Aktivis Perempuan Sebut Wanita Masih Jadi Komoditas Bisnis

Kabupaten Tangerang – Aktivis perempuan Tangerang, Eny Suhaeny, menyebutkan bahwa saat ini wanita masih menjadi komoditas bisnis dunia digital. Hal tersebutlah yang membuat penanda jika wanita adalah masyarakat kelas dua.

“Era digital saat ini semakin menguatkan posisi perempuan sebagai objek dari komoditas komersil. Lebih dari 80 persen iklan produk, pemerannya adalah perempuan yang menampilkan sisi seksi mereka,” imbuhnya.

“Padahal, cita – cita R.A Kartini tidak seperti itu,” ungkapnya saat dalam program Ngopi Bareng Marinus Gea disalah satu stasiun radio di Tangerang, Jum’at (20/04/2018).

Eny yang juga mantan anggota DPRD Kabupaten Tangerang periode 2004/2009 menjelaskan. Jika perempuan masih menjadi komoditas bisnis, nantinya akan merusak moral bangsa dan cita – cita dari R.A Kartini.

“R.A Kartini adalah sosok wanita yang memperjuangkan hak memperoleh ilmu untuk dirinya dan perempuan lainnya. Dia menolak untuk dijadikan alat lewat pernikahan dengan orang Belanda,” kata dia.

Sehingga, nilai perjuangan itu yang harusnya menjadi acuan untuk perempuan di Indonesia saat ini.

“Kartini zaman now harus bisa menjadi sosok penting dalam hidup mereka, atau sekitar mereka, bahkan untuk bangsa Indonesia. Karena perjuangan yang kita lakukan lebih mudah, ditunjang dengan kemudahan alat komunikasi dan meraih akses,” tambah dia.

Sementara anggota komisi IX DPR RI, Marinus Gea menjelaskan, masih adanya pandangan tentang perempuan masyarakat kelas dua juga berdampak pada kelangsungan hidup mereka dari sisi pekerjaan.

“Akhirnya mereka yang ingin berkarir sulit untuk meraih posisi strategis. Makanya jarang ada sosok seperti bu Eny yang berani maju sebagai anggota DPRD dan kini menjadi ketua Dewan Pendidikan,” ucapnya.

Ia berharap, kepada generasi milenial agar kembali membaca literasi tentang perjuangan R.A Kartini. “Agar, ketika ganerasi milenial memasuki usia yang cukup matang, bisa menghasilkan generasi yang jauh lebih baik lagi,” tukasnya. (Nji)