Trenggiling, “Jelmaan Setan” yang Laris Diburu

Induk trenggiling menggendong anaknya (Foto: Net)
Induk trenggiling menggendong anaknya (Foto: Net)

Jakarta-SuaraNusantara

Trenggiling bisa ditemui di Pulau Nias, Mentawai, Riau, Kalimantan, Jawa, Bali dan Lombok, dan bisa dikatakan tersebar di Indonesia Barat bahkan sejenisnya pun bisa dijumpai di Burma, Malaysia, Singapura dan Filipina. Lantaran terlalu sering diburu, hewan yang jantungnya disebut-sebut mirip jantung manusia ini beresiko mengalami kepunahan.

Hewan berlidah panjang dan berliur lengket ini punya nilai jual tinggi di pasaran gelap internasional. Di dalam negeri, trenggiling dijual ratusan ribu rupiah. Ke luar negeri sudah jutaan rupiah harganya.

Di beberapa daerah tertentu di Indonesia, seperti di Pulau Sumatera, lidah trenggiling yang dipotong dari pangkalnya dalam kondisi masih hidup dipercaya bisa dijadikan sebagai jimat penglaris usaha. Caranya, setelah lidah dipotong dari pangkal, lalu dijemur di bawah terik matahari sampai liur di lidah tersebut mengering.

Tapi hati-hati, lidah itu jangan sampai rusak, koyak, atau patah saat dipotong atau dijemur. Kalau lidah itu sudah ada cacatnya, dipercaya khasiatnya akan hilang. Lidah yang dipotong dalam kondisi trenggiling sudah mati juga tidak lagi memiliki khasiat. Lidah yang tidak terpotong sempurna dari pangkalnya juga tidak punya khasiat apa-apa.

Selanjutnya, lidah trenggiling yang sudah dijemur itu direndam dalam toples berisi minuman keras supaya awet. Cara pakai tak rumit, cukup toples minuman beralkohol berisi lidah trenggiling dimasukkan ke laci tempat uang di tempat berjualan. Kalau mau lebih ampuh, jimat lidah ini bisa dibawa ke orang pintar untuk dimantrai lebih dulu.

Sementara daging trenggiling hampir selalu disantap sebagai hidangan berkhasiat obat. Masyarakat Jepang dan Cina merupakan konsumen terbesar daging hewan ini, namun masyarakat Afrika juga banyak yang menggemari hidangan berbahan baku trenggiling, biasanya dengan cara dibakar. Daging trenggiling yang dibakar, tekstur dan rasanya menjadi seperti babat sapi.

Sedangkan di Cina dan Jepang, daging trenggiling biasanya diolah dalam bentuk sup. Khasiatnya dipercaya mampu memperkuat fungsi jantung, paru-paru, ginjal dan limpa. Penyakit yang dipercaya mampu diobati dengan trenggiling antara lain, jantung, paru-paru, darah tinggi, diabetes/kencing manis, mencegah stroke dan mempercepat penyembuhan pasca stroke, meredakan nyeri sendiri/otot, ejakulasi dini, mengobati kanker dan haid tidak teratur, serta mengatasi stress dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Bukan cuma dagingnya, sisik kulit trenggiling juga diolah sebagai bahan baku kosmetik. Dipercaya, kosmetik berbahan baku sisik trenggiling mampu mencerahkan kulit. Khusus di Cina, sisik trenggiling yang dikeringkan dan dibakar dijadikan obat penyakit gelisah berlebihan (panic disorder), tangisan histeris, bahkan mampu mengobati kelumpuhan.

Dengan segudang manfaat yang sebenarnya belum pernah diteliti kebenarannya secara medis tersebut, satu kilogram sisik trenggiling bisa laku hingga Rp. 3 juta per kilo. Untuk mendapatkan berat satu kilogram, biasanya dikumpulkan dari  tiga atau empat ekor trenggiling. Sedangkan dagingnya bila sudah sampai di pasaran gelap dunia dihargai Rp. 5 juta s/d 6 juta per kilo.

Kamerun, Nigeria dan Ghana merupakan tiga negara Afrika yang menjadi pemasok terbesar sisik trenggiling di pasaran gelap dunia. Sementara para pengepul daging trenggiling di tanah air biasa menerima pasokan dari para pencari trenggiling. Setelah daging terkumpul dan dibekukan, lalu dikirim  dengan menggunakan jalur laut menuju Jepang, Cina, Malaysia, Taiwan serta Singapura.

