Investasi Bitcoin, Amankah?

 

Penulis: Eka Maryono

Bitcoin! Dari sekitar 1.300 jenis mata uang digital yang beredar di dunia, inilah bintangnya. Bitcoin mengguncang dunia karena nilainya yang meningkat sampai ribuan persen. Tak heran bila masyarakat kelas atas beramai-ramai membeli Bitcoin untuk memperoleh keuntungan.

Bitcoin adalah mata uang seperti halnya Dollar, Poundsterling dan lain-lain. Namun, Bitcoin bersifat digital serta mempunyai enkripsi data yang sangat kuat. Selain itu, Bitcoin merupakan mata uang pertama yang tidak bisa dikontrol nilainya oleh institusi, perusahaan, pemerintah, bahkan pencipta mata uang tersebut sekalipun.

Banyak pihak yakin dengan masa depan Bitcoin. Bitcoin dinilai bisa menggantikan uang tunai secara keseluruhan. Apalagi kita bisa mengirim Bitcoin kemana saja di dunia ini dalam hitungan detik. Kemudian biaya transfer yang dikenakan hanya sekitar Rp. 500 – 3,000 per transaksi, tidak peduli berapapun jumlah uang yang dikirimkan.

Pada saat Bitcoin diciptakan, Satoshi Nakamoto selaku penciptanya menegaskan bahwa hanya akan ada 21 juta keping Bitcoin di seluruh dunia. Dengan suplai terbatas, harga Bitcoin akan cenderung naik sehingga terkesan sangat cocok untuk dijadikan investasi jangka menengah dan panjang.

Tapi benarkah Bitcoin bisa dijadikan salah satu investasi untuk memperoleh keuntungan?

Sejak diciptakan pada tahun 2009, harga sekeping Bitcoin memang melejit. Pada saat pertama dirilis dan diperdagangkan, nilainya hanya US$ 0,1 / 1 Bitcoin (sekitar Rp. 1.300). Dari tahun 2009 sampai 2013, nilai tukar Bitcoin mengalami kenaikan 12.000 kali, yaitu sampai pada harga US$ 1,200 / 1 Bitcoin (sekitar Rp. 15.8 juta). Kemudian pada tahun 2017, harga Bitcoin sampai pada level US$ 6,194 / 1 Bitcoin (Rp. 81,7 juta).

Jika dilihat total kenaikan dari tahun 2009 sampai tahun 2017 (kurun waktu 8 tahun), harga Bitcoin sudah naik ribuan kali dari harga semula. Sementara di paruh pertama 2018 sekarang, harga per keping Bitcoin turun naik, tapi tetap terlihat fantastis.

Bitcoin pernah mencapai nilai US$ 9.000 (Rp 120 juta) per keping pada awal Maret 2018, kemudian melejit lagi ke angka US$ 11.660, lalu sempat merosot ke titik US$ 7.335, kemudian naik lagi menjadi US$ 8.495.

Penuh Resiko

Dalam diskusi panel di acara peluncuran buku laporan perekonomian 2017 yang digelar pada Rabu (28/3/2018), Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, investasi mata uang digital atau cryptocurrency sangat berisiko. Oleh karena itu, BI menyarankan masyarakat untuk menghindari jenis investasi tersebut. Apalagi menurutnya, mata uang digital bisa disalahgunakan sebagai sarana pencucian uang dan terorisme.

Dia menegaskan, saat ini hanya ada satu alat transaksi yang sah di Indonesia yaitu Rupiah. Pelarangan mata uang digital sebagai alat untuk transaksi pembayaran, karena dinilai mempunyai underlying yang tidak jelas dan dari sisi perlindungan konsumer masih sangat rendah.

Banyak pihak memang optimis dengan masa depan Bitcoin, namun pada saat bersamaan banyak pula yang meragukannya. Bitcoin dinilai tak lebih dari skema piramida berdasarkan kesediaan untuk menganggap suatu benda bernilai tinggi, padahal nilai aslinya kecil atau bahkan tidak ada nilainya. Sekilas pandangan ini mengingatkan kita pada perisiwa yang dikenal sebagai Tulip Mania.

Tulip Mania terjadi di Eropa pada tahun 1630-an dan mencapai puncaknya pada Februari 1637, dimana setangkai bunga tulip tunggal asal Belanda dihargai dengan sangat tinggi di pasaran Eropa. Tingginya harga tulip saat itu membuat petani bunga ramai-ramai menanam tulip yang segera ludes diborong oleh para tengkulak dan eksportir. Sayangnya, demam tulip tiba-tiba berakhir, dan semua yang terlibat dalam bisnis bunga ini mendadak hancur akibat stok mereka yang berlimpah tiba-tiba runtuh nilainya.

