Suaranusantara.com – Arsenal rela menggelontorkan dana lebih dari klausul rilis Martin Zubimendi demi mengamankan jasanya, dan kini alasan di balik keputusan tersebut mulai terungkap.
Langkah transfer Arsenal pada musim panas ini semakin menunjukkan keseriusan mereka utnuk melakoni laga-laga mendatang.
Klub asal London itu resmi mengumumkan kedatangan Martin Zubimendi dari Real Sociedad pada Minggu lalu dengan mahar mencapai £61 juta.
Jumlah ini bahkan lebih tinggi dari klausul pelepasan sang pemain yang sebenarnya hanya sebesar £52 juta.
Namun menurut laporan Daily Mail, dilansir Sport Mole, Arsenal sengaja membayar lebih mahal agar bisa mencicil biaya transfer tersebut, alih-alih membayar lunas secara langsung seperti yang diwajibkan jika mengaktifkan klausul rilis.
Strategi ini memungkinkan The Gunners tetap memiliki fleksibilitas finansial untuk mendatangkan pemain bintang lainnya sepanjang jendela transfer.
Arteta Akhirnya Dapatkan Sang Idaman
Pelatih Mikel Arteta tentu merasa puas karena berhasil memboyong gelandang asal Spanyol itu, terlebih sang pemain sebelumnya sempat menolak tawaran dari klub-klub besar seperti Liverpool.
Zubimendi dikenal sebagai pemain yang tenang dan rapi dalam menguasai bola, atribut yang sangat cocok untuk peran sebagai pengatur tempo permainan di lini tengah Arsenal.
Selama ini banyak yang mengira bahwa Declan Rice adalah gelandang bertahan utama Arsenal. Namun, Arteta justru lebih sering menempatkan pemain asal Inggris itu dalam peran sebagai gelandang box-to-box.
Dengan kehadiran Zubimendi, Rice kini bisa lebih leluasa bermain lebih ke depan tanpa dibebani tugas membangun serangan dari belakang, area di mana ia kadang kurang maksimal.
Pemain Tenang yang Bisa Bikin Lawan Frustrasi
Meski bukan pemain yang mengandalkan fisik atau kecepatan, Zubimendi tetap memiliki keunggulan dalam menjaga penguasaan bola dan menahan tekanan lawan.
Kemampuannya dalam mengontrol tempo serta ketenangan saat menghadapi pressing agresif membuatnya menjadi senjata strategis dalam skema permainan Arteta.
Dengan penguasaan bola yang konsisten, Arsenal berpotensi besar untuk mengurung lawan di wilayah pertahanannya sendiri, sekaligus meminimalisir risiko serangan balik.
Hal ini sejalan dengan gaya bermain dominatif yang coba diterapkan Arteta dalam beberapa musim terakhir.
