Penting, Segera Beralih ke e-Commerce!

Ilustrasi | Foto: IST
Ilustrasi | Foto: IST

Jakarta – SuaraNusantara

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah mengingatkan, saat ini terjadi perubahan yang sangat cepat di berbagai sektor. Perubahan ini salah satunya telah mengubah landscape ekonomi dunia.

Di Indonesia sendiri dampaknya sudah terasa sejak dua tahun silam. Hampir seluruh mal di sejumlah daerah terlihat sepi pengunjung. Di Mall Tamini Square, Jakarta Timur, misalnya, puluhan toko terlihat tutup.

Fenomena sepinya pengunjung mall atau tutupnya sejumlah gerai-gerai perbelanjaan tidak terlepas dari menjamurnya e-commerce. Berbagai kelebihan ditawarkan e-commerce seperti harga kompetitif, banyak varian, dan tidak perlu menguras waktu dan tenaga untuk datang ke mall.

Kepala Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan RI, Suahasil Nazara, mengungkapkan, bisnis e-commerce di Indonesia akan terus berkembang.

“Baru berkembang. Masih akan terus berkembang,” ujar Suahasil, menanggapi fenomena e-commerce di Tanah Air, Rabu (07/03/2018).

Pertumbuhan jumlah konsumen e-commerce tidak terlepas dari keseriusan perusahaan untuk mempromosikan brandnya melalui berbagai media. Jumlah belanja iklan perusahaan e-commerce bahkan menembus angka ratusan juta rupiah. Data yang dihimpun SNC, per September 2017 Bukalapak menggelontorkan dana Rp 244,98 miliar untuk belanja iklan. Kemudian disusul Tokopedia Rp 225,70 miliar. Shopee dan Blibli mengikuti di belakangnya dengan belanja iklan masing-masing Rp 177,92 miliar dan Rp 151,34 miliar.

Pemerintah Data e-Commerce

Pemerintah melalui Badan Pusat Statistik ( BPS) saat ini sedang mendata e-commerce, yang antara lain berupa omzet, investasi asing dan lokal, transaksi, metode pembayaran, tenaga kerja serta teknologi dalam sebuah e-commerce.

Pendataan ini menurut Kepala Badan Pusat Statistik, Kecuk Suhariyanto, bertujuan untuk mengumpulkan referensi penyusunan roadmap e-commerce nasional, rujukan untuk menghitung inflasi, membuat pemain mengetahui kondisi dan porsi sebenarnya dari industri terkait, serapan tenaga kerja hingga perilaku konsumen.

“Perekaman data diharapkan bisa minggu pertama atau kedua Januari. Datanya dalam rentang triwulan serta bulanan supaya ketahuan fluktuasi bulanannya. Namun soal mekanisme perekaman masih subject to discuss,” terang Kecuk dalam Sosialisasi Perekaman Data E-Commerce di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (15/12/2017).

Kecuk menambahkan perekaman data ini baru tahap pertama, sehingga belum mencakup e-commerce yang bukan anggota IdEA. Para pelaku e-commerce tersebut akan diklasifikasikan ke dalam 9 kategori, yaitu marketplace atau e-retail, logistik, , travel, transportasi, specialty store, daily deals, classified horizontal, classified vertical, dan payment. (Rio)