Suaranusantara.com- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu 2 April 2025 lalu resmi mengumumkan tarif timbal balik atau resiprokal yang berlaku ke seluruh negara dengan nilai yang berbeda di masing-masing negara.
Dari daftar tarif resiprokal Trump itu terlihat negara-negara banyak dikenakan nilai yang cukup besar. Salah satunya Indonesia yang dikenakan 32 persen.
Lalu negara lain yang dikenakan tarif Trump tinggi seperti Vietnam 46 persen, China 34 persen dan masih banyak lagi.
Akibat dari tarif tinggi tersebut, sebanyak lima puluh negara langsung melakukan lobi-lobi untuk negosiasi terhadap Trump.
Hal itu disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang mengatakan bahwa ada lebih dari 50 negara telah memulai negosiasi dengan AS sejak pengumuman tarif dilakukan pada Rabu lalu.
“Dia telah menciptakan pengaruh maksimum untuk dirinya sendiri,” kata Bessent dikutip dari Reuters, Senin 7 April 2025.
Trump pun membenarkan soal adanya negosiasi yang dilakukan oleh lebih dari lima puluh negara. Trump mengatakan negara lain harus membayar sejumlah ‘uang’ untuk mencabut tarif yang sangat tinggi.
Uang itu digambarkan Trump sebagai obat, yang bisa menahan pertumpahan darah lebih lanjut di pasar keuangan global.
Trump mengaku dirinya telah menerima lobi-lobi dari para pemimpin dari Eropa dan Asia selama akhir pekan untuk menurunkan tarif yang akan berlaku minggu ini.
Menurutnya, ketetapan tarif tak akan berubah kecuali negara-negara itu mau memberikan keseimbangan pada neraca dagangnya.
“Mereka datang ke meja perundingan. Mereka ingin berunding, tetapi tidak akan ada pembicaraan kecuali mereka membayar kita banyak uang setiap tahun,” kata Trump.
Di tengah kebijakan tarif fenomenal yang akan berlaku minggu ini, saham Asia membukukan kerugian tajam pada perdagangan awal hari Senin dan pasar saham berjangka AS juga dibuka turun tajam.
Para investor menyatakan kekhawatiran bahwa tarif Trump dapat menyebabkan harga yang lebih tinggi, permintaan yang lebih lemah, kepercayaan yang lebih rendah, dan kemungkinan resesi global.
Trump mengindikasikan bahwa dirinya tidak khawatir tentang kerugian yang telah menghapuskan nilai triliunan dari pasar saham di seluruh dunia.
Dia pun tetap keuhkeuh dengan kebijakannya itu untuk tetap memberlakukan tarif resiprokal yang terbaru.
“Saya tidak ingin ada yang turun. Namun terkadang Anda harus minum obat untuk memperbaiki sesuatu,” katanya saat kembali dari bermain golf di Florida.
Akibat tarif Trump itu, para pemimpin dunia sedang mencari strategi untuk menghadapi tarif tinggi yang dipatok Presiden AS.
Bahkan salah satu negara yakni China sudah menyatakan akan melawan tarif Trump. Pihaknha sudah menyiapkan pungutan balasan dan memicu kekhawatiran perang dagang global dan resesi.
Sementara itu beberapa negara lainnya mulai melobi Trump dengan menawarkan banyak hal untuk negosiasi termasuk Indonesia yang dikabarkan akan melakukan negosiasi.
Lalu Vietnam yang diketahui sudah melakukan teleponan dengan Trump bahkan akan segera menggelar pertemuan.


















Discussion about this post