Klinik Bayi Tabung di Indonesia Masih Minim

Jakarta – Di era Modern saat ini, jumlah Klinik In Vitro Fertilization (IVF) masih terbilang sedikit yakni hanya 32 Klinik yang tersebar di berbagai Kota di Indonesia.

Padahal, kebutuhan akan layanan reproduksi cukup tinggi lantaran gaya hidup masyarakat yang semakin berubah.

Keprihatinan ini diungkapkan oleh Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH pada acara Overview dan Outlook Penanganan Gangguan Kesuburan di Indonesia, Selasa, (18/12/2018) di Madame Delima Restaurant.

“Menurut laporan IA-IVF tahun 2017, dari 9122 program bayi tabung di Indonesia ternyata 2467 nya berhasil menghasilkan kehamilan,” ujar Budi yang juga Presiden Perhimpunan Fertilisasi in Vitro Indonesia (PERFITRI).

Ia mengatakan, gangguan kesuburan merupakan kegagalan satu pasangan untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual yang benar selama satu tahun tanpa menggunakan alat kontrasepsi.

“Faktor suami istri atau kombinasi keduanya dapat menyebabkan gangguan kesuburan. Yang termasuk dalam faktor istri adalah gangguan pematangan sel telur, sumbatan saluran telur atau gangguan pada rahim dan indung telur sedangkan pada pria adalah masalah sperma,” beber dia.

Sementara itu, dr. Beeleonie, BMedSc, SpOG(K) menjelaskan bahwa usia biologis merupakan refleksi dari kuantitas dan kualitas sel telur seorang perempuan yang erat kaitannya dengan fekunditas yaitu kemampuan reproduksi seorang perempuan untuk memperoleh kehamilan.

“Oleh sebab itulah pada pasangan yang memang mempunyai masalah untuk mendapatkan keturunan hendaknya dapat mengikuti program bayi tabung pintar,” ujarnya.

Smart IVF memang tidak sederhana prosesnya, sama seperti dengan proses program bayi tabung lainnya yang akan melalui beberapa tahapan.

Ada delapan tahapan seperti pemeriksaan USG, hormon, saluran telur, dan sperma. Selanjutnya akan dilakukan penyuntikan obat untuk membesarkan sel telur dan sebagainya.

“Dengan demikian perlu diingat bahwa untuk suksesnya program bayi tabung pintar adalah kondisi fisik dan psikologis istri, suami, infrastruktur fisik, peralatan medis, staf yang kompeten, teknik prosedur yang baik dan kolaborasi pelayanan dengan pendekatan tim medis,” tandasnya. (indah/aul)