Suaranusantara.com- Imbas dari kebijakan tarif timbal balik atau resiprokal yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu 2 April 2025 lalu membuat hampir keseluruhan bursa saham Asia mengalami terjun bebas.
Adapun Trump memberlakukan tarif resiprokal yang tinggi ke seluruh negara, termasuk Indonesia yang dikenakan sebesar 32 persen. Tarif Trump akan mulai diberlakukan pada 9 April 2025 mendatang.
Akibat kebijakan Trump itu maka berpotensi menimbulkan perang dagang. Dan dampaknya ekonomi global bakal ketar-ketir.
Salah satunya terhadap bursa saham Asia yang mengalami anjlok, dilihat pada Senin 7 April 2025 indeks acuan bursa saham Jepang, NIKKEI turun lebih dari 8% tak lama setelah dibuka. Rata-rata saham telah turun di bawah level 33.000 untuk pertama kalinya sejak Agustus 2024.
Lalu Indeks TOPIX yang lebih luas terakhir diperdagangkan lebih dari 7,5% lebih rendah, namun sempat pulih dari kerugian tertajamnya.
Kemudian indeks saham utama Korea Selatan, KOSPI jatuh lebih dari 4,8% tak lama setelah pembukaan. Bahkan, perdagangan sempat dihentikan selama lima menit untuk mencegah penjualan saham dalam jumlah besar oleh para investor.
Sementara itu, indeks TAIEX di Taiwan anjlok lebih dari 9,7% setelah pembukaan. Saham TSMC dan Foxconn yang paling besar turun hampir 10%. Dan perdagangan sempat dihentikan sementara.
Kemudian, di Australia, indeks acuan ASX 200 turun 6,3% dalam perdagangan pagi. Di sisi lain, indeks NZX 50 Selandia Baru turun lebih dari 3,5%.
Lalu bagaimana dengan perdagangan saham Indonesia?
Lantaran masih dalam momen libur Lebaran Idulfitri 1446 H maka belum dibuka. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dibuka kembali mulai besok pagi, Selasa 8 April 2025.
Jadi kita lihat pada besok pagi bagaimana situasi perdagangan saham Indonesia, berharap dalam kondisi baik.