Padahal, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999, misalnya, trenggiling masuk daftar hewan yang dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan. Lalu pelaku perdagangan trenggiling sebenarnya dapat dijerat UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, melalui pasal 21 ayat 2 huruf a, dan pasal 40 ayat 2. Undang-undang itu berisi ancaman hukuman pidana lima tahun dan denda Rp 100 juta.

Dunia internasional juga sudah melarang perdagangan trenggiling. Pertemuan konvensi internasional tentang perdagangan satwa dan tumbuhan liar yang terancam punah (Cites) telah menyetujui pelarangan perdagangan delapan spesies trenggiling. Semua negara yang hadir dalam konvensi yang digelar pada bulan September 2016 itu, termasuk Indonesia, harus patuh pada keputusan untuk tidak memperdagangan trenggiling.

Tak ketinggalan Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut mengeluarkan fatwa melarang perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar. “Semua kegiatan perburuan yang mengakibatkan kepunahan satwa liar tanpa dasar agama atau ketentuan hukum adalah haram,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni’am Sholeh pada bulan Maret 2014.

Meski sekarang laris diburu, pada zaman dulu hewan ini banyak ditakuti masyarakat karena bentuknya yang aneh. Jangankan memakan, menangkapnya saja tidak ada yang berani, setidaknya bagi warga pedalaman Kalimantan Selatan di era dekade 1960 hingga 1980-an.

Pada masa itu di pedalaman Kalimantan Selatan, masyarakat percaya bahwa hadirnya trenggiling di suatu desa bertanda kurang baik. Lambat laun masyarakat menjadi berani untuk memburu trenggiling, namun bukan untuk dimakan tetapi untuk dimusnahkan melalui cara dibakar, agar roh jahat yang ada di dalam tubuh binatang itu ikut musnah dan tidak menganggu manusia.

Tetapi, trenggiling yang sudah tertangkap, diikat, dan dimasukkan ke dalam karung ternyata dikabarkan sering hilang begitu saja, sehingga akhirnya muncul anggapan trenggiling sebagai jelmaan setan.

Dengan anggapan demikian, maka di era tahun-tahun tersebut populasinya cukup terpelihara, sehingga mudah dijumpai di pedalaman hutan. Berbeda dengan saat ini dimana trenggiling berada di ambang kepunahan, baik karena perburuan liar maupun karena rusak dan berkurangnya habitat akibat pembakaran hutan untuk dijadikan kawasan perkebunan.

Tubuh trenggiling lebih besar dari kucing. Berkaki pendek, berekor panjang dan berat. Hal uniknya adalah bersisik di tubuhnya, yang tersusun layaknya genting rumah. Sisik pada bagian punggung dan bagian luar kaki berwarna cokelat terang. Binatang berambut sedikit itu tidak mempunyai gigi.

Untuk memangsa makanannya yang berupa semut dan serangga, trenggiling memakan semut, telur semut, dan rayap. Untuk menggantikan fungsi gigi, dia akan memakan kerikil untuk melumatkan makanan. Trenggiling menggunakan lidah yang terjulur dan berlendir. Panjang juluran lidahnya dapat mencapai setengah panjang badan.

Pada siang hari trenggiling tidur di dalam tanah. Sarang ini biasanya dibuat sendiri atau merupakan bekas sarang binatang lain yang tidak lagi ditinggali.

Guna melindungi diri dari serangan musuh, trenggiling menyebarkan bau busuk. Ia memiliki zat yang dihasilkan kelenjar di dekat anus yang mampu mengeluarkan bau busuk, sehingga musuhnya lari. Musuh trenggiling adalah anjing dan harimau.

Binatang unik itu berkembang biak dengan melahirkan. Hanya ada satu anak yang dilahirkan seekor trenggiling betina setelah masa kehamilan dua sampai tiga bulan saja.

Jika diganggu, trenggiling akan menggulung badannya seperti bola. Ia dapat pula menyabetkan ekornya, sehingga “sisik”nya dapat melukai kulit pengganggunya.

Ada tujuh jenis Trenggiling yang masih hidup yaitu Trenggiling India (Manis crassicaudata) terdapat di India dan Srilangka, Trenggiling Cina (M. pentadactyla) terdapat di Taiwan dan RRC Selatan, Trenggiling Pohon (M. tricuspis), Trenggiling Berekor Panjang (M. tetradactyla), Trenggiling Raksasa (M.gigantea) dan Trenggiling Temmick (M. Temmicki) terdapat di Afrika serta yang terakhir adalah Trenggiling Jawa (M. javanica) terdapat di Semenanjung Malaysia, Birma, Indocina (Vietnam, Laos, Kamboja) dan pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa.

Penulis: Yono D/dari berbagai sumber