Data BNPB Buktikan Kaitan Perubahan Iklim Global dengan Bencana Alam di Indonesia

Suaranusantara.com – Suhu rata-rata dunia cenderung mengalami kenaikan dan berdampak kepada tren kenaikan jumlah bencana alam di Indonesia.

“Perubahan iklim terbukti meningkatkan frekuensi kejadian bencana dengan sangat drastis dan lebih ekstrim,” ungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), di Pondok Pesantren Alhamidiah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (3/6/2023), melalui keterangan tertulis.

Letjen TNI Suharyanto memaparkan berdasarkan data BNPB tahun 2010 hingga tahun 2020, tren kenaikan jumlah kejadian bencana alam naik hingga 82%. Hal yang sama, lanjutnya, pun terjadi secara global, khususnya sejak tahun 1961.

“Sehingga, benar adanya bahwa peningkatan anomali suhu rata-rata baik ditingkat global maupun nasional menyebabkan meningkatnya frekuensi kejadian bencana, terutama bencana hidrometeorologi,” paparnya.

Berdasarkan penelitian terbaru dari para ilmuwan di Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), suhu rata-rata sudah diangka 1,1 derajat Celsius lebih tinggi dari angka pada periode tahun 1850 sampai tahun 1900.

“Laju kenaikan suhu dalam 50 tahun terakhir ini merupakan yang tertinggi dalam 2.000 tahun,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Sementara itu, menurut layanan iklim Uni Eropa Copernicus 2022, delapan tahun terakhir, yakni tahun 2015 sampai tahun 2022 merupakan ‘delapan tahun terhangat yang pernah tercatat’.

Suhu rata-rata tahunan pada periode yang sama adalah 0,3 derajat Celcius diatas periode tahun 1991 sampai tahun 2020. Atau 1,2 derajat Celcius lebih tinggi dari periode tahun 1850 sampai tahun 1900.

Dalam 5 bulan awal tahun 2023 BNPB mencatat terdapat 1.675 kejadian bencana. Sejumlah tersebut didominasi oleh bencana hidrometeorologi (yang terkait dengan siklus air, seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan) sebesar 99,1%.

“Dengan rincian 92,5% adalah bencana hidrometeorologi basah dan 6,6% merupakan bencana hidrometeorologi kering, sisanya merupakan bencana geologi dan vulkanologi,” ungkap Suharyanto.

Untuk bencana hidrometeorologi basah, Suharyanto menilai akar permasalahannya adalah urbanisasi yang memberikan tekanan pada lingkungan dihilir dan alih fungsi lahan baik secara sistematis termasuk secara ilegal.

Suharyanto pun menyebut bahwa urbanisasi dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dalam bentuk pembuangan asap kendaraan, pabrik dan lainnya, sehingga menjadikan kualitas udara tidak sehat.

Sementara, alih fungsi lahan, lanjut Suharyanto, menyebabkan pengurangan vegetasi yang menyebabkan berkurangannya kemampuan alam dalam menyerap karbon dan meningkatkan kerentanan banjir dan longsor karena air tidak terserap secara optimal.

Suharyanto menjelaskan bahwa dampak dari perubahan iklim dan peningkatan suhu global memicu tren kenaikan tinggi permukaan air laut.

Dirinya memaparkan catatan BNPB dalam tiga tahun terakhir, bencana banjir rob meningkat 46% dari 35 kali kejadian di 2020 menjadi 75 kejadian di 2022.

“Terjadi peningkatan frekuensi kejadian banjir dari laut (rob-red). Diperparah oleh kerusakan ekosistem pesisir,” ucapnya.

Selain hidrometeorologi basah, BNPB mengungkap bencana hidrometeorologi kering sudah mulai terjadi dibeberapa wilayah di Indonesia.

“Terjadi kenaikan frekuensi kejadian kebakaran hutan dari minggu ke minggu, sehingga beberapa daerah telah menetapkan status siaga darurat,” ungkap Suharyanto.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas lahan terdampak karhutla, khususnya lahan gambut, berbanding lurus dengan emisi karbon yang dilepaskan.

Pada tahun 2019, misalnya, dari 1.64 juta hektare lahan terbakar melepaskan 624 juta ton emisi karbon keudara.

“Ini semua menjadi menjadi tantangan kita bersama. Bagaimana fenomena global dan regional telah nyata berdampak pada peningkatan intensitas kejadian dan dampak bencana ditingkat lokal,” ujar Suharyanto.

Pemanasan global ini sendiri dipicu oleh peningkatan konsentrasi gas diatmosfer, terutama karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4).

CO2 naik menjadi 417 bagian per sejuta (ppm), yang merupakan level tertinggi dalam lebih dari 2 juta tahun. Senada, metana naik menjadi 1.894 ppm ketingkat yang tidak terlihat dalam 800 ribu tahun.

“Konsentrasi atmosfer terus meningkat tanpa ada tanda-tanda melambat,” kata Vincent-Henri Peuch, direktur Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus.

Dua gas itu dihasilkan dari pemakaian bahan bakar minyak (BBM), batu bara, hingga industri peternakan.(ADT)

Exit mobile version