Mengenang PT. Nyonya Meneer, Pionir Jamu yang Dinyatakan Pailit

Foto: Internet

    Foto: Internet

Jakarta-SuaraNusantara

Gara-gara tidak sanggup membayar hutang yang mencapai sebesar Rp 89 miliar, Pengadilan Negeri Semarang menyatakan PT Nyonya Meneer pailit. Keputusan ini mengagetkan banyak pihak, khususnya penggemar jamu di tanah air.

Sejarah jamu Cap Portret Nyonya Meneer memang begitu panjang dan penuh kenangan. Berdiri sejak tahun 1919, dua tahun lagi perusahaan ini akan genap berusia satu abad.

Tak disangka, perjalanan perusahaan jamu yang berpusat di Semarang, Jawa Tengah, dan sempat menjadi salah satu perusahaan jamu terbesar di Indonesia, ternyata mengalami hambatan serius. Entah apakah pewaris perusahaan keluarga itu bakal mampu menjalankan perusahaan ini kembali.

Melihat foto perempuan memakai kebaya yang menjadi ikon jamu tersebut, dan mengingat bahwa racikan jamu Nyonya Meneer semuanya berbahan baku rempah-rempah khas Indonesia, masyarakat mungkin mengira bahwa jamu Nyonya Meneer awalnya dibuat oleh orang Jawa.

Namun dugaan itu salah besar karena peracik jamu Nyonya Meneer adalah perempuan Tionghoa bernama Lauw Ping Nio yang lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, pada tahun 1895.

Sejak kecil, Lauw Ping Nio dipanggil dengah sebutan Menir, yaitu sisa butir halus penumbukan padi. Konon, ketika Lauw Ping Nio masih dalam kandungan, ibunya sering ngidam makan beras menir sehingga pada waktu bayi yang dikandungnya lahir diberi julukan Menir. Karena pengaruh ejaan Belanda, ejaan Menir berubah menjadi Meneer.

Lauw Ping Nio merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ia menikah dengan pria asal Surabaya, dan kemudian setelah menikah, mereka pindah ke Semarang.

Dikutip dari berbagai sumber, terutama dari njonjameneer.com dan Wikipedia, berdirinya pabrik jamu ini bermula ketika suami Lauw Ping Nio jatuh sakit pada awal dekade 1900-an. Beragam obat dari dokter sudah diberikan kepada suaminya, namun penyakit yang diderita tak kunjung sembuh.

Di tengah keputusasaannya, Lauw Ping Nio kemudian mencoba meramu jamu Jawa yang pernah diajarkan orang tuanya, ternyata penyakit suaminya sembuh. Sejak saat itu, Lauw Ping Nio yang oleh masyarakat sekitar dipanggil Nyonya Meneer, menjadi terpacu untuk memperdalam kemampuan meramu jamu Jawa untuk menolong keluarga, tetangga, kerabat maupun masyarakat sekitar yang membutuhkan.

Pada tahun 1919 atas dorongan keluarga berdirilah jamu Cap Portret Nyonya Meneer yang kemudian menjadi cikal bakal salah satu industri jamu terbesar di Indonesia. Selain mendirikan pabrik jamu, Ny Meneer juga membuka toko jamu di Jalan Pedamaran 92, Semarang. Perusahaan keluarga ini terus berkembang dengan bantuan anak-anaknya yang mulai besar.

Ia mencantumkan nama dan potretnya pada kemasan jamu yang ia buat dengan maksud membina hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat yang lebih luas. Berbekal perabotan dapur biasa, usaha keluarga ini terus memperluas penjualan ke kota-kota lain di sekitar Semarang.

Pada tahun 1940 melalui bantuan putrinya, Nonnie, yang hijrah ke Jakarta, berdirilah cabang toko Nyonya Meneer, di Jalan Juanda, Pasar Baru, Jakarta. Perusahaan Nyonya Meneer kemudian berkembang pesat setelah dikelola oleh anak Lauw Ping Nio yang lain, Hans Ramana.

Nyonya Meneer meninggal dunia tahun 1978, generasi kedua yaitu anaknya, Hans Ramana, meninggal terlebih dahulu pada tahun 1976. Operasional perusahaan kemudian diteruskan oleh generasi ketiga yakni kelima cucu Nyonya Meneer.

Sayangnya, pada kurun tahun 1984 sampai 2000-an, perusahaan ini sempat mengalami masalah internal. Mulai dari perebutan kekuasaan hingga tuntutan pemberian tunjangan hari raya dan pemogokan buruh. Menaker Cosmas Batubara saat itu sampai ikut turun tangan. Sebab, pertikaian antar keluarga sudah melibatkan ribuan pekerja di perusahaan itu

Perpecahan kemudian terjadi ketika kelima cucu ini menjatuhkan pilihan untuk berpisah. Kini perusahaan murni dimiliki dan dikendalikan salah satu cucu Nyonya Meneer yaitu Charles Saerang. Sedangkan keempat orang saudaranya, setelah menerima bagian masing-masing, memilih untuk berpisah.

Puncak kejayaan perusahaan jamu Nyonya Meneer terjadi pada dekade 1990-an dan berlanjut ke dekade 2000-an. Pada tahun 2006, Nyonya Meneer berhasil memperluas pemasaran jamu ke Taiwan, setelah sebelumnya berhasil memasuki Malaysia, Brunei, Australia, Belanda dan Amerika Serikat. Total penyebaran jamu Nyonya Meneer telah merambah ke 12 negara.

Produk-produknya yang terkenal di pasar antara lain Galian Putri, Jamu Sariawan, Amurat, Sakit Kencing, Sehat Wanita, Pria Sehat, Galian Rapet, Bibit (jamu supaya hamil), Mekar Sari, Galian, Jamu Habis Bersalin, Awet Ayu, Gadis Remaja, Susut Perut, Bikin Gemuk, Jamu Langsing, Wasir, dan Minyak Telon.

Kini sang Nyonya Meneer terancam tinggal kenangan. Entah apakah perusahaan tersebut akan gulung tikar dan menghentikan produksinya, ataukah mereka mampu bertahan dan keluar dari lilitan krisis ini.

Yang jelas, Nyonya Meneer yang dulu perkasa kini telah goyah. Berdiri sejak tahun 1919, mungkin membuat sang nyonya merasa lelah.

Penulis: Yon K