Suaranusantara.com – Lituania, sebuah negara anggota NATO yang berbatasan dengan Rusia, mengalami meningkatnya ketegangan akibat ancaman invasi Rusia ke Ukraina.
Untuk mengantisipasi kemungkinan serangan tersebut, Jerman bersedia mengirim sekitar 4.000 tentara ke Lituania secara permanen untuk memperkuat sayap timur NATO.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Jerman Christine Lambrecht dalam wawancara dengan grup media Funke pada Minggu (6 Februari 2022) dan di surat kabar pada Senin (7 Februari 2022).
Lambrecht mengatakan bahwa Jerman sudah memberikan kontribusi penting di Lituania dengan memimpin kelompok pertempuran NATO yang diperkuat sekitar 1.600 tentara.
“Jerman siap kirim lebih banyak pasukan ke Lituania sebagai bala bantuan dan kami dalam pembicaraan dengan Lituania saat ini untuk mencari tahu apa yang tentunya masuk akal dalam hal ini,” kata Lambrecht.
Lambrecht menambahkan bahwa Jerman juga telah memberikan bantuan senjata dan peralatan militer kepada Lituania, termasuk sistem pertahanan misil, alat untuk peperangan elektronik, kacamata penglihatan malam, radio digital, stasiun radar, dan ambulan militer.
Jerman juga telah mengerahkan sekitar 780 tentara Jerman ke Lituania selama enam tahun terakhir ini sebagai bagian dari kelompok tempur NATO yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
Kelompok tempur tersebut bertujuan untuk menghentikan serangan Rusia di wilayah Krimea dari Ukraina pada 2014.
Rusia telah membantah berencana untuk menyerang Ukraina tetapi memiliki puluhan ribu pasukan dekat perbatasan negara tetangganya itu. Kondisi itu mendorong Amerika Serikat mengerahkan sekitar 3.000 pasukan tambahan guna memperkuat sayap timur NATO di Polandia dan Rumania.
Pasukan pertama AS tiba pada Sabtu (5 Februari 2022) di pangkalan militer Rzeszow di Polandia tenggara. NATO sudah mengerahkan empat unit tempur multinasional dengan total 5.000 pasukan di Polandia, Lithuania, Latvia dan Estonia1.
Pasukan tersebut dikirim untuk merespon pencaplokan Rusia atas wilayah Krimea dari Ukraina pada 2014.
Apa yang disebut dengan kelompok tempur NATO ini dimaksudkan untuk menghentikan serangan di wilayah itu dan mengulur waktu bagi pasukan tambahan NATO untuk mencapai lini depan
