Lebih dekat dengan Thomas Utomo

Thomas Utomo dan Thomas Sam Jung Hong, siswa Saint Paul, Seremban, Malaysia (Foto: Dok. Pribadi)
Thomas Utomo dan Thomas Sam Jung Hong, seorang siswa Saint Paul, di kawasan Seremban, Malaysia (Foto: Dok. Pribadi)

Purbalingga – SuaraNusantara

Menulis adalah cara terbaik untuk merawat dan mewariskan kenangan, juga sebagai jalan untuk melepas ketegangan dan keruwetan pikiran maupun perasaan.

Demikian dikatakan Thomas Utomo yang akrab disapa dengan panggilan Totok, di kediamannya, di Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, Senin (12/3/2018).

Setidaknya, Totok membuktikan hal tersebut ketika ayahnya -Purwotri Hadi Saputro- meninggal beberapa tahun lalu. Di tengah dera kesedihan, Totok justru terdorong untuk menuliskan segala kecamuk perasaan dan pikiran dalam bentuk coretan di kertas.

“Usainya, saya merasa plong dan justru mendapat kekuatan baru. Sejak itu, saya selalu yakin bahwa menulis adalah upaya terapi diri dari keruwetan hidup,” katanya.

Totok juga percaya bahwa menulis adalah cara lain untuk berkomunikasi dengan banyak orang, tanpa perlu berhadapan. Sebagai pribadi yang agak introvert, Totok mengaku cenderung malu dan sukar untuk bercakap dengan banyak orang.

“Tapi dengan menulis, saya merasa lebih leluasa menyampaikan isi kepala dan hati kepada orang lain, tanpa merasa segan atau malu,” ujarnya.

Beragam tulisan berupa artikel, novel dan cerpen telah dihasilkan oleh pria kelahiran Banyumas, 1 Juni 1988 ini. Tema keluarga bernuansa Jawa, serta cerita keseharian di sekolah yang berangkat dari pengalaman anak-anak maupun guru, mendominasi tulisannya. Untuk pemilihan tema ini, Totok punya alasan sendiri.

“Keluarga merupakan masyarakat paling kecil, namun punya peran besar bagi perkembangan manusia. Belakangan, setelah menjadi kepala keluarga, saya sadar betapa pentingnya peran keluarga bagi pembentukan kepribadian untuk bekal mengarungi hidup masa depan. Nuansa Jawa, karena saya lahir dan besar dalam kultur masyarakat Jawa. Menulis tentang keluarga dengan disisipi nuansa Jawa membuat saya merasa berada dalam rumah sendiri, rasanya nyaman dan kerasan (betah),” katanya.

Adapun mengenai cerita keseharian di sekolah sebagai tema yang juga sering diusung, lantaran dalam kehidupan sehari-hari, Totok berprofesi sebagai guru di Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Purwokerto, yang berjarak belasan kilometer dari Kabupaten Purbalingga.

Beberapa hasil karya Totok yang telah diterbitkan sebagai buku, antara lain Catatan dari Balik Jendela Sekolah (memoar, Elex Media Komputindo, 2015), Hikayat Tanah Beraroma Rempah (kumpulan cerpen, Pustaka Puitika, 2015), Misteri Nenek Pemuntah Darah (kumpulan cerpen anak, Pro U Media, 2016), Aku Bukan Gay (kumpulan cerpen, Loka Media, 2016), Lepas Rasa (kumpulan cerpen, Loka Media, 2017), dan Cerita dari Asrama Tentara (novel anak, Bitread, 2017).

Untuk karya bersama berupa antologi, coretan Totok terhimpun dalam Creative Writing (kumpulan tulisan fiksi dan nonfiksi tentang sastra, STAIN Press, 2013) dan Bunga Rampai Pemenang Lomba Karya Tulis Fiksi SD (kumpulan cerpen anak, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, 2017).

