Suaranusantara.com- Perang Iran-Israel tengah memanas dalam beberapa waktu terakhir sejak dimulai 13 Juni 2025 lalu. Akibat perang ini, maka berpotensi harga minyak dunia mengalami kenaikan. Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pun mendapat pertanyaan terkait potensi adanya kenaikan minyak yang kabarnya bisa melebihi asumsi APBN.
Kata Bahlil, terkait kenaikan harga minyak dunia imbas perang Iran-Israel, dia meminta kepada seluruh rakyat Indonesia untuk berdoa. Sebab, dengan doa maka dapat menyelamatkan.
“Saya ditanyakan tentang hal ini, katanya harga minyak akan potensi naik melebihi asumsi di dalam APBN. Saya katakan berdoa saja. Karena hanya doa dan ikhtiar kita secara internal yang bisa menyelamatkan kita,” ujar Bahlil dalam keterangannya pada Selasa 24 Juni 2025.
Bahlil mengatakan melihat situasi global yang tak menentu seperti ini, pihaknya tak dapat berharap dengan negara lain. Sebab, tentunya negara lain juga tengah memikirkan nasib negara mereka juga.
“Dalam situasi global yang tidak menentu kita enggak bisa berharap pada negara lain dalam kondisi yang seperti ini. Karena apa? Hampir semua negara juga memikirkan tentang negara mereka. Hampir semua,” sambungnya.
Oleh karena itu, Bahlil mengajak semua pihak untuk berdoa agar perang ini segera selesai dan harga minyak menjadi stabil kembali. Meskipun, kata Bahlil, saat ini harga minyak dunia di angka USD67 per barel.
“67 sekarang, wah ini semakin baik lagi gitu. Nah tapi, satu hal yang saya (ingin) menyampaikan bahwa dinamika di Timur Tengah sampai dengan tadi saya berangkat ke sini, saya mengikuti perkembangannya dengan jaringan yang saya punya, masih apa ya, dinamis,” kata Bahlil.
Kata Bahlil lagi, harga minyak dunia sangat tidak pasti, kadang naik, kadang turun.
“Naik turun, naik turun. Jadi apa yang hari ini terjadi belum tentu besok bisa seperti ini. Kita lihat perkembangannya lagi, baru kemudian kita bisa melakukan kajian,” lanjut Bahlil.
Bahlil mengakui, dirinya sempat khawatir dengan perang Israel-Iran karena memicu fluktuasi harga minyak. Sebab, asumsi APBN harga minyak di angka USD82 per barel.
“Kemarin ketika terjadi (perang) Israel dan Iran, itu sempat khawatir kita. Beberapa menteri ekonomi di dunia termasuk menteri energinya kami juga berkomunikasi. Asumsi APBN kita itu kan harga per barelnya itu 82 dolar per barrel,” ucap Bahlil.
“Dalam waktu beberapa bulan terakhir kan belum sampai pada angka 75 pun belum ada. Masih 75 ke bawah. Artinya secara APBN itu bagus sebenarnya. Tapi kalau di atas 82 barrel eh 82 dolar per barrel itu pastikan ada perhitungan baru,” lanjutnya.
