Gagal Paham Promosi Wisata Lebak

Dian Wahyudi. (Facebook/Dian Wahyudi)

Untuk kesekian kalinya, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Bursa, para mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh kuliah di Kota Bursa, Turki melakukan kegiatan Pelajar Bursa Untuk Indonesia (PRUSA).

PRUSA semacam kegiatan bakti sosial dan kerja sama program, utamanya di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya dan pariwisata.

Berlokasi di Desa Mekarmanik, Kecamatan Bojongmanik, Kabupaten Lebak. Mengulang sukses kegiatan serupa beberapa tahun ke belakang, saat itu kegiatan hanya 3 (tiga) hari saja.

Menurut informasi panitia, tahun ini mereka akan melakukan aktibitas selama sepekan, dan tidak tanggung-tanggung, mereka membawa serta warga negara Turki, Erol Oztamur pendiri dan Ketua Asosiasi Damla Internasional, Umut Kilic pendiri dan Wakil ketua Asosiasi Damla Internasional, Canan Cakir pendiri dan guru SMA Imam Hatip Internasional Hudavendigar Bursa, serta Maryem Gulce pelajar SD Nosab Nilufer Bursa.

Mereka akan mengikuti rangkaian acara, dimaksudkan untuk mempelajari kearifan lokal masyarakat Bojongmanik dan Lebak pada umumnya, pertukaran budaya Indonesia-Turki, serta promosi destinasi wisata Lebak dan Banten.

Saya secara pribadi, mungkin karena dianggap cukup mewakili representasi masyarakat, diminta untuk menjembatani komunikasi dengan pihak Pemerintah Kabupaten (pemkab) Lebak, agar dapat melakukan kerja sama dan promosi, terutama terkait pertukaran budaya dan promosi wisata.

Namun sayang, komunikasi yang ditunjukkan oleh Pemkab Lebak jauh dari harapan. Panitia berkali meminta audiensi dan berdiskusi, sampai kegiatan berlangsung, namun tidak pernah dijadwalkan. Bahkan, harapan meminta kehadiran Bupati Lebak ataupun Wakil Bupati Lebak pupus karena jawaban yang tidak jelas.

Menunggu siapa yang akan mewakili untuk hanya sekedar mewakili, sampai pembukaan acara pun tak kunjung mendapatkan jawaban. Belakangan menurut informasi panitia, datang salah seorang Kabid di Dinas Pariwisata, itu pun datang terlambat.

Mungkin tidak ada yang harus disalahkan. Namun, membaca respon pemkab serta dinas terkait, dalam upaya promosi wisata yang sedang gencar dilakukan pemkab, justru menyia-nyiakan kesempatan. Kesempatan di depan mata hilang. Lepas sudah promosi gratis kepada komunitas Internasional lewat duta yang datang ke Kabupaten Lebak.

Kerja sama Turki dan Lebak?

Berbicara Kota Bursa dan Turki, bukan hanya sekedar berbicara pariwisata, destinasi wisata. Turki, menurut seorang teman yang hadir saat pembukaan acara tersebut, dengan lugas mengatakan, karena Turki merupakan salah satu pusat pendidikan, yang cukup banyak memberikan beasiswa pendidikan.

Turki tidak hanya identik dengan Istanbul dan Ankara saja, tetapi ada Bursa yang menjadi destinasi favorit wisatawan, yang menyimpan banyak peninggalan sejarah Islam. Kota Bursa, terletak di kawasan Kartal, bagian tepi laut Marmara. Tepatnya antara kota Meltepe dan Pendik. Daerah ini merupakan salah satu distrik Istanbul yang berada di benua Asia.

Merupakan bandar terbesar ke-4 di negara ini. Populasi penduduk termasuk yang paling tinggi, meski tidak sepadat Istanbul dan Ankara. Sebagaimana Istanbul, merupakan kota wisata dunia dan salah satu kota pendidikan di Turki, meski alamnya tak seindah Lebak, namun tingkat kunjungan wisatawan yang datang ke Bursa sangat banyak. Demikian cerita teman yang pernah datang ke sana.

Berdasarkan catatan sejarah, Bursa adalah ibu kota pertama pada masa kejayaan Dinasti Utsmaniyyah antara tahun 1335 hingga 1413. Disebut juga Kota Hijau atau Green Paradise, karena memiliki banyak taman dan kebun yang asri. Lokasi Bursa juga dikelilingi oleh hutan yang cukup luas.

Tempat paling terkenal di Bursa adalah Green Mosque atau masjid hijau, dalam bahasa Turki adalah Yesil Camii dan Koza Han. Sepanjang sejarah, masjid ini menjadi saksi bisu kejayaan Ottoman, peristiwa gempa bumi dan kebakaran hebat.

