Suaranusantara.com- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu 2 April 2025 lalu mengumumkan tarif resiprokal atau timbal balik yang berlaku ke seluruh negara termasuk di negara-negara ASEAN seperti Indonesia yang dikenakan 32 persen.
Namun tanpa disadari, justru kebijakan tarif resiprokal Trump ini memiliki dampak negatif bagi perekenomian di AS sendiri.
Adapun Trump memberlakukan tarif resiprokal lantaran menjanjikan negara yang dipimpinnya akan menjadi kaya lagi.
Sayangnya, kebijakan Trump yang dinilainya menjanjikan negaranya kaya lagi tidak sesuai dengan dampak yang ditimbulkan malah bisa-bisa menyebabkan resesi atau stagnansi ekonomi.
Ekonom pun mencoba memperingatkan Trump terkait hal resesi atau stagnansi tersebut akibat dari kebijakan tarif impor terbaru itu.
Trump mengatakan dua tarif baru yang ia umumkan, yakni tarif impor universal sebesar 10 persen untuk semua impor AS dan apa yang disebut tarif resiprokal atau tarif timbal balik yang diterapkan untuk impor dari sekitar 90 negara, akan merevitalisasi manufaktur AS, menciptakan lapangan kerja, dan menghasilkan pendapatan federal.
Namun ekonom memperingatkan bahwa kebijakan tarif impor ini akan mempercepat inflasi dan meredam pertumbuhan ekonomi AS.
Hal ini dikarenakan tarif impor Trump akan dibayarkan oleh perusahaan AS yang mengimpor barang dan bahan dari negara lain, dan mereka kemungkinan akan meneruskan sebagian atau semua biaya tersebut kepada konsumen melalui harga yang lebih tinggi.
Akibatnya, para ekonom mengatakan, inflasi kemungkinan akan kembali terjadi. Karena belanja konsumen mencapai sekitar 70 sen dari setiap 1 dollar AS dalam produk domestik bruto (PDB) AS, maka pertumbuhan ekonomi AS dapat melambat.
Secara bersamaan, hasil tersebut dapat menciptakan stagflasi, yaitu gabungan dari “stagnasi” dan “inflasi” yang menggambarkan periode ketika pertumbuhan ekonomi tersendat bahkan ketika harga tetap tinggi.
Risiko resesi, yaitu penurunan pertumbuhan ekonomi setidaknya dua kuartal berturut-turut pertumbuhan negatif, juga meningkat karena tarif terbaru Trump, menurut perkiraan baru dari beberapa ekonom Wall Street.
“Jika tarif impor AS memicu tindakan pembalasan dari negara lain, resesi serius dapat muncul baik di AS maupun secara global,” ujar Mark Zandi, kepala ekonom Moody’s Analytics pada Minggu 6 April 2025.
Menurut Zandi, resesi AS kemungkinan akan mengurangi PDB sebesar 2 persen dan meningkatkan angka pengangguran menjadi 7,5 persen, naik dari saat ini sebesar 4,1 persen.
China mengumumkan akan menerapkan tarif balasan sebesar 34 persen pada impor AS mulai 10 April 2025, sehari setelah tarif impor Trump dijadwalkan berlaku.
Namun, untuk saat ini skenario itu masih tidak mungkin. Zandi memprediksi probabilitas 15 persen.
Jika pemerintahan Trump menurunkan beberapa tarif dan menawarkan pengecualian untuk beberapa produk atau negara, resesi akan lebih ringan, dengan pengangguran mencapai 5,5 persen, tambahnya. Zandi mengatakan ia memberikan probabilitas 35 persen untuk hasil ini.
Yang pasti, sementara banyak ekonom meningkatkan kemungkinan resesi, mereka juga mengatakan ekonomi tetap relatif kuat, dengan pengangguran rendah dan pertumbuhan yang stabil.
Banyak hal bergantung pada apakah pemerintahan Trump akan tetap mempertahankan tarifnya atau melonggarkan beberapa kebijakan. Bersiaplah menghadapi inflasi yang lebih tinggi.
“Yang lebih pasti adalah tarif yang ditetapkan Trump akan meningkatkan inflasi,” ujar Gregory Daco, kepala ekonom di EY.
Nantinya inflasi akan meningkat satu poin persentase pada akhir tahun dan bakal mendekati empat persen.
“Inflasi dapat meningkat sebesar 1 poin persentase pada akhir tahun, yang akan meningkatkan laju inflasi mendekati 4 persen dari level saat ini,” imbuhnya. Itu dapat menjadi menyakitkan bagi banyak warga AS, termasuk bagi para pendukung Trump yang mendukung pencalonannya karena janjinya untuk “mengakhiri mimpi buruk inflasi” di tahun-tahun pascapandemi Covid-19.
Menurut jajak pendapat CBS News baru-baru ini, sebagian besar warga AS mengatakan presiden terlalu fokus pada tarif, yang mereka khawatirkan dapat menaikkan harga, dan tidak cukup fokus pada penurunan biaya konsumen.
“Dengan kenaikan tarif paling signifikan yang menargetkan negara-negara yang menjadi pusat rantai pasokan AS untuk barang-barang konsumen, yakni China, Vietnam, Taiwan, dan Kamboja, rumah tangga AS harus mengharapkan harga yang lebih tinggi di berbagai barang sehari-hari,” terang Seema Shah, kepala strategi global di Principal Asset Management
