
Jakarta-SuaraNusantara
Peringatan Hari Bakti Pekerjaan Umum yang diperingati setiap 3 Desember, tak lepas dari sejarah perjuangan para pegawai Departemen Pekerjaan Umum (kini bernama Kementerian PUPR) yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan Gedung Sate di Bandung, Jawa Barat 72 tahun silam.
Saat itu, 3 Desember 1945, tentara sekutu Belanda menyerang dan ingin mengambil alih Gedung Sate yang pada waktu itu merupakan kantor Departemen Pekerjaan Umum. Namun, berkat perlawanan dan kegigihan tujuh pegawai PU, Gedung Sate dapat dipertahankan meski harus gugur di medan pertempuran.
Ketujuh pegawai itu kini dijuluki Sapta Taruna. Nama ketujuh pahlawan tersebut sampai saat ini diabadikan dalam tugu yang berada tepat di depan Gedung Sate. Mereka adalah Didik Ardiyanto, Muchtarudin, Suhodo, Rio Susilo, Subengat, Ranu, dan Suryono.
Kepahlawanan para pegawai Departemen Pekerjaan Umum ini bermula setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, para pemuda pegawai Departemen PU tidak mau ketinggalan dengan pemuda-pemuda lainnya di kota Bandung. Mereka mempersiapkan diri dalam menghadapi segala kemungkinan yang sekiranya akan dapat merintangi serta mengganggu kemerdekaan yang telah diproklamasikan.
Jiwa dan semangat perjuangan yang menyala-nyala dari para patriot muda ini kemudian dihimpun dan disalurkan dalam suatu gerakan yang teratur dalam bentuk organisasi dengan nama gerakan Pemuda PU.
Gedung Sate, telah berhasil diambil alih oleh gerakan pemuda PU dari tangan Jepang. Kewajiban mereka selanjutnya pada saat itu adalah mempertahankan dan memelihara apa yang telah diambil alih itu jangan sampai direbut kembali oleh musuh. Untuk dapat menyusun pertahanan yang kompak, maka gerakan pemuda ini lalu membentuk suatu seksi pertahanan yang dipersenjatai dengan granat, beberapa pucuk bedil dan senjata api lainnya hasil rampasan dari tentara Jepang.
Pada saat itu memang hal lumrah adanya pembentukan laskar-laskar rakyat, sehingga bukan hal aneh bila pegawai-pegawai Departemen PU juga membentuk laskar perjuangan sendiri.
Mulanya gerakan pemuda ini hanya menghadapi tentara Jepang. Namun menjelang akhir bulan September 1945, di Tanah Air ini mulailah mengalir tentara Sekutu yang ditugaskan untuk menjaga keamanan dan menyelesaikan tawanan perang akibat bertekuk lututnya Jepang pada Sekutu.
Tepatnya tanggal 4 Oktober 1945, kota Bandung dimasuki tentara Sekutu yang diikuti oleh serdadu Belanda dan NICA. Sejak saat itu suasana kota Bandung menjadi semakin tidak aman. Sejak itu pula gerakan pemuda pejuang harus berhadapan dengan tentara Jepang dan tentara Sekutu, Belanda dan NICA.
Dengan semakin gawatnya situasi pada waktu itu, para pegawai dari Kantor Pusat Dep. PU di bawah pimpinan Menteri Muda Perhubungan dan Pekerjaan Umum. Ir Pangeran Noor pada tanggal 20 Oktober telah mengangkat Sumpah Setia Kepada Pemerintah Republik Indonesia.
Hampir setiap hari kantor Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum dikacaukan dengan kedatangan tentara Sekutu/Belanda/NICA, akibatnya para pegawai tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan tenang. Oleh karena itu, pada mulanya semua pegawai Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum diperkenankan untuk tidak masuk kantor selama situasi belum aman. Kecuali para pegawai yang memang diserahi kewajiban menjaga barang-barang milik negara yang ada di dalamnya.
Hingga tibalah hari-hari bersejarah itu. Pada 24 Nopember 1945, di bagian utara kota Bandung, meletus suatu pertempuran yang hebat. Penduduk sekitarnya banyak yang mengungsi ke kota lain yang keadaannya masih aman.
Waktu itu Gedung Sate dipertahankan oleh Gerakan Pemuda PU yang diperkuat oleh satu Pasukan Badan Perjoeangan yang terdiri lebih kurang 40 orang dengan persenjataan yang lumayan lengkap.
Tetapi bantuan 40-an anggota Badan Perjoeangan itu ternyata tidak berlangsung lama, karena pada 29 Nopember 1945, pasukan tersebut ditarik dari Gedung Sate.
Tanggal 3 Desember 1945, jam 1.00 pagi, waktu itu Gedung Sate hanya dipertahankan oleh 21 orang pegawai PU. Tiba-tiba datang sepasukan tentara Sekutu dengan persenjataan berat dan modern berusaha mengambil alih gedung. Pertempuran pun tak terhindarkan.
Pasukan sekutu yang unggul dalam taktik dan pengalaman, karena semuanya merupakan veteran Perang Dunia ke-2 di front Eropa yang baru saja beberapa bulan berakhir, mengepung rapat dan menyerang Gedung Sate dari segala penjuru.
Pertempuran yang dahsyat itu berlangsung cukup lama dan baru berakhir pada pukul 2 siang keesokan harinya. Pasukan Sekutu gagal mengambil alih gedung. Usai pertempuran diketahui dari 21 pemuda, 7 di antaranya hilang. Satu orang luka-luka berat dan beberapa orang lainnya luka-luka ringan. Setelah dilakukan penelitian ternyata para pemuda yang hilang itu diketahui bernama Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebengat, Ranu dan Soerjono.
Semula memang belum diketahui dengan pasti, dimana ketujuh orang pemuda ini berada karena selama pertempuran, ke-21 pegawai PU berpencar di sekitar Gedung Sate. Mereka hilang begitu saja tanpa bekas. Baru pada bulan Agustus 1952, beberapa bekas kawan seperjuangan mereka melakukan pencarian di sekitar Gedung Sate, dan hasilnya ditemukan empat jenazah yang sudah berupa kerangka. Keempat kerangka para suhada ini kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Tiga pemuda lainnya tetap hilang, tidak diketahui nasibnya sampai sekarang.
Sebagai penghargaan atas jasa-jasa ketujuh pegawai PU itu, khususnya tiga orang yang belum ditemukan, telah dibuatkan 2 tanda peringatan. Satu dipasang di dalam Gedung Sate dan lainnya berwujud sebuah batu alam yang besar ditandai dengan tulisan nama-nama ketujuh orang pahlawan tersebut yang ditempatkan di belakang halaman Gedung Sate.
Pada tanggal 3 Desember 1951 oleh Menteri Pekerjaan Umum pada waktu itu, Ir. Ukar Bratakusuma, ketujuh pemuda pahlawan tersebut dinyatakan dan dihormati sebagai “PEMUDA YANG BERJASA” dan tanda penghargaan itu telah pula disampaikan pada para keluarga mereka yang ditinggalkan.
Peristiwa 3 Desember 1945 akan terus dikenang dan diperingati sebagai Hari Kebaktian Pekerjaan Umum. Saat ini para pegawai Departemen Pekerjaan Umum terus berjuang untuk melanjutkan pengabdian mereka terhadap nusa dan bangsa.
Perjuangan para generasi penerus ini telah diwujudkan dalam pengabdian terhadap negara untuk mengisi kemerdekaan Republik Indonesia dengan kegiatan pembangunan yang saat ini sedang giat dilaksanakan.
Penulis: Askur/dari berbagai sumber