Hasto: Kader PDI Perjuangan Harus Jalankan Society, National, dan Worldwide View

Jakarta, Suaranusantara.com – DPP PDI Perjuangan (PDIP) menginstruksikan seluruh kadernya untuk terus bergerak di tengah, mencermati dinamika permasalahan yang dihadapi oleh rakyat, dan hadir menjadi solusi yang membantu rakyat dalam mengatasi permasalahannya.

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyampaikan pesan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dalam Pendidikan Kader Pratama (PKP) yang diinisiasi oleh DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang Selatan, di Sekolah Partai, Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (21/9).

Disampaikan Hasto, Megawati berpesan bahwa tiada hari tanpa pergerakan. Partai tidak boleh tidur dan tidak pernah tidur. Konsolidasi terus menerus dan tidak terlena dengan survei.

“Tadi pagi saya melaporkan ke ibu ketua umum, dan beliau berpedan sebagai partai, kita tidak pernah tidur. Sebagai partai kita terus mencermati dinamika rakyat, sebagai partai kita diajarkan konteks sosial dan politik, bahkan dinamika politik internasional harus kita cermati terus menerus. Agar partai tetap mampu memberikan arah bagi perjalanan bangsa dan negara ke depan,” kata Hasto.

Menurutnya, semua kader PDI Perjuangan harus menjalankan tradisi intelektual Bung Karno. Yakni setiap kader harus memiliki society view, national view, dan international view.

Society view adalah pemahaman terhadap apa yang dirasakan masyarakat. National view adalah memandang konteks nasional. Dan worldwide view adalah cara pandang atas apa yang terjadi di tingkat dunia.

Hasto memberi contoh keputusan Pemerintah Jokowi menaikkan harga BBM. Society view menunjukkan bahwa kenaikan harga itu akan memberi dampak pada kenaikan harga sejumlah barang. National view menunjukkan bahwa Pemerintahan Jokowi berusaha menperkuat kedaulatan energi nasional lewat pengambilalihan Blok Rokan Dan Blok Mahakam. Sementara worldwide view menunjukkan bagaimana konflik di Rusia-Ukraina telah memberi dampak terhadap bagian dunia lain, dan termasuk memicu kenaikan harga minyak dunia.

“Sebagaj kader partai kita tidak boleh melupakan sedikitpun tentang apa yang terjadi di tengah rakyat atau society view, apa yang terjadi di nasional atau national view, apa yang terjadi di dunia atau worldwide view, itulah yang diajarkan bung Karno untuk dipahami kader PDI Perjuangan,” kata Hasto.

“Sehingga rekan-rekan bisa memberikan penjelasan, kenapa akhirnya Pak jokowi mengambil keputusan yang sangat pahit dengan menaikkan harga BBM. Tidak ada pemerintahan suatu negara yang mau membebankan rakyat. Itu kalau pemerintahannya punya nurani dan Pak Jokowi kita tahu digerakkan nurani. Pak Jokowi, Bu Mega dan Bung Karno digerakkan satu kesatuan nafas. Pimpinan yang digerakkan naluri untuk berpihak pada rakyat,” tegas Hasto.

Ketua DPC PDI Perjuangan Tangerang Selatan, Wanto Sugito, melaporkan peserta PKP angkatan ke III berjumlah 116 orang. Semuanya hadir karena kesadaran politik ideologis untuk memperkuat materi perjuangan agar bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, hal ini sejalan dengan perintah Megawati dan Hasto. Bahwa di dalam dunia politik, kepintaran diukur dari kemampuan mengartikulasi harapan, aspirasi dan mimpi rakyat menjadi keputusan politik yang terlihat dalam kebijakan publik.

“Seperti Bung Karno yang dengan kepandaian dan kepiawaiannya mampu menjadi penyambung lidah rakyat,” kata Wanto.

Ketua Umum DPN Repdem itu menambahkan, seluruh peserta punya tanggung jawab sejarah untuk mengukir kemenangan PDI Perjuangan di Tangsel pada pemilu 2024 nanti. Yakni dengan target dari 8 menjadi 14 kursi DPRD Tangsel 2024.

“Kami yakin PKP III ini akan menghasilkan kader yang militan, Nasionalis Soekarnois,” pungkas Wanto.(Rnd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here