
Nias Barat – SuaraNusantara.com
Malang nian nasib 20 kepala keluarga warga Desa Fadoro Kecamatan Sirombu. Sejak pemekaran Kabupaten Nias Barat sampai saat ini, mereka masih belum menikmati penerangan listrik.
Ke-20 kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya sebagai petani dan berternak, sangat mebutuhkan masuknya aliran listrik ke desanya.
“Selain untuk penerangan, kehadiran listrik juga dapat membantu usaha masyarakat di Desa Fadoro,” ungkap tokoh masyarkat, Hasatulo Daeli, kepada wartawan Senin ( 28/3).
Dikatakannya, masyarkat pernah mengajukan permohonan kepada PLN Cabang Nias, namun usaha itu gagal karena biaya tiang, kabel dan meteran yang diminta pihak PLN begitu besar.
“Beban biaya yang begitu besar tersebut, membuat masyarakat jadi pesimis. Sampai sekarang warga Desa Fadoro hidup di bawah kegelapan dan sepertinya belum menikmati makna kemerdekaan,” ujar Hasatulo Daeli.
Selanjutnya, Hasatulo Daeli menitipkan harapan warga Desa Fadoro yang masih belum menikmati penerangan listrik kepada pimpinan pemerintah Nias Barat yang baru, dan memperhatikan nasib warga Desa Fadoro yang sejak pemekaran Nias Barat sampai sekarang hidup di bawah kegelapan. (EZ/HH)