BNPB Tegaskan Potensi Gempa di Selatan Banten Bukan Hoaks

Kondisi kerusakan salah satu rumah di Mandalawangi setelah diguncang gempa.(aep)

Kabupaten Pandeglang – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo menegaskan, potensi gempa di wilayah selatan Banten yang pernah dikaji peneliti bukanlah hoaks.

“Potensi gempa di bagian selatan Banten itu bukan hoaks. Peneliti, pakar para riset tentang potensi ini dua minggu lalu dan sempat ada kekhawatiran. Hal ini lah yang kita hadapi sekarang, gempa bisa datang kapan saja. Hanya tidak ada satupun teknologi yang mengetahui kapan waktunya,” papar Doni saat meninjau dampak gempa di Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang, Sabtu (3/8/2019).

“Potensi-potensi ini kita amati terus, harus kita lakukan berbagai langkah agar masyarakat selatan pulau Jawa. Baik itu Jawa Timur, Jawa Tengah selalu siap,” sambungnya.

Menurut Doni, bangunan yang rusak berat pasca-gempa karena disebabkan kontrukai yang belum standar sehingga dengan mudah ambruk saat dihantam gempa.

“Ya tidak ada tulang, tidak ada besi, dengan mudah ambruk,” jelasnya.

Doni membandingkan bencana gempa Banten dengan yang terjadi di Halmahera Selatan. Menurutnya, dengan kekuatan gempa 6,9 Banten terbilang beruntung karena tak banyak mengalami kerusakan.

Lebih lanjut Doni mengatakanz BNPB akan membuat konsep simulasi bencana tsunami sampai ke tingkat keluarga.

“BNPB perlu menyusun konsep simulasi tsunami yang harus melibatkan keluarga, tidak cukup latihan di tingkat aparat. Semua keluarga harus mengikuti latihan agar tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa karena yang terdampak langsung adalah keluarga,” jelasnya.

Berdasarkan data Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pandeglang, kerusakan pasca-gempa sebanyak 148 rumah rusak, 4 sekolah dasar setingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), 3 sarana ibadah, 1 ponpes dan 1 orang meninggal dunia serta mengalami luka-luka.(aep/and)

Exit mobile version