Soal Pergantian Nama Bandara Binaka, Ini Tanggapan Sejumlah Tokoh

Dalihuku Mendofa | Foto: Dokumentasi L. Mendrofa

Jakarta-SuaraNusantara

Wacana pergantian nama Bandara Binaka menjadi nama salah seorang tokoh terus bergulir. Sebagian besar menyambut positif  rencana tersebut, karena menjadi sebuah kebanggaan dan penghargaan bagi tokoh yang telah berjasa.

Menanggapi wacana tersebut, beberapa tokoh masyarakat Nias yang dihubungi SuaraNusantara menyatakan dukungannya. Mereka menyambut baik usulan pergantian nama Bandara Binaka menjadi nama tokoh. Salah satu tokoh yang mengerucut untuk diusulkan menggantikan nama Bandara Binaka adalah Dalihuku Mendrofa atau dikenal dengan nama Dalimend. Dalimend adalah tokoh yang menggagas pendirian Bandara Binaka.

“Saya merasa gembira dan mengapresiasi (usulan tersebut) karena kita orang Nias harus menghormati tokohnya yang telah berjasa, dapat dijadikan panutan dan dibanggakan oleh seluruh masyarakat, khususnya generasi muda Nias,” ujar Mayjen TNI (Purn) Christian Zebua.

Selama ini, ujarnya, Kepulauan Nias memiliki banyak tokoh tapi kita sendiri yang tidak pernah mentokohkan mereka. Akibatnya, generasi muda terinspirasi dengan tokoh daerah lain.

Christian pun mengusulkan nama Dalihuku Mendrofa sebagai nama bandara. “Saran saya karena ini nama bandara, maka kita hormati tokoh yang berjuang dan berjasa terhadap terealisasinya idaman seluruh masyarakat Nias untuk punya bandara sendiri, yaitu Bapak Dalimen,” katanya.

Senada dengan Christian, Kolonel Laut (S) Yulianus Zebua juga memilih Dalihuku Mendrofa untuk diabadikan sebagai nama bandara. “Dalimend lebih tepat. Saya berharap semua pihak bersama pemerintah daerah segera aksi. Jangan gagasan baik ini terlalu lama menjadi wacana. Saya mendukung sepenuhnya,” tegas pria yang saat ini menjabat Kepala Departemen Suplai Akademi Angkatan Laut (AAL).

Kolonel (Pnb) Historis Bu’ulölö saat dimintai komentarnya juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, Bandara Binaka dibangun atas prakarsa Bupati Dalimend, seorang Letkol (Purn) TNI AU.

“Beliau (Dalimend) berjuang di Kemhub RI yang saat itu (dipimpin) Menteri Perhubungan Rusmin Nuryadin. Perjuangan beliau berhasil dan dibangun (bandara) di daerah Binaka. Kalau tidak salah (diresmikannya) tahun 1977,” katanya.

Historis juga bercerita bahwa saat peresmian bandara tersebut, Bupati Dalimend memohon kepada TNI AU agar acara peresmian dimeriahkan dengan atraksi terjun payung, dan terwujud dengan terjunnya puluhan anggota Paskhas dari pesawat C-130 Hercules milik TNI AU. Itu adalah pertama kalinya ada atraksi terjun payung di Kepulauan Nias.

“Sehingga saran saya, nama tokoh yang lebih relevan sebagai pengganti Bandara Binaka adalah Bapak Letkol (Purn) Dalimend,” tutur Historis.

Sedangkan Laksamana Pertama TNI Enuar Mendrofa menilai, masuknya nama tokoh untuk dijadikan nama bandara merupakan bagian dari penghargaan dan penghormatan kepada pendahulu.

“Pada prinsipnya semua itu baik. Hanya selain dua nama tersebut, apa tidak ada nama-nama (tokoh) lain sebelum itu?” katanya.

Enuar Mendrofa menyarankan untuk meneliti lebih dulu sejarah/silsilah masyarakat Nias. Semua dirapatkan oleh pemerintah daerah dan diputuskan satu nama untuk diusulkan ke pemerintah pusat.

“Tentu dengan pertimbangan pemikiran-pemikiran beliau untuk Nias. Siapapun yang dimunculkan, kita dukung,” tegasnya.

