Tegangnya Simulasi Pembajakan Pesawat di Bandara Soetta

Adegan teroris menyandera petugas Avsec Bandara Soetta dalam simulasi kewaspadaan dan pengamanan aksi teror.(aul)

Bandara – Pesawat yang akan menuju Filipina dari Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang dengan nomor penerbangan RP-R0001 milik Jet Air dibajak kelompok teroris yang berjumlah enam orang.

Ini bermula dari dua orang teroris yang berpura-pura sebagai penumpang terdeteksi membawa senjata laras panjang dan laras pendek di security check point (SCP) 1.

Saat terdeteksi oleh mesin pemindai, pelaku dengan cepat memgambil senjata dan langsung menyandera petugas Aviation Security (Avsec) langsung masuk ke dalam terminal.

Kemudian masuk dua orang teroris yang memang sudah bersiaga membantu rekan mereka. Dua petugas Avsec tewas ditembak.

Setelah berhasil masuk ke dalam check-in area hingga masuk ke area boarding lounge. Teroris juga menyandera 10 penumpang yang ada di boarding lounge hingga masuk ke dalam pesawat. Menyusul kemudian, komplotan teroris lain yang rupanya selama ini menjadi informan dengan menyamar sebagai petugas catering.

Teroris mengancam akan meledakan pesawat dan membunuh seluruh penumpang yang ada di dalam pesawat jika pelantikan Presiden tetap dilakukan.

Proses negosiasi dimulai, kemudian berjalan keputusan penerbitan NOTAM penutupan bandara dilakukan hingga munculnya komando untuk menyerbu teroris.

Dimulai dengan di tim anti-teror berhasil mengendap-endap dari arah kedatangan dan kemudian masuk di ekor pesawat. Penembak jitu berhasil melumpuhkan para pelaku yang berada di dalam kokpit pesawat. Sementara seluruh penumpang berhasil dibebaskan dengan selamat.

Setelah berhasil melumpuhkan teroris, tim anti-teror meminga semua penumpang dan awak yang ada di sekitar di minta turun dengan tangan di belakang kepala.

Rentetan kejadian tersebut merupakan latihan bersama aparat yang bertugas di bandara dalam mengantisipasi peristiwa pembajakan pesawat (hijack).

Senior Manager Of Branch Communication and Legal Bandara Soetta Febri Toga Simatupang menyatakan, latihan merupakan bagian dari regulasi atau kewajiban PT Angkasa Pura II setiap dua tahun sekali untuk menguji kemampuan komunikasi, peralatan dan personel ketika terdapat upaya teror.

“Melalui latihan bersama ini kita bisa mengevaluasi apa saja yang kurang dari standar operasional prosedur (SOP) saat ini. Meskipun pengamanan dan kewaspadaan pasti dilakukan ada atau tidak adanya peristiwa teror. Dan, ini untuk mengukur kemampuan kita dari aspek komunikasi, peralatan dan personel,” katanya.

”Data tentang latihan kami ambil dan akan kami jadikan sebagai evaluasi.Terpenting dari latihan ini adalah menguji komunikasi antara Supervisor Avsec, Chief, Senior Chief, Senior Manager Of Airport Security hingga pemegang komando tertinggi yakni Executive General Manager,” tambah Febri.

Termasuk juga koodinasi dengan petugas airport rescue and fire fighting services, kantor kesehatan pelabuhan, Polres Bandara serta pasukan yang memiliki keterampilan khusus untuk bertempur tiga matra (darat, laut dan udara) Detasemen Bravo 90.(aul/and)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here