Di Indonesia pun beberapa tahun lalu pernah terjadi peristiwa semacam ini, meski tidak berakibat terlalu dramatis, dimana harga tanaman anthurium yang sejatinya hanyalah tanaman liar, tiba-tiba dihargai dengan sangat tinggi, seiring kabar yang menyebut bahwa tanaman ini akan membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Ribuan bahkan mungkin jutaan pecinta bunga di tanah air tiba-tiba terjangkit demam membeli tanaman ini. Ketika harga anthurium mendadak jatuh, banyak petani dan pengusaha bunga yang merugi karena terlanjur menginvestasikan modalnya hanya untuk anthurium.

Barangkali demikian pula yang terjadi pada Bitcoin. Harganya melejit bukan karena nilainya memang tinggi, tetapi semata-mata karena sedang trend, seiring dengan banyaknya bujukan berupa iklan di dunia maya bahwa Bitcoin merupakan salah satu bentuk investasi yang sangat menguntungkan. Ketika nanti trend berakhir, keruntuhan nilai Bitcoin pasti diikuti dengan keruntuhan para investornya.

Berinvestasi pada Bitcoin memang sangat beresiko. Tidak ada lembaga atau pemerintah yang akan mengganti nilai kerugian anda, karena peredaran mata uang ini memang tidak diatur oleh lembaga atau pemerintah tertentu. Modal yang anda tanamkan tidak akan pernah dijamin karena mata uang virtual tidak dikeluarkan oleh bank sentral. Tidak seperti investasi tetap, di mana setiap jumlah yang disimpan biasanya dijamin oleh negara. Tidak heran bila investor di Bitcoin dapat kehilangan uang setiap saat.

Khusus di Indonesia, transaksi Bitcoin belum ada aturan jelasnya. Hal tersebut merupakan resiko tambahan dalam investasi Bitcoin karena berarti siapa yang transfer dan siapa yang menerima uang akan sulit dilacak.Tak heran bila Gubernur BI menyebut Bitcoin rentan digunakan untuk mendanai aktivitas teroris. Meski anda mungkin tidak peduli dengan masalah terorisme, tapi setidaknya peringatan pemerintah dapat dijadikan lampu kuning bagi anda sebelum berinvestasi. Bila pemerintah mendadak melarang Bitcoin sebagai instrumen investasi, bagaimana nasib uang anda?

Investor juga tidak bisa secara akurat memperkirakan harga Bitcoin karena uang berada di internet. Kita dapat meraih keuntungan atau kehilangan uang sampai setengah dari modal yang diinvestasikan hanya dalam hitungan jam. Bila anda tidak benar-benar memahami seluk beluk investasi Bitcoin, sebaiknya jangan pernah bermimpi untuk meraup keuntungan dari mata uang ini.

Waspada pula dengan penipuan. Mengingat banyak kesalahan informasi dan ketidakjelasan terkait perdagangan Bicoin, para penipu memiliki peluang untuk melakukan aksinya melalui skema Ponzi dengan menjanjikan keuntungan tinggi yang tidak masuk akal. Mirip penipuan investasi emas secara online, dimana anda dibujuk untuk membeli emas, padahal emas fisiknya sendiri tidak ada, lalu anda akan diarahkan untuk merekrut investor lain dengan iming-iming sejumlah keuntungan tambahan.

Kondisi virtual Bitcoin juga dapat diterjemahkan sebagai ancaman bagi investor. Investasi yang diwujudkan melalui nomor virtual menjadi mangsa mudah bagi penjahat dunia maya atau cybercrime. Cara penyimpanan Bitcoin memang membuka celah bagi terjadinya tindak kejahatan jenis ini. Pasalnya agar bisa menampung Bitcoin, maka diperlukan dompet Bitcoin (wallet Bitcoin), Dan untuk membelanjakan Bitcoin diperlukan kode khusus yang bernama “private key” yang bisa disimpan secara lokal maupun dicetak kertas. Masalahnya, kode private key ini bisa dicuri hacker ataupun hilang tanpa diketahui sebabnya.

Jika kode private key yang dicuri terhubung dalam akun wallet Bitcoin, maka Bitcoin anda bisa jadi akan dikirim ke wallet penampung milik pelaku, atau bisa saja dibelanjakan oleh pelaku.

Selain itu, bila anda tidak semata-mata ingin berinvestasi, tetapi ingin pula memanfaatkan Bitcoin sebagai alat pembayaran, sebaiknya anda berpikir ulang terlebih dahulu. Memang ada beberapa situs komersial yang menerima Bitcoin sebagai pembayaran untuk game virtual, seperti poker online dan slot mesin. Namun mata uang ini nyaris belum bisa digunakan dalam hal nyata, seperti membeli mobil atau pakaian. Ini karena dealer dan pemilik toko jarang ada yang percaya bila Bitcoin bisa dipakai sebagai alat pembayaran. Entah di masa depan, tapi di zaman now, rasanya masih sulit memakai Bitcoin untuk membeli suatu produk.

Menimbang segala faktor resiko tadi, menurut anda sendiri, amankah berinvestasi di Bitcoin?

*) Penulis mantan wartawan desk ekonomi, sosial dan budaya di Surat Kabar Mingguan (SKM) Inti Jaya dan Harian Suaka Metro.