Suaranusantara.com- Dito Ariotedjo tak sempat merayakan Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang dirayakan pada 9 September 2025, mengingat dirinya tak lagi menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).
Dito tak lagi menjabat sebagai Menpora usai kena reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden RI Prabowo Subianto sehari sebelum perayaan Haornas yakni 8 September 2025.
Tak lagi menjabat Menpora, maka perayaan Haornas yang digelar di Cibubur Jakarta Timur dihadiri langsung oleh Wamenpora Taufik Hidayat.
Walau tak lagi menjabat sebagai Menpora, antusiasme Dito tak luntur untuk turut serta merayakan Haornas.
Dito melalui unggahan di laman media sosial Instagramnya memberikan pesan menyentuh dan ajakan untuk tetap semangat membuat perubahan olahraga ke arah yang lebih baik.
“Selamat Hari Olahraga Nasional. Sejak 2023, kita telah berjalan bersama membawa semangat perubahan bagi pemuda dan olahraga Indonesia,” tulisnya di akun @ditoariotedjo dilihat pada Rabu 10 September 2025.
Dia pun menyampaikan rasa terimakasihnya kepada seluruh pihak yang terus menbuat perubahan terkait olahraga.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah bersama berusaha membuat perubahan. Jangan pernah lelah menyalakan api prestasi dan memajukan generasi muda bangsa.”
Adapun Dito menjabat sebagai Menpora kurang lebih selama 2,5 tahun atau tepatnya pada April 2023 hingga September 2025.
Di eranya, olahraga Indonesia dalam tren yang baik. Utamanya saat Olimpiade Paris 2024 bergulir. Indonesia kembali mengukir sejarah dengan menciptakan dua medali emas sejak terakhir kali tahun 1992.
Bahkan ukiran tinta emas itu dipersembahkan dari cabang olahraga baru yaitu panjat tebing melalui Veddriq Leonardo, dan angkat besi yang diciptakan oleh Rizki Juniansyah.
Adapun Hari Olahraga Nasional (Haornas) memiliki sejarah panjang sejak 1948, sampai akhirnya ditetapkan pada 9 September sebagai hari perayaannya.
Saat itu, Indonesia ditolak keikutsertaannya secara administratif di Olimpiade London, Inggris karena Indonesia belum diakui secara luas di dunia.
Atlet Indonesia bahkan pernah ditawari paspor Belanda agar bisa tampil di multievent paling bergengsi sejagat raya tersebut, namun Indinesia menolak dan tetap ingin bertanding mewakili bangsa sendiri.
Alhasil, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) bersama Persatuan Olahraga Republik Indonesia (kini bernama Komite Olahraga Nasional) menginisiasi Pekan Olahraga Nasional pada 9 September 1948 di Solo.
Selama 35 tahun setelahnya, tepatnya 9 September 1983, Presiden Soeharto menetapkan tanggal tersebut sebagai Haornas sekaligus meresmikan pemugaran Stadion Sriwedari di Surakarta.
Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 1985 tentang Hari Olahraga Nasional.
