Taman Makam Pahlawan Seribu dan Monumen Lengkong Bukti Sejarah Perlawanan Rakyat

Taman makam pahlawan seribu merupakan salah satu situs cagar budaya yang ada di Banten berlokasi di Kademangan, Setu, Kota Tangerang Selatan. Saat ini masyarakat mengenal tempat ini dengan nama Taman Makam Pahlawan Seribu.

Meski namanya Taman Makam Pahlawan Seribu, bukan berarti ada 1000 makam pahlawan. Hanya ada 238 makam pahlawan, ditambah dua makam baru sehingga jumlahnya ada 240 makam.

Kata seribu diambil dari teriakan kalimat para pejuang yaitu, dari kata serbu. Namun, ada juga yang menyatakan seribu itu menjadi pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan betapa banyaknya jumlah para pejuang yang berjuang melawan penjajah saat itu.

Tokoh-tokoh yang di makamkan di Taman Makam Pahlawan Seribu sebanyak 238 makam. Terdapat 150 makam yang dikenal diantaranya ada dua makam baru dan 88 makam yang tidak dikenal.

Taman Makam Pahlawan Seribu memiliki peran yang sangat penting dalam masyarakat di Kota Tangerang Selatan, karena melalui Taman Makam Pahlawan Seribu masyarakat akan lebih mengenang jasa para pahlawan.

Selain memiliki peran yang erat di masyarakat, situs ini juga sangat erat kaitannya dengan bangsa Indonesia karena Taman Makam Pahlawan Seribu menjadi bukti nyata bahwa pahlawan-pahlawan di Serpong telah memperjuangkan haknya sebagai warna negara Indoenesia dan rela bertaruh nyawa untuk bangsanya.

Dengan adanya peristiwa itu, kita selaku masyarakat tidak mudah melupakan jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan bangsa ini.

Keunikan Taman Makam Pahlawan yaitu makam seperti berseragam. Seluruh nisan yang ada di Taman Makam Pahlawan Seribu dicat berwarna putih dan sedikit warna merah di bagian atasnya, sebagai pelambang bendera merah putih.

Warna yang gagah berani mereka perjuangkan hingga titik darah penghabisan, kegiatan yang dilakukan setiap hari pahlawan tanggal 10 November di Taman Makam Pahlawan Seribu diadakan kegiatan upacara dalam rangka mengenang jasa para pahlawan yang sudah membuat Indonesia merdeka.

Bukan hanya itu saja, setiap sehari sebelum tanggal 17 Agustus yaitu saat merayakan hari kemerdekaan Indonesia di Taman Makam Pahlawan Seribu diadakan juga kegiatan acara renungan malam untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dan setiap Hari Pendidikan Nasional diadakan tabur bunga untuk menumbuhkan rasa nasionalisme yang kokoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bukti sejarah di Kota Tangerang Selatan bukan hanya Taman Makam Pahlawan Seribu, terdapat pula Monumen Lengkong menjadi bukti sejarah dan saksi bisu pejuang kemerdekaan pada saat itu.

Monumen Lengkong adalah sebuah monumen yang dibangun pemerintah Kota Tangerang dan Bumi Serpong Damai pada tahun 1993 untuk memperingati peristiwa Lengkong. Lokasi Monumen Lengkong ini terletak di Jl. Bukit Golf Utara No. 2, Lengkong Wetan, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Dalam peristiwa itu tiga orang perwira dari resimen IV Tentara Republik Indonesia serta 34 Taruna Akademik Militer Tangerang. Pada tanggal 25 Januari 1946 tentara Indonesia yang dipimpin oleh Mayor Daan Mogot selaku Direktur Akademi Militer Tangerang, Letnan I Soebijanto Djojohadikoesoemo selaku Polisi Tentara Resimen IV, dan Letnan I Soetopo selaku Polisi Tentara Resimen IV membawa 34 tentara Taruna untuk merundingkan penyerahan senjata pasukan Jepang.

Tetapi ketika sedang merundingkan topik tersebut sekutu menyerang tentara Indonesia dengan menghujani tembakan dan sambil menyerbu pasukan Indonesia. Dari peristiwa tersebut 34 Taruna TNI dan ketiga pemimpin tentara meninggal dalam peristiwa Lengkong.

Monumen Lengkong memiliki peran yang penting terhadap pejuang kemerdekaan di kota tangerang sebagai cagar budaya saksi bisu sejarah di Kota Tangerang Selatan.

Selain digunakan sebagai cagar budaya, monument lengkong juga digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia setiap tanggal 25 januari untuk mengenang para pahlawan yang gugur.

Tokoh utama dalam peristiwa monumen lengkong adalah Mayor Daan Mogot lahir di Manado, Sulawesi Utara, tanggal 28 Desember 1928 dan Meninggal dunia di Lengkong, Tangerang Selatan, Banten, 25 Januari 1946.

Daan Moggot adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan mantan anggota PETA di Bali dan Jakarta pada tahun 1942-1945. Setelah Perang Dunia ke 2 selesai, ia menjadi Komandan TKR di Jakarta dengan pangkat Mayor. Bulan November 1945 mendirikan sekaligus menjadi Direktur Pertama Akademi Militer Tangerang (MAT) diusianya yang masih muda 17 tahun.

Monumen Lengkong juga memiliki keunikan yaitu bentuk tembok berwarna gelap posisi bangunan melengkung kedalam lebih dari dua meter dengan tulisan berwarna keemasan tulisan pada dinding monumen lengkong yang dipahat mengenai peristiwa lengkong.

Monumen lengkong dibuat dengan dinding rumput lumayan tinggi di sisi kiri dan kanannya. Monumen lengkong terlihat terawat dan rapih dengan pepohonan yang cukup rimbun di sekelilinginnya.

Kegiatan yang ada di Monumen Lengkong yaitu setiap tanggal 25 Januari diadakan kegiatan upacara untuk memperingati hari perang pasifik yang dihadiri oleh tentara-tentara dan TNI.

Dalam kegiatan itu dilakukan upacara untuk mengenang para perwira TNI yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Artikel ini disusun oleh : Nurlaely, Firly, Iin, Putri, Anita, Annisa, Dithania, Fifi, Neneng dan Nurmutirah

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here