Heboh, Foto Asli KH. Hasyim Asy’ari Semasa Muda Ditemukan di Madura

Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari bersama dua santrinya (Foto: FB)
Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari bersama dua santrinya (Foto: FB)

Sumenep – SuaraNusantara

Beberapa hari terakhir ini, ramai diperbincangkan soal foto-foto KH. Hasyim Asy’ari, yang beredar di media sosial. Foto hitam putih saat Mbah Hasyim masih berusia paruh baya itu diyakini keasliannya.

Validitas keaslian foto yang puluhan tahun ‘hilang’ itu diklarifikasi oleh Muhammad Al-Faiz, kakak kandung Muhammad Al-Mubassyir, orang yang pertama kali mengunggah foto tersebut di instgaram dan akun facebooknya.

Menurut Muhammad Al-Faiz, melalui akun facebooknya, foto itu didapat di hari kedua lebaran, ketika sang adik (Muhammad Al-Mubassyir) membongkar-bongkar arsip peninggalan kakeknya, KH Amir Ilyas di rumahnya, kompleks Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep. Foto-foto itu lalu discan, dan diunggah.

“Demikian asal-usulnya, semoga manfaat dan menambah kecintaan kita (kepada Mbah Hasyim),” tulisnya.

Seperti diketahui, KH Amir Ilyas dan adiknya (KH Ashiem Ilyas) semasa remaja merupakan  santri langsung dari Mbah Hasyim. Bahkan KH Ashiem Ilyas dipercaya mencipta lambang Pondok Pesanren Tebuireng Kabupaten Jombang.

Keduanya menjadi sesepuh sekaligus  pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah generasi kedua. Saat ini pondok pesantren yang terletak di kaki perbukitan Desa Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, diasuh oleh generasi ketiga.

Terkait keaslian foto Mbah Hasyim ini, Ketua Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) se-eks Karesidenan, Besuki Muhammad Muslim menyatakan, dirinya tidak menyangsikan bahwa foto itu adalah foto Mbah Hasyim.

“Sebagai alumni Annuqayah, saya yakin foto-foto itu asli. Annuqayah dan Tebuireng mempunyai kedekatan emosional sejak lama,” kata Muslim.

KH. Hasyim Asy’ari (Fot: FB)

Sekilas KH. Hasyim Asy’ari

KH. Hasyim Asy’ari dilahirkan pada 10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287 H) di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Dia merupakan putra dari pasangan Kyai Asyari dan Halimah. Ayahnya, Kyai Ashari, merupakan seorang pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang.

KH Hasyim Asy’ari merupakan anak ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis keturunan ibunya, KH Hasyim Asy’ari merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).

Konon saat KH Hasyim Asy’ari masih dalam kandungan, ibunya bermimpi bulan purnama masuk ke dalam perutnya. Saat melahirkan KH Hasyim, ibunya juga tidak merasakan sakit.

Tahun l899, sekembalinya dari belajar ilmu-ilmu agama di tanah suci Mekah, KH Hasyim Asy’ari mengajar di pesantren milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng. KH Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses.

Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya KH Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.

KH Hasyim Asy’ari merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang akhirnya menjadi organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.

Kakek buyut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini wafat pada  25 Juli 1947 dan dikebumikan di Tebu Ireng, Jombang.

Penulis: Has