Menurut legenda, sejatinya Sultan meminta dibuatkan 20 masjid di Bursa pada para arsitek. Hal yang terjadi adalah mereka membangun satu masjid dengan 20 kubah. Tidak heran, jika Unesco menetapkan Bursa sebagai salah satu warisan dunia.

Terdapat pula museum Bursa City, yang merupakan museum terbesar di kota ini. Setiap lantai menggambarkan periode tertentu dari masa Ottoman. Sedangkan museum Aktopralik Mound adalah museum terbuka dari zaman prasejarah, terkenal dengan Arkeo Park-nya.

Tetapi yang menjadi serbuan para wisatawan adalah produk sutra asli Bursa. Pusat kain sutra di Koza Han, menyediakan kain-kain sutra bermutu tinggi yang sangat diminati di seluruh dunia.

Kalau mau membeli berbagai souvenir atau oleh-oleh, mampirlah ke Khan Bazaar. Berbagai pilihan ada di sana. Penduduk Bursa lebih suka berjalan kaki ataupun naik kendaraan umum. Zaitun, Teh Zafran, dan olahan kulit adalah beberapa komoditi andalan lainnya.

Jika kita manfaatkan kunjungan para mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Bursa serta menjalin lebih intens dengan delegasi langsung dari Bursa, diharapkan Pariwisata Lebak bisa numpang promosi Wisata di kota Bursa, maka Lebak akan dikenal oleh dunia.

“Hanjakal pisan ya,” ujar seorang teman kepada saya, menyayangkan kurang respon nya berbagai pihak terkait di Lebak

Jangan hanya pintar merayu…

Sebelumnya, saya pernah menulis artikel di Kabar Banten, Jum’at, 28 Juni 2019, berjudul ‘Rayuan Maut Destinasi Wisata Lebak’. Bagaimana keindahan alam kabupaten Lebak menjadi magnet luar biasa bagi wisatawan, dari mulai wisata pantai, curug (air terjun), gua, taupun gunung, wisata kearifan lokal, sampai wisata buatan.

Tinggal bagimana semua itu dikelola secara profesional, dari mulai pembenahan infrastruktur, penataan destinasi wisata, serta berbagai pelatihan sumber daya manusia (SDM) pengelola. Semoga apa yang menjadi kegelisahan saya dan beberapa penggiat wisata terpatahkan oleh terobosan pemkab lebih lanjut.

Dalam sambutan malam resepsi HUT ke 74 RI di depan Alun-alun Rangkasbitung, yang lalu, Wakil Bupati Lebak, Ade Sumardi mengingatkan kembali tentang tema Kemerdekaan tahun 2019 ‘Menuju Indonesia Unggul’. Menurutnya, berbicara Indonesia Unggul berarti berbicara tentang Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

Wabup berharap, anak-anak muda saat ini menjadi lebih kreatif dan siap dalam menghadapi era modern yang semakin maju ini, jika SDM nya sudah maju maka secara otomatis ekonomi rakyat akan naik, jika ekonomi rakyat naik maka masalah pendidikan, kesehatan dan lainnya juga bisa teratasi sehingga semua SDM yang ada menjadi SDM yang unggul. Kabupaten Lebak memiliki konsep untuk mendorong anak-anak muda lebih kreatif, dengan visi wisata, harus menyongsong pembangunan, dengan SDM yang harus kreatif.

Pada kesempatan tersebut, Wabup juga berpesan kepada Dinas Pariwisata (Dispar) untuk menjadikan wisata di Kabupaten Lebak memiliki 4 unsur, yaitu hiburan, religi, budaya dan edukasi agar tidak ada wisata-wisata yang mengundang kemaksiatan.

Namun tetap saja, sikap dan kinerja instansi terkait harus terus ditingkatkan. Jangan sampai terkesan tidak siap dan bertolak belakang dengan visi dan misi yang didengungkan Bupati Lebak selama ini. Apalagi ke depan, kabupaten Lebak berharap menggagas Wisata Halal. Asa jangjauheun….

Penulis: Dian Wahyudi
Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak

1 COMMENT

  1. Sebuah kritikan yang membangunkan. Sudah saatnya sekarang sistem birokrasi di Indonesia diperbaiki. Pemerintah tidak harus melulu kaku pada SOP bagaikan robot yang bekerja sesuai perintah, namun dapat juga menjadi dinamis melihat potensi dan kesempatan.

    Pelajar Indonesia di luar negeri banyak telah berusaha untuk “membangunkan” pemerintah agar dapat melihat peluang global seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi dunia, jangan sampai indonesia berada disitu situ saja. Jika dalam mengurus hal hal mudah seperti ini masih saja dipersulit lantas kapan kita bisa berani menggebrak dunia dengan apa yang kita punya?

    Salam Perhimpunan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here