MBG: Fondasi Awal Membangun Kualitas SDM, Menyongsong Indonesia Emas 2045

Ilustrasi MBG siap disantap oleh anak-anak Indonesia (Instagram @bradio956fm)

Ilustrasi MBG siap disantap oleh anak-anak Indonesia (Instagram @bradio956fm)

Suaranusantara.com- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dan Wapres RI Gibran Rakabuming Raka.

Program MBG selaras dengan visi pemerintahan menuju Indonesia Emas 2045. Untuk itu, melalui MBG menjadi salah satu fondasi yang dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) anak-anak Indonesia.

Dokter Spesialis sekaligus edukator kesehatan, dr. Andi Khomeini Takdir, Sp.PD atau yang akrab disapa dr. Koko mendukung penuh terhadap program MBG.

Ia menilai program ini sebagai langkah konkret pemerintah dalam memenuhi kecukupan gizi nasional.

“Bonus demografi itu bukan hanya perihal jumlah penduduk, tetapi juga kualitasnya. Upaya pemerintah untuk memberikan kecukupan gizi itu bagus dan dari awal saya selalu mendukung itu,” ujar dokter Koko, Sabtu 25 April 2026.

Pernyataan dr. Koko sejalan dengan temuan Poltracking Indonesia dalam survei terbarunya. Hasil survei menunjukkan bahwa program MBG merupakan salah satu program pemerintah yang mendapatkan ekspektasi dan dukungan publik paling tinggi.

Masyarakat melihat program ini sebagai solusi nyata bagi keluarga menengah ke bawah untuk menjamin kebutuhan makan anak-anak mereka, minimal sekali dalam sehari.

Menariknya, dr. Koko menekankan bahwa pemenuhan gizi tidak harus dibuat rumit. Ia menyarankan agar tata kelola program tetap akuntabel, namun simpel dalam penyajiannya.

“Kembali ke dasar. Nasi, ikan, sayur, telur, atau ayam suir itu sudah cukup. Jangan dibuat rumit. Anak-anak yang rutin mengonsumsi MBG akan terlatih lidahnya (taste education) sehingga tidak jadi pilih-pilih makanan (picky eater) juga,” jelasnya.

Data dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) memperkuat poin ini. Survei RISED menunjukkan bahwa sekitar 80% orang tua melaporkan perbaikan pola makan anak setelah adanya program MBG.

Selain itu, dengan memperkenalkan sayur dan buah sejak dini, anak-anak menjadi lebih terbiasa makan sayur dan protein, yang dalam jangka panjang menurut dr. Koko, akan sangat efektif mengurangi risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas sejak dini.

Kendati memiliki dampak dan manfaat yang luas, dr. Koko menyadari bahwa program ini masih perlu masukan dan perbaikan.

Sebagai program berskala masif yang memberi makan jutaan orang, dr. Koko menyadari adanya kendala teknis di lapangan. Namun, ia mengajak masyarakat untuk melihatnya sebagai sebuah proses besar yang perlu dikawal bersama.

“Kita akan berproses, tidak serta-merta program ini 100 persen bagus. Peran masyarakat adalah menjaga itu. Jika ada masukan atau kritik soal keterlambatan atau kualitas menu, pengelola jangan ‘kebakaran jenggot’. Kritik itu bukan permusuhan, tapi bahan evaluasi agar ada perbaikan berkelanjutan,” tambahnya.

Meskipun anggaran per porsi mungkin terbatas, dr. Koko yakin dampaknya akan terasa secara akumulatif.

“Apalagi ini akumulasi, setiap hari selama berbulan-bulan, bertahun-tahun. Dampaknya pasti ada daripada tidak ada sama sekali,” kata dr. Koko.

Dia juga menambahkan agar program ini dijaga keberlanjutannya.

“Dengan kolaborasi antara Satuan Pelayanan Makanan Bergizi (SPPG), pemerintah, dan pengawasan masyarakat, Makan Bergizi Gratis diharapkan menjadi motor penggerak lahirnya generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan tangguh pada tahun 2045,” katanya.

Exit mobile version