BGN Pastikan MBG Selama Puasa Ramadan 1447 H Tetap Berjalan, Begini Skema Pelaksanaannya

Kepala BGN Dadan Hindayana bilang MBG selama puasa Ramadan 1447 H tetap berjalan (Instagram @davila.magazine)

Kepala BGN Dadan Hindayana bilang MBG selama puasa Ramadan 1447 H tetap berjalan (Instagram @davila.magazine)

Suaranusantara.com- Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan terus berjalan selama puasa Ramadan 1446 H.

Kepala BGN, Dadan Hindayana mengatakan pelaksanaan MBG selama puasa Ramadan 1447 H akan diberlakukan sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

Misalnya, di wilayah yang mayoritas berpuasa, maka MBG siap santap akan dibagikan di jam sekolah yang kemudian dibawa pulang untuk disantap saat waktu berbuka.

“Di daerah yang mayoritas berpuasa, makanan siap santap diberikan di jam sekolah untuk dibawa pulang dan di konsumsi saat buka,” kata Kepala BGN Dadan Hindayana kepada wartawan, Kamis 22 Januari 2026.

Sedangkan di wilayah yang mayoritas tak berpuasa, skema MBG tetap berjalan normal seperti hari biasa.

“Untuk daerah yang mayoritas tidak berpuasa pelayanan normal,” sambung dia.

Dadan mengatakan siswa yang tak berpuasa di wilayah mayoritas muslim dapat memilih untuk mengonsumsi MBG di sekolah atau dibawa pulang.

Sementara itu, menurut dia, menu MBG selama Ramadan juga akan disesuaikan. Dadan mengatakan makanan yang dibagikan tetap mengandung gizi lengkap.

“Bentuk makanan, contohnya telur rebus, kurma, buah, abon, ubi rebus, kue tradisional,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini mengaku setuju program MBG tetap berjalan selama bulan Ramadan.

Namun, Yahya menekankan perlunya pengaturan khusus dalam pola distribusi MBG saat Ramadan.

“Saya setuju bulan puasa tetap ada MBG, tapi pola pembagian makanannya harus jadi perhatian. Keamanan makanan dan kandungan gizi harus terjamin,” kata Yahya kepada wartawan, Kamis.

Menurutnya, terdapat dua skenario yang perlu dipertimbangkan oleh BGN dalam pelaksanaan MBG selama Ramadan. Dia mengatakan waktu pembagian harus memperhatikan menu dari MBG tersebut.

“Ada dua skenario yang mesti dipikirkan. Pertama, menu seperti biasa, tapi dibagi pada waktu sore supaya jarak waktu dengan buka puasa tidak terlalu lama,” katanya.

“Kalau pakai skema biasa dibagi waktu pagi dan siang makanannya bisa basi, sehingga bisa menimbulkan keracunan,” sambung dia.

Kemudian skenario kedua, menu yang disajikan ialah makanan kering. Menurutnya, makanan kering akan tahan lama hingga waktu berbuka.

“Makanan diwujudkan dalam bentuk makanan kering seperti roti, telur rebus, susu, dan buah yang tahan lama seperti pisang, anggur, salak,” ujarnya.

Yahya menegaskan aspek keamanan pangan dan kandungan gizi harus menjadi fokus utama dalam pelaksanaan program MBG selama Ramadan.

“Yang perlu menjadi perhatian BGN adalah soal keamanan makanan dan kandungan gizinya. Keduanya harus terjamin. Jangan sampai seperti waktu liburan sekolah saya anggap tidak efektif, karena orang tua harus ngambil ke sekolah, sehingga harus mengeluarkan biaya transportasi,” tuturnya.

Dia menekankan efektivitas penyaluran MBG mengingat bulan puasa.

“Kalau makanan diantar ke rumah siswa, biayanya transportasinya sangat memberatkan bagi SPPG. Karena rumah siswa tersebar luas dan terpencar-pencar,” imbuh dia.

Exit mobile version