Suaranusantara.com – Praktisi Kesehatan Masyarakat sekaligus Kepala Seksi Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Tamansari, dr. Ngabila Salama, mengungkapkan bahwa kematian saat mengikuti lomba lari maraton tidak selalu disebabkan oleh serangan jantung.
Menurutnya, terdapat berbagai faktor medis yang dapat menyebabkan peserta kolaps hingga meninggal dunia saat berlari.
Salah satu penyebab yang paling sering terjadi adalah sudden cardiac arrest atau henti jantung mendadak. Kondisi ini bahkan bisa dialami oleh seseorang yang tampak sehat. Penyebabnya antara lain kelainan jantung bawaan, gangguan irama jantung, hingga penyakit jantung koroner yang tidak terdeteksi sebelumnya.
Selain itu, peserta maraton juga berisiko mengalami heat stroke atau serangan panas. Kondisi ini terjadi ketika suhu tubuh meningkat hingga di atas 40 derajat Celsius sehingga fungsi otak mulai terganggu. Gejalanya dapat berupa kebingungan, sempoyongan, sulit menjawab pertanyaan, hingga kehilangan kesadaran.
Penyebab lainnya adalah dehidrasi berat akibat kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar selama berlari. Namun sebaliknya, terlalu banyak mengonsumsi air putih tanpa diimbangi elektrolit juga berbahaya karena dapat memicu hiponatremia, yakni kondisi ketika kadar natrium dalam darah turun drastis. Kondisi ini dapat menyebabkan kejang hingga kematian.
Dr. Ngabila juga menyoroti risiko rabdomiolisis, yaitu kerusakan otot berat akibat aktivitas fisik yang berlebihan. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berujung pada gagal ginjal akut. Selain itu, stroke juga dapat terjadi meski kasusnya lebih jarang, terutama pada peserta yang memiliki faktor risiko tertentu.
Atas dasar itu, dr. Ngabila mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap maraton sebagai aktivitas rekreasi yang bisa dilakukan secara mendadak tanpa persiapan.
Menurutnya, masih banyak peserta yang mengikuti lomba karena tren di media sosial, namun tidak melakukan latihan dan persiapan fisik yang memadai.
“Banyak peserta mendaftar karena tren media sosial tetapi tidak melakukan persiapan yang memadai,” kata dr Ngabila di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Sebagai informasi, salah satu peserta BTN Jakarta Internasional Marathon 2026 bernama Agus Putranadi meninggal dunia setelah ambruk di KM 14.
Agus meninggal dunia usai mengikuti ajang lomba lari di Jakarta pada Minggu, (14/6/2026).