Berbagai esainya juga bertebaran di media massa, seperti artikel tentang masalah gizi dan kesehatan. Totok pernah pula menyabet Juara I Lomba Karya Tulis Fiksi dalam rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas tahun 2017.

Warisan Orangtua

Memiliki orangtua yang gemar membaca, membuat Totok mendapat warisan spesial, bukan harta benda, melainkan hobi membaca. “Saya tumbuh dalam keluarga yang gemar membaca. Bapak dan ibu, sama-sama suka baca koran, tabloid, majalah, dan novel. Mereka sering menghadiahi saya majalah, komik, kumpulan cerita rakyat, kumpulan cerita wayang, atau buku pengetahuan umum semacam buku sejarah dan sains,” tutur Totok.

Selain membanjiri Totok dengan hadiah bahan bacaan, sang ibu -Susmiyati- juga kerap berkisah tentang pengalaman masa lalu, riwayat keluarga, dan cerita-cerita yang sudah atau sedang dibaca. Dengan segudang bahan cerita yang tertanam di benaknya, lambat laun Totok berpikir, alangkah menariknya jika dia juga membuat cerita seperti itu.

Totok pun mulai mencoba untuk menulis. Tapi tidak mudah ternyata, karena menulis membutuhkan ketekunan, kekayaan pengetahuan, penguasaan kosakata, kejelian mengatur diksi, dan sebagainya. Kendati begitu, dia merasa tertantang untuk melakoninya.

“Awalnya, saya menulis pakai tangan. Kemudian dikirim ke sejumlah media. Tulisan itu berupa cerpen dan artikel. Alhamdulillah, ada yang dimuat, meski banyak juga yang ditolak. Saya juga pernah mengirim banyak tulisan yang ditulis dengan mesin ketik. Cukup banyak yang dimuat. Kalau sekarang, ya kirimnya dalam bentuk soft file yang diketik pakai komputer,” katanya.

Untuk urusan suka duka sebagai penulis, Totok mengaku lebih banyak sukanya. “Sukanya ketika sudah selesai menulis, saya merasa berhasil mengalahkan diri sendiri. Berhasil menaklukkan rasa malas, mengalahkan rasa enggan, ide macet, dan rasa tidak percaya diri,” katanya.

Suka berikutnya ketika tulisannya dimuat di media massa. Setiap kali ada tulisan yang dimuat, entah apapun jenisnya, Totok selalu merasa lega. “Rasa suka lainnya adalah ketika ada yang mengapresiasi tulisan saya, entah berupa kritik maupun saran perbaikan,” katanya.

Namun dibanding mendapat pujian, Totok mengaku lebih senang dapat kritikan, karena dari kritik tersebut dia bisa memperbaiki diri. “Tapi saya tetap mengucapkan terima kasih pada orang-orang atau pembaca yang sudah melantunkan pujian maupun kritik,” katanya.

Sementara kalau bicara duka, adalah ketika tulisannya ditolak oleh media massa. Saat baru merintis karir sebagai penulis, Totok sampai frustasi karena hal itu, sampai-sampai sempat tidak mau menulis lagi.

“Lama-lama, dengan berubahnya waktu dan usia serta pengalaman hidup, kalau tulisan saya ditolak, saya cuma kecewa dan beberapa saat kemudian sembuh. Esoknya, nulis lagi,” katanya tertawa.

Meski tidak terlalu menghiraukan soal honorarium, Totok mengakui bila profesi sebagai penulis dapat dijadikan sebagai mata pencaharian utama. Menurut alumni Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini, ada tiga hal yang harus dijalankan bila ingin menjadikan profesi penulis sebagai penghasilan utama, yaitu tekun, produktif, dan marketable.

“Tulisan kita harus marketable, supaya mudah diserap pasar. Saya melihat sendiri ada beberapa kenalan yang benar-benar hidup hanya dengan mengandalkan honorarium dari menulis,” katanya seraya menyebut beberapa nama. (eka)