Suaranusantara.com- Di tengah ketidakpastian global, Presiden RI Prabowo Subianto mulai mengambil langkah antisipasi. Salah satunya, mengantisipasi kelangkaan BBM imbas eskalasi serangan antara Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran.
Prabowo mengatakan pemerintah berkomitmen untuk mewujudkan swasembada energi. Terlebih, Indonesia ini kaya sekali akan sumber domestik yang bisa dijadikan sumber energi seperti BBM.
Prabowo mengatakan melalui pengembangan bahan bakar nabati seperti singkong hingga kelapa sawit, maka Indonesia tidak perlu impor dari luar negeri.
“Kita memiliki karunia besar dari Yang Maha Kuasa, bahwa kita nanti mampu kebutuhan BBM kita dari, bukan dari impor luar negeri, bahkan dari tanaman-tanaman kita. Dari kelapa sawit, dari singkong,” kata Prabowo dalam Konferensi Pers secara virtual, dikutip Selasa 10 Maret 2026.
Prabowo lantas mengingatkan bahwa selama bertahun-tahun pemerintah telah memperjuangkan kemandirian energi nasional.
Di sisi lain, Prabowo juga turut menyinggung upaya yang selama ini ia perjuangkan terkait kemandirian pangan.
Adapun, di tengah konflik yang terjadi dimana-mana, Indonesia tengah menuju kondisi swasembada pangan, terutama untuk komoditas beras.
“Kita juga sebentar lagi akan mencapai kemampuan kita, memenuhi kebutuhan protein kita. Apapun terjadi di mana bangsa-bangsa lain banyak akan mengalami kesulitan, minimal kita aman, masalah pangan,” ungkap Prabowo.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah sedang melakukan berbagai simulasi kebijakan untuk menentukan langkah efisiensi yang paling tepat dalam menghadapi kepastian pasokan energi global.
Efisiensi yang dimaksud adalah terkait penyelamatan terhadap keuangan negara dan optimalisasi seluruh energi yang tersedia di dalam negeri.
“Kita juga akan melihat seberapa penting dan langkah apa yang harus kita lakukan dalam rangka melakukan efisiensi,” kata Bahlil di Kementerian ESDM, Senin 9 Maret 2026.
Bahlil membeberkan salah satu langkah yang dipertimbangkan pemerintah adalah mempercepat pemanfaatan bahan bakar nabati melalui peningkatan campuran biodiesel dan bioetanol.
Setidaknya pemerintah bakal menggenjot penerapan biodiesel dengan campuran lebih tinggi hingga B50 serta mendorong penerapan bioetanol E20 pada BBM jenis bensin.
“Karena kalau harga minyak fosil bisa melampaui US$100 per barel, maka akan lebih murah jika kita melakukan blending. Untuk diesel, dari B40 sekarang menjadi B50. Atau kita bikin mandatori untuk bensin dan itu lebih bersih,” katanya.


















Discussion about this post