Begini Kronologis Versi Camat Ciledug Soal Kejadian Viral Saat Banjir

Tangerang – Camat Ciledug, Kota Tangerang Syarifudin menjelaskan kronologi kejadian dalam video yang menggambarkan dirinya dan seorang warga, di Wisma Tajur, Ciledug, Kamis (2/1/2020) kemarin.

Ia menyebut, dalam peritiwa tersebut telah terjadi miskomunikasi antara dirinya dengan seorang pria berbaju pink bernama Raja.

“Kronologisnya itu, saat evakuasi korban pada Kamis siang di Wisma Tajur, saya bertemu Raja yang mengatakan dirinya relawan dari Jakarta. Raja pun meminta peralatan evakuasi mulai dari pengeras suara, lampu senter dan lainnya. Disitu saya bertanya, anda relawan bawa apa saja ?. Ia pun menjawab tak bawa apa-apa, ia hanya membawa selembar kertas dan pulpen,” ungkap Syarifudin, Sabtu (4/1/2020).

Kata Syarifudin, saat itu ia juga menerima informasi dari anggota Polsek Ciledug, suhaedi Jufa yang sebelumnya sudah menegur Raja atas aksinya di lokasi banjir tersebut. Dalam situasi yang tak berbeda jauh Syarifudin melihat Raja melakukan wawaran didepan warga.

“Disitu saya memang langsung menegurnya, karena ingin mengetahui aksi Raja tersebut atas perintah siapa. Sebagai pejabat wilayah, saya dan tim Basarnas saat itu bertanggungjawab penuh. Proses evakuasi dalam situasi banjir separah itu harus digerakan dalam satu komando,” jelas Syarifudin.

Dijelaskan Syarifudin, sebelum kejadian tersebut Ia bersama tim sudah di Wisma Tajur sejak Rabu pagi (1/1/2020). Namun, Kamis Pagi (2/1/2020) Syarifudin meninggalkan Wisma Tajur untuk mengambil logistik bantuan di wilayah Kunciran Indah.

“Sejak Rabu, yaitu hari pertama kejadian banjir saya tidak melihat sosok Raja, seharian saya di Wisma Tajur mengevakuasi warga, istirahat sebelum subuh pun saya masih salat di Wisma Tajur, disitu saya masih tak melihat Raja,” katanya.

Lanjutnya, ketika Syarifudin kembali ke Wisma Tajur siang hari, ia melihat Raja sibuk melakukan wawaran mengatur warga sana-sini. Informasi lainnya, saat Syarifudin tak ditempat, Raja memang ikut membantu masyarakat mengevakuasi korban dan barang-barang korban atas komando dirinya sendiri tanpa personil lapangan yang bertugas.

“Sudah hari kedua, semua mungkin sudah dalam kondisi lelah begitu juga dengan saya, hingga sempat tersulut emosi. Tidak ada niat saya menghalangi siapa pun untuk menjadi relawan. Namun, dalam situasi tersebut semua harus dalam satu komando, sehingga semua tertangani dengan jelas dan by data,” tegas Syarifudin.

Diketahui, Raja hadir di lokasi kejadian hanya membawa diri, tanpa membawa peralatan evakuasi atau logistik. “Dari penglihatan semua itulah yang saya takuti, ada satu pihak yang membuat situasi tak nyaman bagi seluruh personil yang ada di lapangan sejak hari pertama. Terlebih bisa membuat warga bingung jika pengarahan dilakukan oleh banyak pihak,” katanya.

Selaku Camat Ciledug, Syarifudin menuturkan kejadian ini hanyalah miskomunikasi lapangan. Seluruh personil gabungan Pemkot, TNI dan Polri tak henti dan tak kenal lelah sejak hari pertama setia membantu dan menemani warga.

Syarifudin pun meminta, penanganan banjir hingga kondisi Kota Tangerang pulih nanti harus dilakukan dalam satu komando, sehingga semua terkoordinir dengan baik.

“Saya berterima kasih sebesar-bersarnya untuk seluruh relawan dan masyarakat yang telah membantu korban banjir di Kota Tangerang, khususnya di Wisma Tajur. Kita sama –sama berdoa dan terus bergerak, semoga Kota Tangerang cepat pulih,” tandasnya. (nji)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here