Suaranusantara.com- Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Airlangga Hartarto membeberkan alasan Indonesia memilih menempuh jalur negosiasi ke Amerika Serikat (AS) dibanding melancarkan pembalasan tarif Trump yang dilakukan oleh sejumlah negara salah satunya seperti Vietnam.
Adapun Indonesia dikenakan tarif Trump sebesar 32 persen. Sedangkan Vietnam dikenakan 46 persen.
Menyikapi tarif Trump itu, Indonesia memilih jalur negosiasi ketimbang memangkas tarif impor AS yang sempat diajukan oleh pemerintahan Vietnam melalui Sekjen Partai Komunis Vietnam To Lam.
Airlangga mengatakan negosiasi yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan mengajukan sejumlah penawaran menarik bagi AS. Salah satunya meningkatkan barang impor dari negeri Paman Sam itu.
“Jadi Vietnam yang minta (tarif impor AS) di 0% kan tidak direspons karena mereka tidak berkomitmen untuk membalance (impor) AS. Jadi presiden mengarahkan bahwa kita akan meningkatkan produk impor dari AS,” tutur Airlangga dalam agenda Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia, Selasa 8 April 2025.
Peluang meningkatkan impor dari AS juga sejalan dengan data neraca perdagangan AS ke Indonesia yang masih defisit mencapai US$ 17,88 miliar pada tahun 2024.
Airlangga membeberkan, pemerintah akan meningkatkan impor dari AS utamanya produk agrikultur yang tidak dimiliki di Indonesia, yakni kedelai dan gandum.
Selain itu, pemerintah juga akan meningkatkan impor engineering product dan meningkatkan impor minyak dan gas (migas) dari AS.
“Pembicaraan dengan Menteri ESDM sesuai arahan Pak Presiden, kita juga disiapkan untuk membeli LPG dan Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair, agar ada peningkatan (impor) dari Amerika,” ungkapnya.
Meski demikian, Airlangga memastikan peningkatan impor dari AS ini tidak menambah alokasi pembelian. Namun hanya peralihan impor dari negara lain, dan dialihkan impor barangnya dari produk AS.
“Ini tidak menambah (pembelian) tetapi realokasi pembelian, switch. Jadi tidak mengganggu APBN,” tandasnya.
Kata Airlangga, dalam penawaran tersebut, Indonesia akan meningkatkan komoditas impor dari AS yakni barang-barang yang masuk dalam top 10 yang selama ini terjali.
Adapun mengutip data dari Dewan Ekonomi Nasional, top 10 impor Indonesia dari AS adalah, (HS: 120190) kacang kedelai, pecah atau tidak dengan tarif, (HS: 271112) propana, cair sebesar, (HS: 290110) hidrokarbon asiklik jenuh, (HS: 999999) komoditas tidak di tempat lain ditentukan.
Selanjutnya, (HS: 270112) batubara bitumen, baik atau tidak dihancurkan, tidak diaglomerasi dengan tarif, (HS: 230330) menyeduh atau menyuling ampas dan sampah.
Kemudian (HS: 271113) butana, cair, (HS: 470321) bubur kayu kimia, soda atau sulfat, selain mutu larut, diputihkan atau diputihkan, konifer, (HS: 880240) Pesawat terbang dan tenaga lainnya pesawat dengan berat tanpa muatan diatas 15.000 kg, (HS: 851762) Mesin untuk resepsi, konversi dan transmisi.
