
Jakarta – SuaraNusantara
Bupati Nias Barat Faduhusi Daely mengapresiasikan wacana pergantian nama Bandara Binaka menjadi nama seorang tokoh. Namun, dia berpesan pemilihan nama tokoh harus melalui musyawarah dan disepakati bersama.
“Sudah saatnya kita menghargai para tokoh-tokoh yang telah berjuang untuk Kepulauan Nias. Penghargaan yang diberikan kepada tokoh dengan memberi nama jalan, bandara atau pun tempat lainnya,” ujar Faduhusi saat diminta tanggapannya, Senin (27/03/2017).
Wacana pergantian nama Bandara Binaka menjadi nama seorang tokoh mendapat sambutan positif dari masyarakat. Sejumlah tokoh masyarakat mendukung proses pergantian nama Bandara Binaka segera dimulai.
Beberapa tokoh masyarakat Nias yang dihubungi SuaraNusantara menyatakan dukungannya. Mereka menyambut baik usulan pergantian nama Bandara Binaka menjadi nama tokoh. Salah satu tokoh yang mengerucut untuk diusulkan menggantikan nama Bandara Binaka adalah Dalihuku Mendrofa atau dikenal dengan nama Dalimend. Dalimend adalah tokoh yang menggagas pendirian Bandara Binaka.
“Saya merasa gembira dan mengapresiasi (usulan tersebut) karena kita orang Nias harus menghormati tokohnya yang telah berjasa, dapat dijadikan panutan dan dibanggakan oleh seluruh masyarakat, khususnya generasi muda Nias,” ujar Mayjen TNI (Purn) Christian Zebua.
Selama ini, ujarnya, Kepulauan Nias memiliki banyak tokoh tapi kita sendiri yang tidak pernah mentokohkan mereka. Akibatnya, generasi muda terinspirasi dengan tokoh daerah lain.
Christian pun mengusulkan nama Dalihuku Mendrofa sebagai nama bandara. “Saran saya karena ini nama bandara, maka kita hormati tokoh yang berjuang dan berjasa terhadap terealisasinya idaman seluruh masyarakat Nias untuk punya bandara sendiri, yaitu Bapak Dalimen,” katanya.
Senada dengan Christian, Kolonel Laut (S) Yulianus Zebua juga memilih Dalihuku Mendrofa untuk diabadikan sebagai nama bandara. “Dalimend lebih tepat. Saya berharap semua pihak bersama pemerintah daerah segera aksi. Jangan gagasan baik ini terlalu lama menjadi wacana. Saya mendukung sepenuhnya,” tegas pria yang saat ini menjabat Kepala Departemen Suplai Akademi Angkatan Laut (AAL).
Kolonel (Pnb) Historis Bu’ulölö saat dimintai komentarnya juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, Bandara Binaka dibangun atas prakarsa Bupati Dalimend, seorang Letkol (Purn) TNI AU.
“Beliau (Dalimend) berjuang di Kemhub RI yang saat itu (dipimpin) Menteri Perhubungan Rusmin Nuryadin. Perjuangan beliau berhasil dan dibangun (bandara) di daerah Binaka. Kalau tidak salah (diresmikannya) tahun 1977,” katanya.
Historis juga bercerita bahwa saat peresmian bandara tersebut, Bupati Dalimend memohon kepada TNI AU agar acara peresmian dimeriahkan dengan atraksi terjun payung, dan terwujud dengan terjunnya puluhan anggota Paskhas dari pesawat C-130 Hercules milik TNI AU. Itu adalah pertama kalinya ada atraksi terjun payung di Kepulauan Nias.
“Sehingga saran saya, nama tokoh yang lebih relevan sebagai pengganti Bandara Binaka adalah Bapak Letkol (Purn) Dalimend,” tutur Historis.
Sedangkan Laksamana Pertama TNI Enuar Mendrofa menilai, masuknya nama tokoh untuk dijadikan nama bandara merupakan bagian dari penghargaan dan penghormatan kepada pendahulu.
“Pada prinsipnya semua itu baik. Hanya selain nama tersebut, apa tidak ada nama-nama (tokoh) lain sebelum itu?” katanya.
Enuar Mendrofa menyarankan untuk meneliti lebih dulu sejarah/silsilah masyarakat Nias. Semua dirapatkan oleh pemerintah daerah dan diputuskan satu nama untuk diusulkan ke pemerintah pusat.
“Tentu dengan pertimbangan pemikiran-pemikiran beliau untuk Nias. Siapapun yang dimunculkan, kita dukung,” tegasnya.
Pendapat agak berbeda diberikan Kasianus Telaumbanua, SH, MH. Kasianus yang sehari-harinya menjabat Hakim di PN Jawa Barat ini lebih cenderung untuk merubah nama Bandara Binaka dengan nama obyek wisata yang menjadi andalan Kepulauan Nias.
“Saya setuju dan (nama tokoh untuk jadi nama bandara) layak untuk didukung. Jika tidak nama tokoh, mungkin dapat diusulkan nama objek wisata yang menjadi andalan daerah Nias, Atau nama gunung yang tertinggi dan tersohor di Nias. Apalagi program wisata daerah Nias sekarang ini mulai bangkit dan berkembang,” katanya.
Wacana pergantian nama Bandara Binaka muncul saat acara sambung rasa antara warga Nias di Jakarta dengan jajaran Pemko Gunungsitoli di Hotel Mega Pro, Jakarta Pusat pada Minggu (19/3/2017) . Adalah Ketua Umum HIMNI Marinus Gea yang mengusulkan supaya nama Bandara Binaka diganti menjadi nama tokoh masyarakat.
Penulis: Mario