Bangunan Kuno Diduga Makam Keramat di Kawasan Lapas Klas IIA Tangerang

Bangunan kuno di Kawasan Lapas Klas IIA Tangerang yang diduga merupakan makam.(aul)

Tangerang – Kota Tangerang merupakan kota yang kaya dengan cerita sejarah. Tak hanya itu, banyak pula tempat peninggalan sejak zaman kolonialisme hingga zaman kerajaan yang saat ini masih dipercaya tetap berdiri.

Salah satunya sebuah bangunan kuno di kawasan Lapas Klas IIA Tangerang atau yang lebih dikenal dengan Lapas Anak Wanita, di Jalan Raya Daan Mogot, Kecamatan Tanah Tinggi, Kota Tangerang.

Di halaman sebelah kiri lapas tersebut, terdapat lahan kosong yang cukup luas yang saat ini digunakan untuk berbagai kegiatan warga binaan seperti penanaman Toga, Budidaya Ikan Lele, dan lain sebagainya.

Namun, salah satu hal yang mencolok yaitu adanya dua bangunan tua yang terbuat dari batu bata yang sudah lapuk. bangunan batu tersebut dikelilingi oleh pagar pendek.

Kasi Binapigiatja, Yoesiana mengatakan, dua bangunan kuno tersebut diduga merupakan makam karena memiliki bentuk bangunan yang berundak dan memiliki tanda seperti makam.

“Tahun 2005 saya masuk ke sini, makam itu dulu yang memang masih ada orang percaya animisme dinamisme masih banyak yang ke situ bawa sesaji, enggak tahu lah buat apa, tapi pas ke sini-sininya sudah enggak ada,” ujar Yoesi, Kamis (22/8/2019).

Ia mengatakan, petugas yang masuk pada tahun 1980-an saja makam tersebut sudah berada di lokasi tersebut tanpa diketahui bagaimana sejarahnya. Bahkan, dahulu terdapat mitos yang menyebut bahwa jika ada burung yang melintas di atas makam tersebut maka akan mati.

“Dulu ini ada atapnya, seperti pendopo. Tapi karena rapuh akhirnya roboh, kalau dulu mitosnya jika ada burung yang melintas di atas atap pendopo tersebut maka akan mati,” tuturnya.

Lantaran bangunannya yang semakin rapuh, warga binaan pun lalu berinisiatif untuk melapisi bangunan dengan semen tipis. Hal tersebut untuk mencegah bangunan tersebut hancur.

“Kami pernah tambah semen di atas bangunan tersebut karena kondisinya yang semakin rentan makanya anak-anak binaan melapisi bangunan dengan semen, tapi hanya tipis supaya tidak roboh saja,” jelas Yoesi.

Selain makam, terdapat sebuah lonceng yang dibangun pada tahun 1945 oleh Mayor Daan Mogot. Lonceng tersebut merupakan penanda dari Akademi Militer (Akmil) Daan Mogot yang saat itu langsung dipimpin oleh Mayor Daan Mogot.

“Namun saat Hindia-Belanda kembali, terjadi pertumpahan darah Mayor Daan Mogot gugur dan dimakamkan di TMP Taruna, dan bangunan ini kembali difungsikan sebagai Lapas Anak Wanita, tapi monumen lonceng masih dijaga hingga diresmikan oleh Letnan Jendr. (Purn) A. Kemal Idris pada tahun 1991,” beber dia.

Ia berharap, terdapat uraian kejelasan sejarah dari gedung Lapas Anak Wanita tersebut agar segala situs sejarah yang ada di dalamnya dapat terus terjaga.

“Mungkin semua ada rangkaiannya, makanya itu perlu diurai satu-satu supaya kita tahu alur dari sejarah awal, tanah ini dulunya apa dipergunakan apa hingga dibangun untuk penjara hindia Belanda dan digunakan akmil Mayor Daan Mogor, hingga jadi Lapas Wanita, sehingga kita juga tahu sejarahnya,” papar Yoesi.(aul/and)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here