Virtual Reality Bantu Anak Berkebutuhan Khusus Terapi Sensori Integrasi

oleh Muhaimin Hasanudin, M.Kom

Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bukan hanya harus ditopang dengan kelemahan hati dan perlakuan yang lembut. Namun, kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendidik dan melatih daya pikir ABK agar memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Kehadiran Virtual Reality (VR) yang mensimulasikan lingkungan sekitar oleh sistem komputer dengan memghadirkan sensasi secara fisik seolah-olah nyata ternyata dapat memberikan manfaat.

VR dapat meniru atau menciptakan ulang pengalaman yang dirasakan secara sensorik oleh manusia. Kebanyakan realitas virtual menyediakan lingkungan virtual memanfaatkan indra penglihatan.

Hal itu ditampilkan baik menggunakan layar monitor ataupun dengan menggunakan alat bantu penglihatan lain. Selain indra penglihatan, indra pendengaran juga dapat dipengaruhi oleh VR dengan bantuan pengeras suara. Sehingga memberikan fleksibilitas yang lebih besar dari biasanya.

Dengan beberapa manfaat dari VR, maka Sensori Integrasi pada setiap ABK diharapkan dapat cepat merespons. Karena Sensori Integrasi adalah proses yang terjadi akibat pengaruh input sensori, antara lain sensasi melihat, mendengar, taktil, vestibular, dan proprioseptif.

Adanya gangguan pada ketrampilan dasar mengakibatkan kesulitan mencapai keahlian yang lebih tinggi. Adanya terapi Sensori Integrasi dengan memanfaatkan VR dapat membantu anak berkebutuhan khusus dalam permasalahan di sekolah dan keterampilan hidup sehari-hari agar bisa mandiri.

Ada tiga indera yang menjadi titik fokus terapi Sensori Integrasi untuk menekankan stimulasi yaitu taktil, vestibular, dan proprioseptif.

Ketiga sistem sensori ini memang tidak terlalu familiar dibandingkan indera penglihatan dan pendengaran, namun sistem sensori ini sangat penting karena membantu interpretasi dan respons anak terhadap lingkungan.

Adapun ketiga (3) indra utama yang ada pada terapi sensori integrasi, sebagai berikut :
1. Sistem taktil ; Sistem taktil merupakan sistem sensori terbesar yang dibentuk oleh reseptor di kulit, yang mengirim informasi ke otak terhadap rangsangan cahaya, sentuhan, nyeri, suhu, dan tekanan.

Sistem taktil terdiri dari dua komponen, yaitu protektif dan diskriminatif, yang bekerja sama dalam melakukan tugas dan fungsi sehari-hari. Berupa respons menarik diri saat disentuh, menolak makan makanan tertentu atau memakai baju tertentu. Bentuk lain disfungsi ini adalah perilaku berupa reaksi kurang sensitif terhadap rangsang nyeri, suhu, atau perabaan suatu obyek. Anak akan mencari stimulasi yang lebih dengan menabrak mainan, orang, perabot, atau dengan mengunyah benda.

2. Sistem vestibular ; Sistem vestibular terletak pada telinga dalam (kanal semisirkular) dan mendeteksi gerakan serta perubahan posisi kepala. Anak yang hipersensitif terhadap stimulasi vestibular mempunyai respons fight atau flight sehingga anak takut atau lari dari orang lain. Anak dapat menolak untuk digendong atau diangkat dari tanah, naik lift atau eskalator, dan seringkali terlihat cemas.

3. Sistem proprioseptif ; Sistem proprioseptif terdapat pada serabut otot, tendon, dan ligamen yang memungkinkan anak secara tidak sadar mengetahui posisi dan gerakan tubuh. Hipersensitif terhadap stimulasi proprioseptif menyebabkan anak kecenderungan untuk jatuh, makan yang berantakan, dan kesulitan memanipulasi objek kecil, seperti kancing.

VR Membantu ABK Terapi Sensori Integrasi

Terapi Sensori Integrasi merupakan salah satu bentuk okupasi dan treatment pada ABK dalam upaya perbaikan bermacam gangguan seperti tumbuh kembang, belajar, interaksi sosial dan perilaku lainnya agar bisa mandiri.

Berdasarkan hasil observasi di Dilaraf Islamic School Tangerang – Banten. Proses terapi dilakukan secara konvensional dengan melibatkan peserta didik ABK dan terapis dalam satu ruangan dengan bantuan alat peraga seperti Puzzle, meronce, naik turun tangga dan lain sebagainya.

Implementasi dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diselenggarakan oleh DP2M DIKTI mempunyai tujuan untuk menerapkan teknologi Virtual Reality sebagai Media Terapi Sensori Integrasi dengan menstimulasi sensasi secara fisik menggunakan perangkat Google CardBoard dan Handphone kepada siswa ABK.

Penerapan teknologi VR memberikan alternatif media pendidikan karakter, meningkatan kompetensi baik kognitif maupun psikomotorik, serta mendukung kegiatan praktikum secara dinamis, animatif dan interaktif sehingga tidak membosankan dan menarik minat siswa ABK untuk belajar.

*Penulis adalah Dosen Tetap Universitas Raharja Prodi Sistem Informasi Komputer Tangerang Banten

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here