metro. Kini menjadi kontributor untuk Suaranusantara.com.

 

 

 

.