Djarot Bilang Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong Korban Ketidakadilan Hukum: Banyak Kasus Korupsi Segede Gajah Lewat

Djarot Saiful Hidayat selaku Ketua DPP PDI Perjuangan saat bicara soal vonis Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong (instagram @djarotsaifulhidayat)

Djarot Saiful Hidayat selaku Ketua DPP PDI Perjuangan saat bicara soal vonis Hasto Kristiyanto dan Tom Lembong (instagram @djarotsaifulhidayat)

Suaranusantara.com- Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat menyoroti soal vonis yang dijatuhkan terhadap Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan mantan Menteri Perdagangan periode 2015-2016 Thomas Trikosasih Lembong atau dikenal Tom Lembong.

Adapun Tom Lembong sebelumnya divonis 4,5 tahun penjara atas kasus impor gula. Sementara, Hasto Kristiyanto divonis 3,5 tahun penjara lantaran disebut oleh Majelis Hakim Rios Rahmanto terbukti melakukan suap pergantian antarwaktu (PAW) Harun Masiku.

Kata Djarot, Hasto dan Tom Lembong merupakan korban ketidakadilan hukum lantaran dinilai tak sejalan dengan kekuasaan saat ini.

Hasto dan Tom Lembong, keduanya dicari-cari kesalahan sampai berhasil dijebloskan ke dalam penjara.

“Yang mengkritik, yang berbeda dikriminalkan, cari-cari salahnya sampai ketemu. Masukkan penjara. Kemarin terjadi kasus Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto, dicari-cari sampai ketemu (kesalahannya), dimasukkan penjara,” kata Djarot Saiful Hidayat, dalam acara bincang-bincang bertajuk ‘27 Juli 1996 Sebagai Tonggak Demokrasi Indonesia’, di DPP PDIP, Menteng, Minggu 27 Juli 2025.

Djarot berujar banyak kasus korupsi besar yang merugikan negara sampai triliunan rupiah namun lewat begitu saja.

“Kasus yang besar seperti kasus minyak goreng lewat, kasus pesawat jet lewat, kasus korupsi infrastruktur di Sumatera Utara lewat, kasus blok Medan banyak banget kasus yang segede-gede gajah seperti itu. Kasus korupsi segede gajah lewat,” ungkap Djarot.

Djarot pun mengumpamakan seperti pepatah bahwa kasus korupsi besar bagai gajah yang berada di pelupuk mata namun tak terlihat.

“Seperti pepatah, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, kutu di seberang pulau kelihatan,” sambung Djarot.

Menurut Djarot, penggunaan cara intimidasi untuk mencapai kekuasaan tak bisa dibenarkan. Terlebih, ujar dia pihak yang oposisi dengan penguasa ditekan dengan cara merekayasa konstitusi.

“Orang ingin kaya boleh, tapi cara untuk memperoleh kekuasaan harus benar, jangan sampai memperoleh kekuasaan dengan cara yang menyimpang apalagi dengan merekayasa konstitusi, apalagi dengan menekan dan mengintimidasi siapapun yang tidak setuju dengan penguasa saat ini,” kata dia.

Exit mobile version