Apakah Indonesia Bakalan Dilanda Gelombang Panas seperti di Eropa? BMKG Jelaskan Begini

Ilustrasi gelombang panas yang di Eropa (Instagram @eatbiz)

Ilustrasi gelombang panas yang di Eropa (Instagram @eatbiz)

Suaranusantara.com- Akhir-akhir ini Indonesia diserang cuaca panas menyengat luar biasa di siang hari. Bahkan sebelum siang, sekiranya jam 9.00 WIB matahari mulai terasa menyengat ke kulit.

Publik pun khawatir dengan kondisi ini, apakah Indonesia akan mengalami gelombang panas seperti dirasakan Eropa?

Sebab, diketahui Eropa tengah mengalami gelombang panas ekstrem di musim panas kali ini. Bahkan akibat musim panas yang ekstrem ini banyak orang dilaporkan mengalami sakit hingga kematian.

Menurut Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, secara keseluruhan sebanyak 1.300 kematian berlebih telah dilaporkan di Eropa sejak 21 Juni.

“Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang sebelumnya dianggap hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun,” kata Tedros dikutip Jumat 3 Juli 2026.

Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, dengan laju peningkatan suhu dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa penyebab gelombang panas di Eropa terutama dipicu oleh kombinasi pola atmosfer, letak geografis, hingga dampak pemanasan global.

Menurutnya, salah satu faktor utama adalah terbentuknya pola atmosfer omega block dan heat dome yang membuat udara panas dari Afrika Utara terperangkap di wilayah Eropa.

“Heat wave di Eropa terutama dipicu oleh pola atmosfer seperti *omega block dan heat dome yang membuat udara panas dari Afrika Utara terperangkap di lintang menengah Eropa. Posisi garis lintang Eropa yang berada di zona subtropis-temperate membuatnya rentan terhadap aliran udara panas dari selatan ketika sirkulasi jet stream terganggu,” ucap Sekretaris BMKG Guswanto, Jumat 3 Juli 2026.

Guswanto menjelaskan, omega block merupakan kondisi ketika aliran jet stream yang biasanya bergerak dari barat ke timur membentuk pola menyerupai huruf Yunani omega.

“Hal ini menciptakan ‘kemacetan atmosfer’ saat sistem tekanan tinggi stabil di tengah, dikelilingi tekanan rendah di sisi barat dan timur. Akibatnya, udara panas tidak bisa bergerak keluar dan tetap menumpuk di atas Eropa,” ucapnya.

Selain itu, terdapat fenomena heat dome, yakni kondisi ketika tekanan udara tinggi bertindak seperti ‘tutup panci’ yang memerangkap udara panas di dekat permukaan.

Udara yang turun mengalami kompresi sehingga suhunya semakin meningkat, sementara langit yang cerah membuat radiasi matahari terus memanaskan permukaan bumi.

Posisi geografis Eropa turut berperan dalam meningkatkan risiko gelombang panas. Sebagian besar wilayah Eropa berada pada lintang 35-55 derajat LU, yakni zona transisi antara wilayah subtropis dan iklim sedang (temperate).
Ketika sirkulasi atmosfer bergeser, massa udara panas dari wilayah subtropis lebih mudah terdorong ke kawasan tersebut sehingga memicu lonjakan suhu yang ekstrem.

Di samping faktor atmosfer, perubahan iklim juga dapat membuat gelombang panas di Eropa semakin intens.

Laju peningkatan suhu di Eropa tercatat mencapai sekitar 0,56 derajat Celsius per dekade, atau sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Upaya pengendalian polusi udara di Eropa juga secara tidak langsung berkontribusi terhadap peningkatan suhu permukaan.

Berkurangnya partikel di atmosfer yang sebelumnya dapat memantulkan sebagian radiasi matahari membuat lebih banyak panas terserap oleh permukaan bumi.

Gelombang panas yang terjadi di Eropa sedikit banyak memunculkan rasa khawatir bagi penduduk Indonesia.

Plh. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani menegaskan bahwa Indonesia memiliki kemungkinan yang sangat kecil mengalami heatwave atau gelombang panas seperti Eropa.

“Secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi,” ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, wilayah Indonesia juga memiliki variabilitas perubahan cuaca yang cepat.

“Maka dapat dikatakan bahwa di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan Gelombang Panas atau Heatwave,” tuturnya lagi.

Exit mobile version