Soal Selat Hormuz yang Rencana Ditutup Iran, Bahlil Was-was

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia angkat bicara soal rencana penutupan Selat Hormuz oleh Iran (instagram @sisiterang.official)

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia angkat bicara soal rencana penutupan Selat Hormuz oleh Iran (instagram @sisiterang.official)

Suaranusantara.com- Menteri Energi Sumber Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku was-was akan rencana penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Sebelumnya, rencana penutupan Selat Hormuz itu telah dibahas oleh Parlemen Iran pada Minggu 22 Juni 2025 lalu. Hal ini dikarenakan ketegangan perang Iran-Israel dan Amerika Serikat (AS).

Terlebih AS menyerang tiga pangkalan utama rudal Iran yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan.

“Parlemen telah mencapai kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup,” ujar Mayor Jenderal Esmaeli Kowsari Anggota Keamanan National di Parlemen Iran dalam keterangan, Minggu 22 Juni 2025.

Bahlil mengatakan sebagian besar kebutuhan minyak Indonesia masih dipenuhi lewat impor. Sementara itu, dunia sedang penuh ketidakpastian akibat perang di Timur Tengah.

Maka dari itu, jika benar ditutup maka ini bisa berdampak mengerikan bagi dunia.

“Di saat bersamaan, perang Iran, Israel, dan Amerika, itu Selat Hormuz sekarang sudah dalam kondisi yang mengerikan juga karena parlemen Iran sudah menyetujui untuk penutupan,” kata Bahlil pada Jakarta Geopolitical Forum 2025 Lemhanas RI d Jakarta, Selasa 24 Juni 2025.

Kata Bahlil, diketahui ada sebanyak 30 persen distribusi minyak dunia melewati Selat Hormuz. Dia mengaku tak bisa membayangkan dampak penutupan selat itu terhadap gejolak harga minyak dunia.

Dia berkata akan menggelar rapat dengan PT Pertamina (Persero) besok mengenai kondisi ini. Bahlil akan menyusun langkah-langkah memastikan ketersediaan energi di tengah perang Iran melawan Israel.

“Sebenarnya, impor kita itu banyak, itu juga dari Afrika, Amerika Latin, karena beberapa sumur-sumur minyak Pertamina ada di sana. Kemudian beberapa Timur Tengah,” ucap Bahlil.

Untuk rencana jangka panjang, Bahlil kembali menyampaikan peningkatan lifting minyak. Dia berkata hal itu perlu dilakukan agar Indonesia tidak terus bergantung pada minyak dan gas dari negara lain.

“Sekali lagi, saya katakan bahwa sekarang ini Pemerintah Indonesia atas arahan Bapak Presiden Prabowo, tidak ada cara lain apa pun kita lakukan untuk meningkatkan lifting. Memang ini pekerjaan berat, ini pekerjaan yang agak panjang, tapi harus kita lakukan,” ujarnya.

Exit mobile version