Suaranusantara.com – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyatakan butuh aksi nyata yang kolektif, kepemimpinan kuat, dan komitmen para pemangku kepentingan, masyarakat, dan sektor swasta untuk menjawab tantangan sektor pendidikan pada 2026.
Pernyataan ini disampaikan saat melihat kondisi pendidikan di Indonesia yang dinilai masih memprihatinkan.
“Di tengah keterbatasan dana, kita dihadapkan pada kondisi kompetensi tenaga pengajar, kemampuan peserta didik, kensenjangan digital, isu kesejahteraan guru yang belum memadai yang menanti langkah segera untuk mengatasinya,” kata Lestari dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (27/12/2025).
Lestari menjelaskan, nilai rerata siswa SMA sederajat di Tes Kemampuan Akademik 2025, sebagaimana yang diungkapkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pada Senin (22/12/2025) lalu. Dimana, nilai rata-rata paling tinggi mata pelajaran wajib adalah Antropologi, dan paling rendah adalah Bahasa Inggris dan matematika.
Sementara itu, kesenjangan digital antara masyarakat perkotaan dan perdesaan juga terbilang lebar. Catatan Badan Pusat Statistik pada 2023, meski akses internet meningkat, tetapi kepemilikan komputer/laptop untuk belajar di perkotaan tercatat 65%. Sedangkan di perdesaan kepemilikan komputer/laptop untuk belajar baru 28%.
Di sisi lain, kualitas keterampilan guru untuk menjalankan pembelajaran baik luring maupun jarak jauh juga belum memadai.
Menurut Lestari, upaya pemulihan sektor pendidikan dan percepatan peningkatan kualitas pembelajaran harus dikedepankan dengan fokus pada penguatan literasi, numerasi, dan karakter peserta didik.
Lestari berpendapat, langkah-langkah tersebut butuh dukungan semua pihak untuk menyelamatkan kondisi pendidikan nasional dari krisis pembelajaran yang dihadapi.


















Discussion about this post