Sherly Tjoanda, Gubernur Penjaga Laut Timur

Gubernur Sherly berhasil mengibarkan bendera merah putih di kedalaman laut Sulamdaha, Kota Ternate.

Gubernur Sherly berhasil mengibarkan bendera merah putih di kedalaman laut Sulamdaha, Kota Ternate.

Suaranusantara.com- Sekian banyak berita perayaan kemerdekaan Republik Indoensia Ke-80, saya takjub pada satu peringatan penting ini yang di lakukan oleh seorang gubernur perempuan di Maluku Utara sana. Sherly Tjoanda, ya dialah adalah The Queen of The Sulamadaha Sea. Bersama komunitas Wanita Selam Indonesia, Gubernur Sherly berhasil mengibarkan bendera merah putih di kedalaman laut Sulamdaha, Kota Ternate.

Sherly dengan anggun melakukan freediving dengan menggunakan kostum mermaid berwarna merah. Dengan gerakan lincah bak putri duyung, Sherly berhasil melakukan hormat pada sang saka merah putih di kedalaman laut Sulamadaha tersebut. Hormat pada bendera juga diikuti oleh peserta selam yang lainnya.

Dalam caption instagramnya, Gubernur Sherly menyatakan “Merah putih ngga cuma berkibar di tiang, hari ini dia menyatu dengan ombak, menyelam ke dasar laut. Kenapa? Karen 70% Indonesia adalah laut, kalo bendera hanya ada di darat, itu belum bercerita utuh tentang negeri ini. Sherly jelas paham betul persoalan negeri ini, persoalan laut ini, persoalan daerah di Indonesia bagian timur ini.

Gubernur dengan perolehan suara sah 50,69 ini mengingatkan kembali kepada kita semua bahwa persoalan laut ini harus diurus dan diselesaikan dengan serius. Beberapa persoalan kelautan atau kemaritiman di Indonesia cukup kompleks karena Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan wilayah laut yang sangat luas. Beberapa persoalan utama yang sering muncul antara lain:

Illegal Fishing (Pencurian Ikan)
1. Kapal asing masih banyak yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal di perairan Indonesia.
2. Dampaknya merugikan nelayan lokal, menurunkan stok ikan, dan mengurangi penerimaan negara.

Kerusakan Ekosistem Laut
1. Terumbu karang, mangrove, dan padang lamun rusak akibat penangkapan ikan dengan bom/cyanida, reklamasi, pencemaran, dan pariwisata tak berkelanjutan.
2. Indonesia punya 20% terumbu karang dunia, namun banyak yang dalam kondisi terancam.

Pencemaran Laut
1. Sampah plastik menjadi masalah besar, Indonesia masuk peringkat dua dunia penyumbang sampah plastik ke laut.
2. Limbah industri, tumpahan minyak, hingga limbah rumah tangga memperburuk kualitas laut.

Kedaulatan dan Keamanan Laut
1. Masih ada konflik batas laut dengan negara tetangga.
2. Ancaman penyelundupan narkoba, perdagangan manusia, hingga perompakan.
3. Perlu penguatan armada patroli dan diplomasi maritim.

Ketimpangan Infrastruktur Maritim
1. Belum meratanya fasilitas pelabuhan dan kapal logistik membuat biaya distribusi barang antarpulau mahal.
2. Tol Laut sudah membantu, tapi implementasinya masih terbatas.

Kesejahteraan Nelayan
1. Nelayan tradisional sering hidup dalam kemiskinan karena keterbatasan teknologi, akses pasar, dan modal.
2. Harga ikan sering tidak stabil, sementara biaya operasional melaut tinggi.

Overfishing dan Degradasi Sumber Daya
1. Beberapa wilayah perikanan sudah masuk kategori tangkap berlebih (overfishing).
2. Jika tidak dikelola, bisa mengancam ketahanan pangan berbasis laut.

Pemanfaatan Energi dan Sumber Daya Laut yang Belum Optimal
1. Potensi energi terbarukan (ombak, arus, angin laut) sangat besar, tetapi belum tergarap maksimal
2. Eksploitasi minyak dan gas di laut sering menimbulkan konflik lingkungan.

Perubahan Iklim dan Kenaikan Muka Laut
1. Pulau-pulau kecil terancam tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut.
2. Perubahan iklim juga memengaruhi pola migrasi ikan dan cuaca ekstrem yang menyulitkan nelayan.

Tata Kelola dan Koordinasi Lintas Sektor
1. Banyak lembaga terkait laut (Kemenhub, KKP, TNI AL, Kemenko Marves), tetapi sering tumpang tindih kebijakan.
2. Perlu tata kelola maritim yang lebih terpadu dan efisien.

Dan banyak catatan lain terkait persoalan persoalan kelautan republik yang sedang merayakan ulang tahunya ke-80 ini. Dan kita telah menemukan sosok pejabat lain yang berani bersuara setelah Ratu Laut Indonesia purna tugas dari jabatan publiknya, Ibu Susi Pudjiastuti. Dia adalah Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara.

Robi Maulana- Koordinator Program Perkumpulan Penggerak Muda

*) Penulis : Robi Maulana- Koordinator Program Perkumpulan Penggerak Muda

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Suaranusantara.com

***

**) Laporan atau taging Laporan di Suaranusantara terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: hi@suaranusantara.com atau Suaranusantaradotcom@gmail.com

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Suara Nusantara.

Exit mobile version