Lagi-lagi Roy Suryo Bikin Pernyataan Soal Ijazah Jokowi: Ada 2 yang Terbongkar

Roy Suryo kembali beri pernyataan soal polemik ijazah Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi (instagram @arysuyant0)

Roy Suryo kembali beri pernyataan soal polemik ijazah Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi (instagram @arysuyant0)

Suaranusantara.com- Pakar telematika sekaligus mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo kembali membuat pernyataan terkait polemik ijazah milik Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi.

Kata Roy Suryo ada dua yang terbongkar terkait polemik ijazah Jokowi.

Roy Suryo mulanya menyampaikan hal itu saat membandingkan terkait pemeriksaan dirinya dan Jokowi di Bareskrim Polri.

“Alhamdulillah, saat pemeriksaan saya sempat memperoleh award sebagai top speed, karena paling cepat. Hari ini saya kalah dengan Pak Jokowi, luar biasa. Saya waktu itu masuk jam 10 kemudian selesai jam 2, itu 26 pertanyaan. Ini ada 22 pertanyaan hanya dua jam saja,” ujar Roy dalam dialog Rakyat Bersuara pada Selasa 20 Mei 2025.

Dalam kesempatan dialog itu, Roy Suryo menyinggung soal reuni Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang digelar pada 2017 silam.

Dalam reuni tersebut kata Roy, Jokowi disebut disebut memperkenalkan sosok Kasmudjo sebagai dosen pembimbing skripsinya. Dia menyebut peristiwa tersebut difasilitasi Menko PMK Pratikno.

“Sudah lebih dari 8 tahun kita melihat pengakuan dari Pak Jokowi itu peristiwanya ada di reuni Fakultas Kehutanan pada Desember 2017. Dia mengundang Pak Kasmudjo, kemudian difasilitasi di sana oleh orang yang namanya Profesor Pratikno, Pak Menko, kemudian Kasmudjo diperkenalkan,” katanya.

Akan tetapi pernyataan Jokowi itu bertolak belakang dengan Kasmudjo yang mengaku hanya sebagai dosen pembimbing akademik.

“Malam kemarin, Pak Jokowi mendatangi Kasmudjo mungkin dapat hidayah, Saya bukan dosen pembimbing skripsi Pak Jokowi. Beliau juga mengatakan, Saya masih Asdos.”

Kata Roy, berdasarkan pengalamannya yang pernah menjadi asisten dosen (asdos), secara aturan yang namanya asdos dilarang untuk mengajar dan tidak berwenang untuk memberikan bimbingan akademik dan skripsi.

“Saya dulu pernah menjadi Asdos. Seorang Asdos tidak boleh sendiri mengajar atau menjadi pembimbing akademik, ngajar boleh kalau dosen utama berhalangan atau dia diperintah,” ujarnya.

Roy juga mengkritisi pernyataan Jokowi soal Indeks Prestasi (IP) semasa kuliah yang hanya 2,2.

“Pembimbing akademik itu bertanggung jawab sejak masuk dan menangani KRS, Kartu Rencana Studi. Kalau mahasiswa, KRS-nya kemarin IP mendapatkan misalnya 2 atau di bawah 2, itu gak boleh ngambil lebih 18 SKS. Kalau dia ngambil 15 per semester untuk menyelesaikan perkuliahan yang 148 sampai 154 SKS yang itu tidak mungkin selesai lima tahun,” ungkapnya.

Jadi Roy menyimpulkan ada dua yang terbongkar terkait polemik ijazah Jokowi.

“Ada dua yang terbongkar, jadi intinya gini ada dua yang terbongkar. Selesai lima tahun, masuk 1980, keluar 1985. Dibongkar dengan kata-kata sendiri ketika dia mengatakan IP-nya 2,2,” kata Roy.

“Kedua Pak Kasmudjo, sekali lagi luar biasa Pak Kasmudjo. Bahkan bukan dosen pembimbing skripsi dan masih sebagai Asdos. Artinya, Pak Kasmudjo bukan pembimbing akademik, clear,” sambungnya.

Exit mobile version