Pendapat agak berbeda diberikan Kasianus Telaumbanua, SH, MH. Kasianus yang sehari-harinya menjabat Hakim di PN Jawa Barat ini lebih cenderung untuk merubah nama Bandara Binaka dengan nama obyek wisata yang menjadi andalan  Kepulauan Nias.

“Saya setuju dan (nama tokoh untuk jadi nama bandara) layak untuk didukung. Jika tidak nama tokoh, mungkin dapat diusulkan nama objek wisata yang menjadi andalan daerah Nias, Atau nama gunung yang tertinggi dan tersohor di Nias. Apalagi program wisata daerah Nias sekarang ini mulai bangkit dan berkembang,” katanya.

Wacana pergantian nama Bandara Binaka muncul saat acara sambung rasa antara warga Nias di Jakarta dengan jajaran Pemko Gunungsitoli di Hotel Mega Pro, Jakarta Pusat pada Minggu (19/3/2017) . Adalah Ketua Umum HIMNI Marinus Gea yang mengusulkan supaya nama Bandara Binaka diganti menjadi nama tokoh masyarakat.

Sekilas Sosok Dalimend

Lahir sebagai anak pertama dari 12 bersaudara, di Hiliduho Gunungsitoli pada 1 Juli 1930. Dalihuku Mendrofa (Dalimend) merupakan putra dari pasangan Tuhombowo Mendrofa dan Kamisa Mendrofa.

Adiknya, Dalihada Mendrofa—dipanggil Ama Agus—menuturkan, sejak kecil Dalimend dijadikan anak angkat oleh  seorang  keluarganya, Dalikhami Mendrofa, yang  bekerja di Bea Cukai.  Kebetulan, Dalikhami tidak punya anak.

Dalihuku sempat sekolah di SR Gunungsitoli.  Namun, karena ayah angkatnya pindah tugas ke Aceh, maka ia pun pindah dan sekolah di Aceh.  Di keluarga dan lingkungan yang kental dengan agama Islam ini,  akhirnya  Dalimend menganut agama Islam.

Selama sekolah di Aceh, Dalimend terhitung sebagai pelajar yang aktif. Pasca revolusi, ia aktif  sebagai tentara pelajar (TP).  Sejak 1950, ia masuk TNI Angkatan Udara, dengan pangkat Sersan Mayor.  Pada 1953 mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran dan pangkatnya menjadi Letnan Muda II.

Berturut-turut mengikuti Sekolah Persamaan Perwira pada 1960; Upgrading Course Perwira Material 1965; Sekolah Dasar Perwira 1968; Standarisasi Perwira pada 1968 dan Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara pada 1972.

Pada 1975, ia mencapai pangkat Letnan Kolonel.  Pada saat pergantian Bupati Nias pada 1975, namanya mencuat sebagai calon kuat.  Kebetulan, Nias masuk klasifikasi A.  Artinya, daerah yang diprioritaskan dipimpin dari unsur ABRI.   Dalimend menjawab desakan dan kebutuhan warga Nias.  Ia pun tampil sebagai pemimpin dan berhasil menorehkan sejarah.

Sebenarnya, ia masih sangat diharapkan untuk memimpin pada periode berikutnya.  Namun, menurut penuturan Ama Agus alias Dalihada Mendrofa,  istri Dalimen–Yuswir–tidak begitu mendukung pencalonannya kembali. Dalimend pun digantikan oleh Hanati Nazara SH.

Dalimend kemudian berkiprah di luar Nias.  Di antaranya sebagai Inspektur Operasi Tertib (Opstib) di Provinsi Timor-timur (1981-1983); Inspektur Opstib di Departemen Kehakiman RI (1983-1985) dan Inspektur Opstib pada Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI (1985-1988).  Pada Agustus 1985, ia pensiun dari ABRI dengan pangkat Kolonel.

Dalimend mengembuskan nafas terakhir pada 4 Juli 2010.  Meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Sebagai pemegang Surat Tanda Jasa Pahlawan atas perjuangan gerilya membela kemerdekaan RI, maka ia pun berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta, dengan petak makam W-743.

Penulis: Mario

Exit mobile version